Midnight Sun halaman 12
Bab 12
Kesulitan
Kami berdua berjalan bersama-sama menuju kelas Biologi. Aku berusaha fokus pada momen ini, pada gadis di sampingku, pada apa yang nyata dan solid, pada apapun yang bisa menjauhkan dari penglihatan palsunya Alice.
Kami meleweati Angela Weber, yang sedang berlama-lama di lorong. Dia sedang mendiskusikan sebuah tugas bersama dengan seorang cowok dari kelas trigono. Aku cuma mengamati pikirannya sekilas, mengira akan kecewa lagi, namun aku justru kaget karena mendapati nuansanya yang sayu.
Ah, ternyata ada juga yang Angela inginkan. Sayangnya, itu bukan sesuatu yang bisa dibungkus dan dikirim dengan mudah.
Aku jadi merasa lebih tenang setelah mendengar kerinduan terpendam Angela. Aku bisa mengerti keputus-asaan dia. Dan saat itu juga aku merasa senasib dengannya.
Walau aneh, aku merasa terhibur karena tahu aku bukan satu-satunya yang mengalami kisah cinta yang tragis. Patah hati ada dimana-mana.
Detik berikutnya aku jadi marah. Tidak seharusnya kisah Angela berakhir tragis. Dia manusia, pujaannya juga manusia. Dan perbedaan mereka yang menurut dia tidak bisa ditanggulangi adalah konyol. Benar-benar konyol jika dibandingkan dengan situasiku. Patah hatinya tidak beralasan. Kesedihan yang sia-sia, tidak ada alasan bagi dia untuk tidak bisa bersama orang yang ia inginkan. Kenapa dia tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan? Kenapa kisah cintanya tidak bisa berakhir bahagia?
Aku sudah berniat memberinya hadiah… Well, aku akan memberi dia apa yang dia inginkan. Dengan kemampuan alamiku, mungkin itu tidak akan terlalu sulit.
Aku ganti mengamati pikiran cowok disampingnya, pemuda dambaannya. Dan sepertinya anak itu bukannya tidak tertarik, hanya saja dia juga terkendala oleh kesulitan yang sama dengan Angela. Tidak punya harapan dan sudah menyerah duluan.
Yang perlu kulakukan cuma merencanakan sesuatu untuk mendorong mereka…
Rencana itu pun langsung terbentuk dengan mudah, naskahnya tersusun begitu saja. Aku butuh bantuan Emmet—membujuknya untuk mau terlibat adalah satu-satunya kesulitan. Sifat manusia jauh lebih mudah untuk dimanipulasi ketimbang vampir.
Aku puas dengan rencanaku, dengan hadiahku untuk Angela. Itu pengalihan yang menyenangkan dari masalahku sendiri. Seandainya saja masalahku bisa diatasi semudah itu.
Moodku sedikit lebih baik saat aku dan Bella duduk di tempat kami. Mungkin sebaiknya aku lebih optimis. Mungkin di luar sana ada solusi yang terlewatkan olehku, sama seperti solusi sederhana Angela yang tidak terlihat olehnya. Mungkin tidak terlalu mirip…tapi kenapa mesti membuang-buang waktu dengan berputus asa? Aku tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan jika menyangkut tentang Bella. Setiap detik berharga.
Mr. Banner masuk sambil menarik meja beroda yang diatasnya terdapat TV dan VCR kuno. Dia melompati satu bab pelajaran yang menurut dia tidak menarik—kelainan genetis— dengan memutar film selama tiga hari kedepan. Lorenzo’s Oil bukan film yang terlalu riang, tapi itu tidak mengendurkan semangat seisi kelas. Tidak ada catatan, tidak ada bahan tes. Tiga hari bebas. Kesukaan manusia.
Bagiku sendiri tidak terlalu penting. Aku tidak berencana memperhatikan apapun selain Bella.
Hari ini aku tidak menarik kursiku menjauh. Biasanya aku melakukannya untuk memberi ruang buat bernapas. Sebagai gantinya, aku duduk di dekatnya seperti yang dilakukan manusia normal. Lebih dekat dari saat duduk di mobil, cukup dekat hingga sisi kiri tubuhku terbenam ke dalam kehangatan dari kulitnya.
Itu pengalaman yang ganjil, menyenangkan sekaligus mendebarkan, tapi aku lebih menyukai ini ketimbang duduk di sebrang meja seperti di kafetaria. Ini melebihi dari yang biasa kudapat, namun tetap saja aku langsung menyadari bahwa ini masih belum cukup. Aku belum puas. Berada sedekat ini dengannya hanya membuatku ingin berada lebih dekat lagi.
Aku telah menuduhnya sebagai magnet bagi marabahaya. Saat ini terasa seperti itulah arti harfiahnya. Aku adalah bahaya, dan, dengan setiap inci lebih dekat dengannya, daya tariknya jadi semakin kuat.
Kemudian Mr. Banner mematikan lampu.
Rasanya aneh bagaimana itu membuat situasinya jadi lain, padahal kegelapan tidak terlalu berdampak buat mataku. Aku masih bisa melihat seterang dan sejelas seperti sebelumnya. Setiap detil dalam ruangan ini terlihat sangat jelas.
Jadi, kenapa mendadak muncul aliran listrik yang menyengat tubuhku? Apakah karena aku tahu cuma aku satu-satunya yang masih bisa melihat dengan jelas? Bahwa Bella dan aku tidak terlihat oleh orang lain? Seperti kami sedang sendirian, hanya berdua saja, tersembunyi di kegelapan, duduk bersebelahan begitu dekat…
Tahu-tahu tanganku sudah bergerak ke arahnya tanpa bisa kukendalikan. Hanya untuk menyentuh tangannya, untuk menggenggamnya di tengah kegelapan. Apa itu bisa jadi kesalahan yang mengerikan? Jika kulit dinginku mengganggu, dia cuma tinggal menarik tangannya…
Kutarik tanganku lagi, kudekap lenganku rapat-rapat di dada, dan mengepalkan tangan. Tidak boleh ada kesalahan. Aku sudah berjanji dengan diriku untuk tidak membuat kesalahan, tidak peduli seberapa kecil kelihatannya. Jika aku memegang tangannya, aku hanya akan meminta lebih lagi—sentuhan lain yang tidak berdasar, gerakan lain yang lebih dekat. Aku bisa merasakan itu. Jenis hasrat yang baru, berkembang di dalam diriku, berusaha menembus pengendalianku.
Tidak boleh ada kesalahan.
Bella juga mendekap lengannya di dada. Tangannya juga terkepal.
Apa yang kau pikirkan? Aku sangat ingin membisikkan kata-kata itu, tapi ruangannya terlalu sunyi untuk menyamarkan bisikan sekalipun.
Filmnya dimulai, memberi tambahan penerangan sedikit. Bella melirik. Dia menyadari kekakuan posisi badanku—seperti badannya—dan tersenyum. Bibirnya sedikit merekah, dan matanya terlihat hangat mengundang.
Atau, barangkali aku melihat apa yang ingin kulihat.
Aku tersenyum balik; dia seperti kehabisan napas dan buru-buru berpaling.
Itu membuatnya lebih buruk. Aku tidak tahu pikirannya, tapi aku jadi yakin dugaanku tepat, bahwa dia ingin aku menyentuhnya. Dia merasakan hasrat berbahaya ini sama seperti diriku.
Aliran listrik mengalir diantara badanku dan dia.
Selama sisa pelajaran dia tidak bergerak sama sekali, terus mendekap lengannya rapat rapat, sama seperti aku juga terus mendekap lenganku. Sesekali dia melirik, dan segera saja
aliran listrik yang lebih kuat menyambarku.
Satu jam berlalu lambat. Ini pengalaman baru. Aku tidak keberatan duduk begini terus selama berhari-hari hanya untuk menikmati sensasi ini sepenuhnya.
Bermacam pikiran berkecamuk dalam kepalaku selama menit demi menit berlalu. Rasionalitasku bergumul dengan hasratku sementara aku berusaha mencari pembenaran untuk bisa menyentuhnya.
Akhirnya Mr. Banner menyalakan lampu lagi.
Dalam terang, atmosfer ruangan kembali normal. Bella menghela napas dan melepaskan dekapannya, kemudian melemaskan jemarinya. Pasti tidak nyaman buat dia bertahan di posisi itu selama tadi. Sebaliknya buatku sangat mudah—diam mematung sudah jadi sifat alamiku.
Aku tertawa geli melihat ekspresi lega di wajahnya. “Well, tadi itu menarik.”
“Hmmm,” gumamnya. Jelas dia mengerti apa yang kumaksud, tapi tidak berkomentar. Itu jadi membuatku tidak bisa mendengar apa yang sedang dipikirkan dia saat ini.
Aku menghela napas. Berharap seperti apapun tetap tidak akan membantu.
“Yuk?” ajakku sambil berdiri.
Dia mengerutkan muka dan bangkit dengan agak terhuyung, tangannya mencari-cari pegangan supaya tidak jatuh.
Aku bisa menawarkan tanganku. Atau aku bisa memegangi sikunya hingga dia bisa berdiri seimbang. Tentu itu bukan pelanggaran yang terlalu berat…
Tidak boleh ada kesalahan.
Dia sangat pendiam saat kami berjalan ke ruang gimnasium. Kerut diantara matanya jadi bukti bahwa dia sedang berpikir keras. Aku sendiri juga sedang bepikir keras.
Satu sentuhan saja tidak akan menyakiti dia. Sisi egoisku masih saja bersikeras.
Aku bisa dengan mudah mengatur tekanan sentuhanku. Itu sama sekali tidak sulit, selama aku bisa mengendalikan diriku sepenuhnya. Indera perabaku jauh lebih sensitif dibanding manusia; aku bisa berjuggling dengan selusin gelas kristal tanpa memecahkan gelas-gelas itu; aku bisa memegang gelembung sabun tanpa memecahkannya. Selama aku bisa mengendalikan diriku…
Bella seperti gelembung sabun—rapuh dan tidak abadi.
Sampai berapa lama lagi aku bisa membenarkan kehadiranku dalam hidupnya? Berapa banyak waktu yang kupunya? Akankah ada kesempatan lain seperti kesempatan ini, seperti saat ini, seperti detik ini?
Bella tidak selalu bisa berada dalam jangkauan tanganku seperti ini…
Sesampainya di depan ruang gimnasium, dia berbalik menghadapku. Matanya melebar saat melihat ekspresi wajahku. Dia tidak bicara. Kuamati bayangan diriku yang terpantul di matanya, dan melihat pergumulan dalam diriku. Aku menyaksikan bagaimana wajahku berubah saat sisi baikku kalah dalam peperangan itu.
Dan tanganku sudah terangkat begitu saja. Lembut seakan dia terbuat dari kaca yang paling tipis, seakan dia serapuh gelembung sabun, jari-jariku membelai kulit pipinya yang hangat. Dibawah sentuhanku, pipinya jadi memanas, dan bisa kurasakan denyut darahnya semakin cepat dibalik kulitnya yang bening.
Cukup, perintahku, meski tanganku masih ingin meneruskan belaiannya ke sisi wajahnya yang lain. Cukup.
Rasanya sulit untuk menarik tanganku, untuk menghentikan diriku agar tidak lebih mendekat lagi ke dia. Tapi aku berhasil melakukannya.
Dan dalam sekejapan itu beribu pilihan yang berbeda berkecamuk dalam pikiranku— beribu pilihan cara untuk menyentuhnya. Ujung jariku menelusuri bentuk bibirnya. Telapak tanganku mengusap dagunya. Mengambil sejumput rambutnya dengan tanganku. Lenganku melingkari pinggangnya, merangkulnya dalam dekapanku.
Cukup.
Aku memaksa diriku untuk berbalik, untuk menjauh darinya. Badanku bergerak kaku— ingin menolak.
Kubiarkan pikiranku tertinggal di belakang untuk mengawasi Bella saat aku berlalu menjauh, hampir lari untuk menghindari godaannya. Aku menangkap pikiran Mike Newton —itu yang paling berisik—sementara dia menyaksikan Bella berjalan linglung melewatinya. Mata Bella tidak fokus dan pipinya merah. Mike mendelik, dan tiba-tiba namaku bercampur dengan sumpah serapah di kepalanya; aku tidak tahan untuk tidak menyeringai menanggapi itu.
Tanganku masih seperti tersengat listrik. Aku melemaskan dan mengepalkan, tapi tetap saja sengatan itu tetap ada.
Tidak, aku tidak menyakiti dia—tapi menyentuhnya tetap sebuah kesalahan.
Rasanya seperti api—seperti haus yang biasanya membakar tenggorokanku telah menyebar ke sekujur tubuh.
Lain kali, saat berada di dekatnya, mampukah aku mengendalikan diri untuk tidak menyentuhnya lagi? Dan jika sudah menyentuhnya satu kali, sanggupkah aku berhenti sampai disitu saja?
Tidak boleh ada kesalahan lagi. Titik. Nikmati saja kenangannya, Edward, aku memberitahu diriku dengan muram, dan jaga tanganmu untuk dirimu sendiri. Pilihannya itu, atau aku harus memaksa diriku untuk pergi…entah bagaimana caranya. Karena aku tidak boleh berada di dekatnya jika terus-terusan membuat kesalahan.
Aku mengambil napas panjang dan menenangkan pikiran.
Aku bertemu Emmet di depan kelas bahasa Spanyol.
“Hai, Edward.” Dia terlihat lebih baik. Aneh, tapi lebih baik. Bahagia.
“Hai, Em.” Apa aku terlihat bahagia? Sepertinya begitu, terlepas dari kekacauan di dalam kepalaku, aku merasa begitu.
Sebaiknya kau hati-hati, Nak. Rosalie ingin merobek mulutmu.
Aku mendesah. “Sori aku membuatmu harus menghadapi kemarahannya. Apa kau marah denganku?”
“Tidak. Lama-lama Rose juga akan lupa. Biar bagaimanapun memang sudah seharusnya itu terjadi.” Dengan apa yang dilihat Alice bakal terjadi…
Mengingat penglihatan Alice bukan sesuatu yang kubutuhkan saat ini. Aku memandang lurus kedepan, gigiku terkunci rapat.
Saat sedang mencari pengalih perhatian, Ben Cheney masuk ke kelas mendahului kami. Ah—ini kesempatanku untuk memberi hadiah ke Angela Weber.
Aku berhenti dan menangkap lengan Emmet. “Tunggu sebentar.”
Ada apa?
“Aku tahu aku tidak pantas mendapatkannya, tapi maukah kau menolongku?”
“Menolong bagaimana?” tanyanya penasaran.
Di bawah napasku—dan dengan kecepatan yanag tidak mungkin diikuti pendengaran manusia, tidak peduli seberapa keras kata-kata itu diucapkan—kujelaskan padanya apa yang kumau.
Dia melongo. Pikirannya sama kosongnya dengan wajahnya.
“Jadi?” bisikku. “Kamu mau membantuku?”
Butuh semenit buatnya untuk merespon. “Tapi, kenapa?”
“Ayolah, Emmet. Kenapa tidak?”
Siapa kau dan apa yang kau lakukan terhadap saudaraku?
“Bukankah kau selalu mengeluh bahwa sekolah selalu saja membosankan? Ini sesuatu yang berbeda, kan? Anggap saja ini sebagai eksperimen—eksperimen terhadap sifat dasar manusia.”
Dia memandangku sebentar sebelum menyerah. “Well, ini memang berbeda, kuakui itu… Baiklah kalau begitu.” Emmet mendengus lalu mengangkat bahu. “Aku akan membantumu.”
Aku tersenyum padanya. Kini aku jadi lebih bersemangat dengan rencanaku setelah Emmet setuju untuk terlibat. Rosalie memang selalu menjengkelkan, tapi aku akan selalu berhutang padanya karena telah memilih Emmetl; tidak ada yang memiliki saudara lebih baik ketimbang diriku.
Emmet tidak butuh latihan. Aku membisikkan sekali lagi baris-baris skenario miliknya pada saat kami masuk ke dalam kelas.
Ben sudah duduk di belakangku. Dia sedang mencari-cari tugasnya untuk dikumpulkan. Emmet dan aku duduk dan melakukan hal yang sama. Kelas masih belum sepenuhnnya tenang; gumaman orang-orang yang saling ngobrol tidak akan berhenti sampai Mrs. Goff menyuruh mereka diam. Dia sendiri tidak buru-buru, dia sedang memberi nilai tes kelas sebelumnya.
“Jadi,” ujar Emmet dengan suara lebih keras dari yang dibutuhkan—jika dia memang berniat bicara hanya padaku. “Apa kau sudah mengajak Angela Weber kencan?”
Suara kesibukan di belakangku tiba-tiba terhenti, perhatian Ben terpaku pada pembicaraanku dan Emmet.
Angela? Mereka sedang membicarakan Angela?
Bagus. Aku berhasil menarik perhatiannya.
“Belum,” jawabku sambil menggeleng agar terlihat menyesal.
“Kenapa belum?” Emmet berimprovisasi, “Apa kau takut?”
Aku meringis padanya. “Bukan karena itu. Kudengar dia tertarik dengan orang lain.”
Edward Cullen ingin mengajak Angela kencan? Tapi… Tidak. Aku tidak suka itu. Aku tidak mau dia dekat-dekat Angela. Dia…tidak pantas untuk Angela. Tidak…aman.
Aku tidak menduga yang muncul adalah insting untuk melindungi. Yang kurencanakan adalah cemburu. Tapi apapun itu sama saja.
“Kau membiarkan itu menghentikanmu?” tanya Emmet mengejek, berimprovisasi lagi. “Kau tidak mau bersaing?”
Aku mendelik padanya, “Bukan begitu. Kurasa dia sudah terlanjur suka dengan seorang bocah bernama Ben, salah satu dari teman-temannya. Aku tidak mau berusaha meyakinkan dia yang sebaliknya. Masih ada gadis-gadis lain.”
Reaksi di belakangku menggemparkan.
“Ben siapa?” tanya Emmet, kembali ke naskahnya.
“Kalau tidak salah pasangan labku bilang namanya Ben Cheney. Aku tidak tahu pasti yang mana orangnya.”
Aku menahan senyumku. Hanya keluarga Cullen yang sombong yang bisa lolos saat pura-pura tidak kenal setiap murid di sekolahan yang kecil ini.
Pikiran Ben berkecamuk tidak karuan. Aku? Daripada Edward Cullen? Tapi kenapa dia bisa suka denganku?
“Edward,” Emmet berbisik dengan suara rendah, melirik ke bocah di belakangku. “Dia tepat di belakangmu,” mimiknya dibuat sedemikian rupa hingga si Ben bisa dengan mudah membaca kata-katanya.
“Oh.”
Aku berbalik ke belakang dan mendelik ke bocah itu. Untuk sesaat, tatapan di balik kacamata itu ketakutan, tapi kemudian dia menegakkan pundaknya, merasa tersinggung karena diremehkan. Mukanya memerah karena marah.
“Huh,” dengusku sombong kemudian kembali menoleh ke Emmet.
Dia pikir dia lebih baik dariku. Tapi Angela tidak berpikir begitu. Akan kubuktikan ke orang sombong ini…
Sempurna.
“Tapi, bukannya katamu Angela mengajak si Yorkie ke pesta dansa nanti?” tanya Emmet sambil mendengus ketika menyebut nama bocah yang sering ia cemooh karena kecanggungannya.
“Nampaknya itu keputusan dia bersama teman-teman perempuannya.” Aku ingin meyakinkan bahwa Ben betul-betul mengerti tentang hal ini. “Angela itu pemalu. Jika B— well, jika seorang laki-laki tidak punya nyali untuk mengajaknya kencan, Angela tidak akan pernah mengajaknya.”
“Kau sendiri suka dengan gadis yang pemalu.” Emmet kembali berimprovisasi. Gadis yang pemalu. Gadis seperti…hmm, aku tidak tahu. Mungkin Bella Swan?
Aku menyeringai padanya. “Tepat.” kemudian aku kembali ke pertunjukkan ini. “Mungkin Angela akan capek menunggu. Mungkin aku akan mengajaknya ke pesta prom.”
Tidak, kau tidak akan. Batin Ben sambil menegakkan duduknya. Memang kenapa kalau dia lebih tinggi dariku? Jika dia sendiri tidak peduli, begitu pula aku. Angela adalah orang yang paling baik, paling cerdas, dan paling cantik di sekolahan ini…dan dia menginginkan aku.
Aku suka dengan Ben. Kelihatannya dia cerdas dan baik hati. Cukup pantas untuk perempuan seperti Angela.
Aku mengacungkan ibu jari ke Emmet dari bawah meja. Dan saat bersamaan Mrs. Goff berdiri, mengucapkan salam ke kelas.
Oke, kuakui—tadi itu menyenangkan, batin Emmet.
Aku tersenyum sendiri, senang telah berhasil membuat satu kisah cinta berakhir bahagia. Aku sangat yakin Ben akan melanjutkan niatnya, dan Angela akan menerima hadiahku. Hutangku telah lunas.
Betapa menggelikannya manusia, menjadikan perbedaan tinggi enam inci mengacaukan kebahagiaan mereka.
Kesuksesan rencana tadi mengembalikan suasana hatiku jadi baik. Aku tersenyum lagi seraya duduk lebih nyaman, siap-siap untuk terhibur. Bagaimanapun, seperti yang Bella katakan, aku belum pernah melihat dia di kelas olahraga.
Pikiran Mike lebih mudah ditemui diantara dengungan suara-suara disana. Pikirannya jadi terlalu familiar selama satu minggu ini. Dengan mengeluh aku mengalah untuk mendengarkan lewat dia. Paling tidak aku tahu dia akan memperhatikan Bella.
Aku mendengarkan tepat saat dia menawarkan diri jadi pasangan badminton Bella; saat bersamaan, bentuk berpasangan yang lain terlintas di kepala Mike. Senyumku lenyap, gigiku terkatup erat, dan aku mesti mengingatkan diriku bahwa membunuh Mike Newton bukan sesuatu yang bisa dimaafkan.
“Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu melakukannya.”
“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu.”
Mereka saling senyum satu sama lain. Dan di kepala Mike berkelebatan berbagai insiden sebelumnya di kelas olahraga—selalu saja dengan berbagai cara berhubungan dengan Bella.
Awalnya Mike bermain sendirian, Bella cuma berdiri enggan di belakang lapangan, memegangi raketnya hati-hati seakan itu senjata. Kemudian Coach Clapp menyuruh Mike memberi Bella kesempatan main.
Oh, aduh, batin Mike saat Bella melangkah maju sambil mengeluh. Dia memegang raketnya dengan canggung.
Jennifer Ford sengaja mengarahkan servis langsung ke Bella. Mike melihat Bella maju menghadang tapi ayunan raketnya jauh dari sasaran. Mike pun buru-buru mengejar koknya.
Pada saat itu aku melihat arah ayunan raket Bella dengan ngeri. Dan benar saja, raketnya mengenai ujung atas net dan memantul kembali ke dia, memukul keningnya sebelum kemudian terpelintir dan mengenai bahu Mike dengan suara keras.
Ow. Ow. Aduh. Itu pasti akan meninggalkan bekas.
Bella mengelus-elus keningnya. Rasanya sulit untuk tetap tinggal di tempatku, mengetahui dia terluka. Tapi apa yang bisa kulakukan jika disana? Dan kelihatannya tidak terlalu serius… Aku menahan diri dan tetap mengawasi saja. Jika dia berniat untuk tetap melanjutkan, aku akan mencari alasan untuk mengeluarkan dia dari kelas.
Coach Clapp tertawa. “Sori, Newton.” Gadis itu adalah orang paling ceroboh yang pernah kulihat. Sebaiknya tidak perlu membuat yang lain jadi korbannya.
Dia sengaja memunggungi Mike dan Bella, ganti mengawasi pertandingan lain supaya Bella bisa kembali jadi penonton saja.
Aduh, batin Mike lagi sambil memijat-mijat tangannya. Dia menoleh ke Bella. “Apa kau tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, kau sendiri?” tanyanya malu, mukanya merah.
“Kurasa aku baik-baik saja.” Jangan sampai kedengaran seperti anak cengeng. Tapi ya ampun, ini sakit!
Mike mengayun-ngayunkan tangannya sambil meringis.
“Aku akan tinggal di belakang sini saja.” Bella terlihat malu daripada sakit. Mungkin Mike yang kena pukul lebih keras. Aku jelas berharap itu yang terjadi. Paling tidak Bella tidak ikut main lagi. Dia memegang raketnya sangat hati-hati di belakang punggung, matanya melebar menyesal… Aku menyamarkan tawaku sebagai batuk.
Apa yang lucu? Emmet ingin tahu.
“Nanti saja,” gumamku.
Bella tidak ikut main lagi. Coach Clapp mengabaikan dia dan membiarkan Mike bermain sendirian.
Di penghujung jam, aku sudah menyelesaikan tesnya dengan mudah. Dan Mrs. Goff mengizinkanku keluar lebih awal. Aku mendengarkan pikiran Mike lekat-lekat selama berjalan melintasi halaman sekolah. Dia memutuskan untuk menanyakan Bella tentang aku.
Jessica bersumpah mereka berkencan. Kenapa? Kenapa Edward harus memilih Bella?
Dia tidak menyadari kejadian yang sebenarnya—bahwa Bellalah yang memilih aku.
“Jadi.”
“Jadi apa?” tanya Bella bingung.
“Kau jalan dengan Cullen, heh?” Kau dengan si aneh itu. Kurasa, jika orang kaya sebegitu pentingnya buatmu…
Aku menggertakan gigi mendengar asumsinya yang merendahkan itu.
“Itu bukan urusanmu, Mike.”
Defensif. Jadi itu betul. Sial. “Aku tidak suka.”
“Memang tidak perlu,” sergah Bella marah.
Kenapa Bella tidak melihat betapa anehnya si Cullen itu? Mereka semuanya aneh. Melihat bagaimana cara dia memandang Bella membuatku merinding. “Caranya memandangmu… seolah ingin memakanmu.”
Aku ngeri menunggu respon Bella.
Mukanya merah padam, dia menekan bibirnya seakan sedang menahan napas.Kemudian, tiba-tiba keluar suara tawa dari mulutnya.
Sekarang dia menertawakan aku. Sial.
Mike memutar badan, dan pergi ke ruang ganti, pikirannya sunyi.
Aku bersandar ke tembok ruang gimnasium sambil berusaha mengendalikan diri.
Bagaimana bisa dia menertawakan tuduhan Mike—begitu tepat sasaran hingga membuatku khawatir jangan-jangan penduduk Forks sudah jadi terlalu sadar… kenapa dia tertawa pada tebakan bahwa aku mau membunuhnya, ketika dia tahu itu sepenuhnya tepat? Apanya yang lucu dari itu?
Ada apa dengan dia?
Apa dia punya selera humor yang gelap? Itu tidak cocok dengan karakternya, tapi bagaimana aku bisa yakin? Atau mungkin lamunanku tentang malaikat sembrono itu ada betulnya, paling tidak di satu sisi, bahwa Bella tidak punya rasa takut sama sekali. Pemberani —itu istilah umumnya. Yang lain mungkin akan bilang dia itu bodoh, tapi aku tahu bagaimana cerdasnya dia. Namun, apapun alasannya, ketidak kenal takutan dia dan keanehan selera humornya itu, tidak baik untuk dirinya. Apakah hal itu yang membuat dia selalu berada dalam bahaya? Mungkin dia akan selalu membutuhkan kehadiranku disampingnya…
Begitu saja, dan seketika suasana hatiku sudah membumbung tinggi.
Jika aku bisa mendisiplinkan diri, membuat diriku tetap aman, maka mungkin aku bisa tetap berada disampingnya.
Ketika dia berjalan menuju pintu, pundaknya terlihat kaku dan dia sedang menggigit bibirnya lagi—tanda gelisah. Tapi begitu matanya menatapku, pundaknya yang kaku langsung rileks dan senyum mengembang di wajahnya. Ekspresinya sangat damai. Dia berjalan ke arahku tanpa ragu-ragu, hanya berhenti ketika dia sudah begitu dekat hingga kehangatan badannya menyapuku seperti gelombang.
“Hai,” bisiknya.
Kebahagaiaan yang kurasakan saat ini, lagi, tidak ada bandingannya.
“Halo,” sapaku, lalu—karena moodku yang tiba-tiba jadi begitu enteng, aku tidak tahan untuk tidak menggodanya—aku menambahkan, “bagaimana kelas olahragamu?”
Senyumnya bimbang. “Baik-baik saja.”
Dia tidak pandai berbohong.
“Benarkah?” aku sudah akan melanjutkan pertanyaanku—aku masih mengkhawatirkan kepalanya; apa masih sakit?—tapi kemudian pikiran ribut Mike Newton memecah konsentrasiku.
Aku benci dia. Kuharap dia mati. Semoga mobil mewahnya terjun ke jurang. Kenapa dia harus menganggu Bella segala? Kenapa dia tidak bergaul saja dengan kaumnya sendiri —kaum orang-orang aneh.
“Apa?” desak Bella.
Mataku kembali fokus ke Bella. Dia melihat ke Mike yang memunggungi kami pergi, kemudian ke aku lagi.
“Newton membuatku kesal,” akuku.
Dia terperanjat, dan senyumnya lenyap. Dia pasti lupa aku punya kemampuan untuk mengawasi semua kekikukan dia selama satu jam tadi, atau berharap aku tidak menggunakannya. “Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?”
“Bagaimana kepalamu?”
“Kau ini bukan main!” desisnya kesal, lalu pergi meninggalkanku, berjalan cepat-cepat ke parkiran. Mukanya merah padam—dia malu.
Aku megejarnya, berharap kemarahannya segera reda. Biasanya dia cepat memaafkan.
“Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di kelas olahraga—aku jadi penasaran.”
Dia tidak menjawab. Dia masih tampak kesal.
Sesampainya di parkiran mendadak dia berhenti saat menyadari jalan menuju mobilku terhalangi oleh kerumunan cowok.
Kira-kira seberapa cepat mobil ini di jalan bebas hambatan…
Coba lihat pedal gas SMGnya itu. Aku belum pernah melihatnya selain di majalah…
Peleknya keren…
Tentu saja, kuharap aku punya enampuluh ribu dolar di kantongku…
Inilah sebabnya kenapa Rosalie sebaiknya hanya menggunakan mobilnya saat keluar kota saja.
Aku menyelinap diantara mereka menuju mobilku; setelah bimbang sejenak, Bella mengikuti.
“Kelewat mencolok,” gumamku saat dia masuk ke mobil.
“Mobil apa itu?”
“M3.”
Dahinya berkerut. “Aku tidak paham jenis-jenis mobil.”
“Itu keluaran BMW.” Aku memutar bola mataku, lalu fokus pada usahaku untuk mundur tanpa menyenggol siapapun. Terutama aku harus memusatkan padangan pada beberapa cowok yang kelihatannya tidak mau bergerak sama sekali. Cukup dengan setengah detik bertemu pandang denganku, mereka berhasil diyakinkan untuk minggir.
“Kau masih marah?” tanyaku padanya. Kerutan di dahinya telah lenyap.
“Jelas.”sergahnya kasar.
Aku menghela napas. Mungkin mestinya tadi aku tidak mengungkitnya. Oh, baiklah. Kurasa aku bisa mencoba untuk minta maaf. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?”
Dia mempertimbangkan sejenak. “Mungkin…, kalau kau bersungguh-sungguh.” akhirnya dia memutuskan. “Dan kalau kau berjanji tidak mengulanginya lagi.”
Aku tidak mau berbohong, dan tidak mungkin aku setuju pada hal itu. Mungkin aku bisa menawarkan janji yang lain…
“Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh, dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” Aku berjengit dalam hati pada pikiran itu.
Kerut diantara matanya kembali muncul saat dia sedang mempertimbangkan tawaranku. “Setuju,” ucapnya setelah beberapa saat.
Sekarang untuk permintaan maafku… Aku belum pernah dengan sengaja mencoba membuat Bella terpesona, tapi sekarang kelihatannya waktu yang tepat. Sambil mengemudikan mobilku menjauh dari sekolahan, aku menatap lekat-lekat ke dalam matanya, bertanya-tanya apa sudah melakukannya dengan benar. Aku menggunakan nada yang paling membujuk.
“Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.”
Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya, iramanya berantakan. Matanya melebar, kelihatan seperti terhipnotis.
Aku setengah tersenyum. Sepertinya aku telah melakukan dengan benar. Tentu saja, aku juga sulit berpaling dari matanya. Sama-sama terpesona. Untung aku sudah hafal jalan ini.
“Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti,” tambahku, melengkapi permintaan maafku.
Dia mengerjap beberapa kali, dan menggoyang kepalanya seperti ingin menjenihkan isinya. “Mmm,” gumamnya. “Rasanya tidak terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya.”
Ah, betapa masih sedikitnya pengetahuan dia tentang diriku. “Aku tidak berencana membawa mobil.”
“Bagaimana—” Dia sudah mau akan bertanya.
Tapi kusela duluan. Jawabannya sulit dijelaskan jika tanpa didemonstrasikan, dan sekarang bukan waktu yang tepat. “Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa mobil.”
Dia menelengkan kepala, sesaat seperti ingin bertanya lebih lanjut, tapi kemudian berubah pikiran.
“Apakah ini sudah cukup ‘nanti’ seperti yang kau janjikan?” Dia mengingatkan pada pembicaraan yang belum selesai di kafetaria tadi; dia melepas satu pertanyaan sulit hanya untuk kembali pada pertanyaan yang juga tidak mengenakkan.
“Kurasa sudah,” jawabku enggan.
Aku parkir di depan rumahnya. Mendadak aku jadi tegang memikirkan bagaimana cara menjelaskannya…tanpa membuat sifat monsterku jadi terlihat dengan jelas, tanpa membuatnya takut. Atau, apakah menutupi sifat gelapku itu salah?
Dia menunggu dengan ekspresi tertarik yang sopan seperti tadi siang. Jika aku tidak sedang gelisah, ketenangannya yang tidak masuk akal ini pasti akan membuatku tertawa.
“Kau masih ingin tahu kenapa kau tidak bisa melihatku berburu?” tanyaku akhirnya.
“Well, aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.”
“Apa aku membuatmu takut?” aku sangat yakin dia akan menyangkal.
“Tidak.”
Aku berusaha untuk tidak tersenyum, tapi gagal. “Aku minta maaf telah membuatmu takut.” Dan senyumku pun lenyap. “Hanya saja, membayangkan kau ada disana… sementara kami berburu.”
“Pasti buruk?”
Membayangkannya saja sudah terlalu mengerikan—Bella yang begitu rapuh berada di tengah kegelapan; sosokku yang lepas kendali… Aku berusaha mengusir bayangan itu. “Sangat.”
“Karena…?”
Aku mengambil napas dalam-dalam, berkonsentrasi pada rasa haus yang membakar kerongkonganku. Merasakannya dalam-dalam, mengaturnya, membuktikan dominasiku atas sensasi itu. Rasa haus itu tidak akan pernah menguasaiku lagi—kuharap itu benar-benar bisa jadi kenyataan. Aku akan jadi lebih aman untuk Bella.
Kutatap awan yang menggantung di luar tanpa benar-benar menatapnya, berharap bisa percaya bahwa tekadku semata akan membuat perbedaan jika saat berburu aku menemukan aromanya.
“Ketika kami berburu…kami membiarkan indra mengendalikan diri kami.” Kupertimbangkan setiap kata yang mau kuucapkan. “Tanpa banyak menggunakan pikiran. Terutama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu…”
Aku menggeleng dengan perasaan tersiksa, membayangkan apa yang akan—bukan apa yang mungkin, tapi apa yang akan—pasti terjadi.
Aku mendengarkan suara detak jantungnya, lalu menoleh, resah, untuk membaca matanya.
Wajah Bella nampak tenang, tatapannya sungguh-sungguh. Mulutnya sedikit mengerut —yang kuduga karena—prihatin. Tapi prihatin karena apa? Keamanan dirinya? Atau karena kegundahanku? Aku terus menatapnya, berusaha menerjemahkan ekpresi ambigunya jadi sesuatu yang pasti.
Dia menatap balik. Matanya melebar setelah beberapa saat, dan pupilnya meluas meski cahaya disini tidak berubah.
Napasku semakin cepat, dan mendadak keheningan ini berubah. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer sekelilingku. Aliran listrik yang mengalir diantara kami dan hasarat untuk menyentuhnya, dalam sekejap berkembang lebih kuat dari rasa hausku.
Aliran listrik ini membuatku seperti memiliki denyut jantung lagi. Tubuhku menari bersamanya, seakan aku manusia. Lebih dari apapun di dunia ini aku ingin merasakan kehangatan bibirnya di bibirku. Selama sekejap, aku berusaha mati-matian mencari kekuatan, untuk mengendalikan diriku, untuk sanggup mendekatkan bibirku ke bibirnya…
Dia menarik napas—tersendat. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa ketika napasku memburu, justru saat bersamaan napasnya terhenti sama sekali.
Aku memejamkan mata, berusaha memutus aliran listrik diantara kami.
Tidak boleh ada kesalahan.
Keberadaan Bella sangat bergantung pada ribuan keseimbangan proses kimiawi yang sensitif. Semuanya sangat mudah terganggu. Irama denyut paru-paru, aliran oksigen, adalah soal hidup-mati bagi dia. Debaran detak jantungnya yang rapuh bisa dihentikan begitu saja oleh berbagai macam insiden konyol atau oleh penyakit atau oleh…diriku.
Semua anggota keluargaku tidak akan ragu-ragu untuk menukarkan keabadian mereka kalau itu bisa membuat mereka menjadi manusia lagi. Mereka siap menantang apapun, dibakar hidup-hidup selama berhari-hari atau bahkan berabad-abad bila perlu.
Kebanyakan dari kaum kami menyanjung-nyanjung keabadian melebihi apapun. Bahkan ada manusia yang mengidamkannya, yang mencari di tempat-tempat gelap untuk bisa menemukan makhluk yang mau memberi mereka hadiah kegelapan itu…
Bukan kami. Bukan keluargaku. Kami akan menukar apapun untuk bisa menjadi manusia lagi.
Tapi, tidak satupun dari kami yang pernah seputus asa ingin kembali seperti diriku saat ini.
Aku memandangi bintik-bintik mikroskopis yang ada di kaca depan, seakan solusinya tersembunyi di situ. Getaran listrik itu masih belum lenyap, dan aku harus berkonsentrasi untuk menjaga tanganku tetap berada di kemudi.
Tangan kananku mulai tersengat listrik lagi, seperti saat habis menyentuhnya.
“Bella, kurasa kau harus masuk sekarang.”
Dia langsung menurut, tanpa berkomentar, keluar dari mobil dan menutup pintunya. Apakah dia juga merasakan kemungkinan terjadinya petaka sejelas yang kurasakan?
Apakah menyakitkan baginya untuk pergi, sama seperti menyakitkannya bagiku untuk membiarkan dia pergi? Satu-satunya penghibur adalah bawah aku akan segera menemuinya. Lebih cepat dari dia akan melihatku. Aku tersenyum pada hal itu, kemudian menurunkan kaca jendela samping dan mencondongkan tubuhku untuk bicara dengannya sekali lagi— sekarang sudah lebih aman, dengan kehangatan tubuhnya di luar mobil.
Dia menoleh untuk mencari tahu apa yang kumau, penasaran.
Masih saja penasaran, meski hari ini dia sudah menanyaiku berbagai macam pertanyaan. Rasa penasaranku sendiri sama sekali belum terpuaskan; menjawab pertanyaan-pertanyaannya hari ini hanya mengungkapkan rahasiaku—aku tidak mendapat apa-apa dari dia kecuali dugaan belaka. Itu tidak adil.
“Oh, Bella?”
“Ya?”
“Besok giliranku.”
Dahinya berkerut. “Giliran apa?”
“Bertanya padamu.” Besok, ketika kami berdua berada di tempat yang lebih aman, dikelilingi saksi-saksi, aku akan mendapat jawabanku. Aku tersenyum pada pikiran itu, lalu berpaling karena dia tidak menunjukan tanda-tanda akan beranjak. Bahkan dengan dia di luar mobil, gaung getaran listrk itu masih menggantung di sekelilingku. Aku juga ingin keluar, untuk mengantarnya ke depan pintu sebagai alasan untuk bisa tetap di sampingnya…
Tidak boleh ada kesalahan.
Aku menginjak pedal gas, lalu menghela napas begitu dia hilang di belakangku. Kelihatannya aku selalu lari menuju Bella atau melarikan diri dari dia, tidak pernah tetap tinggal di tempat. Aku mesti mencari cara untuk bisa mengendalikan diriku jika mau semuanya berjalan lancar.
Midnight Sun halaman 11
Bab 11
Interogasi
CNN mengulas berita itu duluan.
Aku bersyukur muncul sebelum aku berangkat sekolah. Aku tidak sabar ingin mendengar cara manusia mengulas kejadiannya, dan seberapa menarik perhatian. Untung hari ini ada berita yang lebih besar. Ada gempa bumi di Amerika Selatan dan penculikan tokoh politik di Timur Tengah. Jadi berita itu cuma diulas beberapa detik, dengan satu foto yang tidak jelas.
“Alonzo Calderas Wallace, tersangka pembunuh dan pemerkosa kambuhan, yang jadi buron di negara bagian Texas dan Oklahoma, telah berhasil ditangkap di Portland, Oregon. Wallace berhasil ditangkap berkat adanya informasi dari orang yang tak dikenal. Dia ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah gang dini hari tadi, hanya beberapa meter dari kantor polisi. Saat ini pihak berwenang belum bisa menentukan apakah dia akan disidangkan di Texas atau di Oklahoma.”
Fotonya agak buram, foto buron. Dia masih berjanggut lebat waktu foto itu diambil. Bahkan jika Bella menonton dia tidak akan mengenalinya. Kuharap dia tidak menonton; itu bisa membuatnya ketakutan.
“Beritanya tidak akan sampai ke Forks. Kejadiannya terlalu jauh untuk jadi berita lokal,” beritahu Alice padaku. “Beruntung ada Carlisle yang bisa membawanya keluar dari negara bagian ini.”
Aku mengangguk. Bella sendiri tidak terlalu sering nonton TV. Aku juga jarang melihat ayahnya menonton acara selain olahraga.
Aku telah melakukan yang kubisa. Monster itu tidak lagi berkeliaran, dan aku tidak jadi pembunuh. Paling tidak, bukan belakangan ini. Pilihanku tepat dengan mempercayakannya pada Carlisle, walaupun aku tidak sepenuhnya puas penjahat itu bisa lolos semudah itu. Kuharap dia akan diadili di Texas, dimana hukuman mati masih sering diberikan…
Tidak. Itu tidak penting lagi. Aku akan melupakan hal itu, dan fokus pada apa yang paling penting.
Aku baru meninggalkan kamar Bella tidak sampai satu jam yang lalu, tapi aku sudah tidak sabar ingin menemuinya lagi.
“Alice, maukah kau—”
Dia langsung memotongku, “Rosalie yang akan mengemudi. Dia akan berlagak marah, tapi tahu sendiri, dia akan senang punya alasan untuk memamerkan mobilnya.” Alice tertawa riang.
Aku tersenyum padanya. “Sampai ketemu di sekolah.”
Alice menghela napas, dan senyumku berubah jadi seringai.
Aku tahu, aku tahu, batinnya. Belum saatnya. Aku akan menunggu sampai kau siap buat Bella mengenalku. Kau mestinya tahu, ini bukan karena aku egois. Bella juga akan menyukaiku.
Aku tidak menanggapi, dan buru-buru keluar. Itu cara pandang yang berbeda untuk melihat situasi ini. Maukah Bella mengenal Alice? Maukah dia punya sahabat seorang vampir?
Kalau dari sudut pandang Bella…mungkin ide itu tidak terlalu mengganggu.
Aku mengeluh sendiri. Apa yang Bella mau dan apa yang terbaik bagi Bella adalah dua hal yang bertentangan.
Aku mulai gelisah ketika parkir di depan rumah Bella. Pepatah manusia mengatakan, banyak hal kelihatan berbeda di pagi hari—hal itu berubah karena kau tidur. Apakah aku juga akan kelihatan berbeda di mata Bella, di bawah langit mendung dan berkabut pada pagi hari ini? Mungkinkah kebenaran itu akhirnya meresap ketika dia tidur? Mungkinkah akhirnya dia takut?
Sepertinya tadi malam mimpinya indah. Ketika menggumamkan namaku berulang-ulang, dia tersenyum. Lebih dari sekali dia memohon agar aku tetap tinggal. Apa itu tidak akan ada artinya hari ini?
Aku menunggu dengan cemas, mendengarkan suara-suara yang ditimbulkannya di dalam rumah—langkahnya yang setengah berlari di tangga, sobekan kertas timah, benturan botol-botol saat dia menutup lemari es. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Tidak sabar ingin cepat-cepat ke sekolah? Bayangan itu membuatku tersenyum, penuh harapan lagi.
Aku melihat ke jam. Sepertinya—jika menghitung-hitung kecepatan maksimal truknya —dia hampir terlambat.
Bella menghambur keluar rumah. Tasnya disampirkan di pundak. Rambut ikalnya agak berantakan. Sweter hijau yang dia pakai tidak cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya kabut.
Sweter panjang itu ukurannya kebesaran sehingga menyamarkan bentuk tubuh Bella yang gemulai, mengubah lekuk-lekuknya yang menawan jadi tidak berbentuk. Namun aku sama menyukainya seperti jika dia memakai blus biru muda tadi malam…warna biru mengalir bagai air di permukaan tubuhnya, kainnya membalut kulitnya begitu rupa hingga terlihat sangat menarik, potongannya cukup pendek untuk menunjukkan tulang selangkanya yang mempesona, yang melengkung indah dari bawah leher…
Kurasa lebih baik aku menjauhkan bayangan itu. Jadi aku bersyukur dengan sweter yang dia pakai. Aku tidak boleh membuat kesalahan. Dan merupakan kesalahan besar jika aku sampai terhanyut pada hasrat aneh yang mulai terbebas dalam diriku, hasrat terhadap bibirnya…kulitnya…tubuhnya…. Hasrat yang selama seratus tahun terkurung rapat. Tapi aku tidak boleh membayangkan itu. Aku tidak boleh membayangkan menyentuhnya, karena itu mustahil.
Aku akan meremukkan dia.
Setelah membanting pintu Bella langsung lari hingga hampir saja tidak menyadari mobilku.
Kemudian dia berhenti mendadak. Tubuhnya membeku. Tasnya merosot ke tangan, dan matanya membelalak saat melihat mobilku.
Aku keluar, tanpa repot-repot mengekang kecepatan kilatku, dan membukakan pintu mobil untuk dia. Aku tidak mau mengelabuinya lagi—paling tidak saat kami berdua, aku akan menjadi diriku sendiri.
Dia menatapku, terkejut saat aku muncul begitu saja. Kemudian kekagetan di matanya berubah jadi sesuatu yang lain, dan aku tidak perlu lagi takut perasaannya berubah. Hangat, kagum, terpesona, semua jadi satu pada mata coklatnya yang mencair.
“Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyaku padanya. Tidak seperti waktu makan malam kemarin, aku memberinya pilihan. Mulai sekarang, semua harus sesuai kemauannya.
“Ya, terima kasih,” gumamnya sambil masuk kedalam mobilku tanpa ragu-ragu.
Apa aku akan berhenti keheranan, bahwa akulah orang yang dijawab ya olehnya? Sepertinya aku akan terus heran.
Aku langsung melesat mengitari mobil, tidak sabar ingin berada di sampingnya. Dia tidak terlihat kaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
Kebahagiaan yang kurasakan ketika dia duduk disampingku seperti ini, tidak ada bandingannya. Walau aku sangat menikmati kedekatan keluargaku, juga dengan berbagai kemewahan yang kupunya, aku belum pernah merasa sebahagia ini. Bahkan walau tahu kalau ini salah, bahwa ini tidak akan berakhir dengan baik, tetap saja tidak bisa menghapus senyumku.
Jaketku kusampirkan di sandaran kursinya. Kulihat dia memandanginya.
“Aku membawakan jaket untukmu.” Itu alasan yang kupakai untuk datang tanpa diundang. Pagi ini dingin. Dia tidak punya jaket. Tentunya ini bentuk sikap ksatria yang bisa diterima. “Aku tak ingin kau sakit atau apa.”
“Aku tak selemah itu, kau tahu,” sanggahnya sambil menatap dadaku dan bukannya wajahku, seakan dia ragu-ragu untuk menatap mataku. Tapi jaketku dipakai juga tanpa harus kupaksa.
“Benarkah?” gumamku sendiri.
Dia terlihat menerawang ke luar saat kami mulai jalan. Aku hanya tahan berdiam diri selama beberapa detik. Aku harus tahu apa yang dia pikirkan pagi ini. Ada banyak hal yang berubah diantara kami sejak matahari terbit.
“Apa tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” tanyaku sesantai mungkin.
Dia tersenyum, terlihat lega aku mengungkitnya. “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?”
“Tidak seperti reaksimu,” jawabku jujur sambil tersenyum untuk membalas senyumnya.
Ujung bibirnya mengerut turun. “Apakah reaksiku buruk?”
“Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali—tidak wajar.” Tidak ada satu jeritanpun. Bagaimana itu mungkin? “Itu membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kau pikirkan.”
Tentu saja, apapun yang dia perbuat atau tidak perbuat, membuatku bertanya-tanya.
“Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.”
“Kau mengeditnya.”
Dia menggigit bibirnya lagi, kelihatannya tidak sadar—reflek ketika sedang tegang. “Tidak terlalu banyak.”
Hanya dengan mendengar kata-kata itu sudah membuat penasaranku memuncak. Apa yang dengan sengaja ia tutupi dariku?
“Cukup untuk memuatku gila,” sergahku.
Dia ragu sejenak, lalu berbisik, “Kau tidak ingin mendengarnya.”
Aku harus berpikir sebentar, mengulang kembali seluruh pembicaraan tadi malam, kata perkata, mencari hubungannya. Mungkin aku mesti lebih berkonsentrasi lagi karena aku tidak bisa membayangkan ada sesuatu yang tidak ingin kudengar dari dia. Tapi kemudian—karena nada bicaranya sama dengan tadi malam; ada kepedihan yang tiba-tiba muncul—aku ingat. Secara spesifik aku sempat meminta dia untuk tidak mengucapkan pikirannya; Jangan pernah katakan itu. Aku hampir menggeram ketika itu, dan membuatnya menangis…
Apa itu yang ia sembunyikan? Kedalaman perasaannya padaku? Bahwa sosokku sebagai monster tidak penting buatnya, dan bahwa sudah terlambat untuk berubah pikiran?
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kebahagiaan dan penderitaan ini terlalu kuat untuk diungkapkan lewat kata-kata. Benturan keduanya terlalu liar untuk dijelaskan. Keadaan hening, hanya ada suara dari detak jantungnya yang teratur.
“Di mana keluargamu yang lain?” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengambil napas panjang—merasakan aroma pekatnya yang membakar untuk pertama kalinya pagi ini; aku mulai terbiasa, aku menyadari dengan puas—dan memaksa diriku serileks mungkin.
“Mereka naik mobil Rosalie.” Kebetulan ada tempat kosong di samping mobil yang ia tanyakan, dan aku parkir disitu. Kuseembunyikan senyumku saat matanya membelalak. “Kelewat mencolok, kan?”
“Mmm, wow. Kalau Rosalie punya itu, kenapa dia pergi bersamamu? “
Rosalie pasti akan menikmati reaksi Bella…jika dia mau bersikap objektif tentang Bella, yang mana kuragukan.
“Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami berusaha membaur.”
“Kalian tidak berhasil.” Dan dia tertawa riang.
Keriangan suara tawanya menghangatkan jantungku.
“Jadi kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” tanyanya heran.
“Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang.”
Jawabanku pasti tidak terlalu menakutkan—jadi tentu saja, Bella tersenyum mendengarnya.
Dia tidak menunggu untuk dibukakan pintu, sama seperti tadi malam. Sekarang aku harus menjaga sikapku—jadi aku tidak bisa melesat untuk menahannya—tapi untuk selanjutnya dia harus mulai membiasakan diri untuk diperlakukan dengan sopan. Dan harus secepatnya.
Aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani sambil mengamati kalau-kalau dia merasa risih. Dua kali tangannya sedikit terjuntai ke arahku, namun ditarik lagi. Kelihatannya seperti ingin menyentuhku… Napasku memburu.
“Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu? Kalau kalian memang menginginkan privasi?” tanyanya sambil jalan.
“Memanjakan diri. Kami semua suka ngebut.”
“Sudah kuduga,” gumamnya masam.
Dia tidak mendongak untuk melihat seringai jailku.
Ya ampun! Aku tidak percaya ini! Bagaimana cara Bella melakukannya? Aku tidak mengerti! Kenapa?
Suara batin Jessica menyela pikiranku. Dia sedang menunggu Bella, berlindung dari guyuran hujan di bawah atap kafetaria. Jaket Bella di tangannya. Matanya membelalak tidak percaya.
Kemudian Bella melihat juga. Rona merah muda muncul di pipinya ketika dia menangkap reaksi Jessica. Pikiran Jessica terbaca dengan jelas di wajahnya.
“Hei Jessica. Terima kasih sudah ingat membawanya,” sapa Bella. Dia mengambil jaketnya dan Jessica memberikan masih sambil melongo.
Aku harus sopan pada teman Bella, entah dia itu teman yang baik atau bukan. “Selamat pagi, Jessica.”
Waahhh…
Mata Jessica makin membelalak. Ini aneh…dan jujur saja, sedikit memalukan…menyadari bagaimana berada di dekat Bella telah melunakkan diriku. Sepertinya tidak ada lagi orang yang takut. Jika Emmet sampai tahu, dia pasti akan menertawaiku habis-habisan.
“Err…hai,” gumam Jessica tidak jelas. Kemudian matanya memelototi Bella. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono.”
Kau harus menceritakan semuanya. Tidak boleh tidak. Setiap detilnya. Aku harus mendapatkan detilnya! Si Edward CULLEN!! Dunia tidak adil!
Bibir Bella cemberut. “Yeah, sampai ketemu nanti.”
Benak Jessica makin berkeliaran saat berjalan menuju kelas. Sesekali dia menoleh ke belakang.
Cerita lengkapnya. Aku tidak mau terima jika kurang dari itu. Apa mereka memang sudah berencana untuk bertemu tadi malam? Apa mereka sudah berkencan? Sudah berapa lama? Tega-teganya Bella merahasiakan hal ini? Kenapa juga dia mau merahasiakannya? Ini tidak mungkin cuma iseng—Bella pasti serius. Apa ada kemungkinan yang lain? Aku akan mencari tahu. Kira-kira, apa dia sudah menciumnya? Ya ampun… Benak Jessica tiba-tiba terputus, dia ganti membayangkan adegan itu. Aku langsung berusaha mengusirnya.
Itu tidak akan mungkin terjadi. Namun tetap saja aku…
Tidak, aku menolak untuk membenarkan tindakan yang seperti itu, bahkan tidak ke diriku sendiri. Aku menginginkan dia dengan cara salah seperti apa lagi? Dan cara mana yang akhirnya akan berujung pada kematiannya?
Aku menggeleng, berusaha ceria lagi.
“Apa yang akan kau katakan padanya?” .
“Hei!” desisnya tajam. “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!”
“Aku tak bisa.” Aku menatap kaget, berusaha mengolah ucapannya. Ah—kami pasti memikirkan hal yang sama. Hmm…aku cukup suka itu. “Bagaimanapun, aku bisa membaca pikirannya—dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.”
Bella mengerang. Kemudian dengan begitu saja dia melepas jaketku. Awalnya aku tidak sadar—aku sama sekali tidak meminta jaketku; aku lebih memilih dia pakai terus…sebagai kenang-kenangan—jadi aku terlambat membantu melepaskannya. Dia mengembalikan jaketku, dan memakai jaketnya sendiri tanpa melihat kalau tanganku sudah siap membantu. Aku merengut karenanya, namun cepat mengendalikan ekspresiku agar tidak dilihat dia.
“Jadi, kau akan bilang apa padanya?” desakku.
“Tolong bantu aku sedikit. Apa yang ingin diketahuinya?”
Aku tersenyum, dan menggeleng. Aku ingin mendengar apa yang dia pikirkan saat itu juga, tanpa persiapan. “Itu tidak adil.”
Matanya menyipit. “Tidak, kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui—itu baru tidak adil.”
Betul—dia tidak suka standar ganda.
Kami sampai di depan kelasnya—dimana aku harus meninggalkan dia; aku bertanya-tanya apa Mrs. Cope mau membantu menukar jadwal pelajaran bahasa Inggrisku… Sebaiknya jangan, aku harus berlaku adil.
“Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan,” kataku lambat-lambat. “Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku.”
Matanya melebar—bukannya kaget, tapi dibuat-buat. Dia sok polos.
“Iihh,” gumamnya. “Apa yang harus kukatakan?”
“Hmm.” Dia selalu saja mencoba mengorekku ketimbang membuka pikirannya sendiri. Aku menimbang-nimbang bagaimana menjawabnya.
Sejumput rambutnya yang agak basah karena kabut, terlepas dari belakang telinga, dan terjuntai di sekitar tulang selangkanya yang sekarang tersembunyi dibalik sweter. Itu menarik perhatian mataku…pada lekuk tulangnya yang masih agak kelihatan…
Kuraih rambut itu hati-hati agar jangan sampai menyentuh kulitnya—pagi ini sudah cukup dingin tanpa ditambahkan sentuhanku—dan mengembalikannya ke balik telinga agar tidak menarik perhatianku lagi. Aku ingat saat Mike Newton menyentuh rambutnya, ketika itu Bella langsung menjauh. Kali ini reaksinya sama sekali berbeda; pupil matanya melebar, aliran darah di balik kulitnya menderas, dan detak jantungnya mendadak tidak beraturan.
Aku berusaha menyembunyikan senyumku saat menjawab pertanyaannya. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk petanyaan pertama… kalau kau tidak keberatan—,” biarkan dia yang memilih, harus selalu begitu, “—itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya.”
“Aku tak keberatan,” bisiknya. Detak jantungnya masih belum teratur.
“Dan untuk pertanyaan yang satu lagi…” kini aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. “Well, aku akan mendengar jawabannya langsung darimu.”
Biarkan Bella mempertimbangkan hal itu. Aku menahan tawaku saat syok terlihat di wajahnya.
Aku cepat-cepat berbalik, sebelum dia sempat menuntut jawaban lagi. Aku menemui kesulitan untuk tidak menjawab apapun yang ia tanya. Dan aku ingin mendengar pikirannya, bukan pikiranku sendiri.
“Sampai ketemu saat makan siang,” kataku sambil menoleh melihatnya, sekedar alasan untuk mengecek apa dia masih memandangiku dengan melongo. Dan, dia masih begitu, dengan mulut terbuka. Aku berbalik lagi dan tertawa.
Samar-samar aku menyadari pikiran syok orang-orang disekitarku—tatapan mereka bergantian ke aku dan Bella. Namun aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Untuk melangkah dengan tenang saja sudah susah. Aku ingin lari—benar-benar lari, secepat kilat hingga menghilang, seperti terbang. Sebagian dariku sekarang sudah terbang.
Sesampainya di kelas jaketku kupakai. Keharuman pekat Bella yang tertinggal pun bergelung disekelilingku. Kubiarkan tenggorokanku terbakar supaya nanti saat bertemu lagi lebih mudah mengatasinya.
Ada untungnya juga para guru sudah tidak pernah menanyaiku lagi. Hari ini mungkin mereka bisa memergokiku tanpa jawaban. Pikiranku sedang berkeliaran ke tempat lain; hanya badanku yang di kelas.
Tentu saja aku sedang memandangi Bella. Itu jadi alamiah—sealami seperti bernapas. Dia sedang bercakap-cakap dengan Mike Newton, dan sebisa mungkin berusaha mengalihkan pembicaraan ke Jessica. Aku menyeringai begitu lebar hingga Rob Sawyer, yang duduk di meja sebelahku, berjengit di kursinya dan bergeser menjauh.
Ugh. Menyeramkan.
Well, aku tidak sepenuhnya kehilangan tajiku.
Kadang-kadang aku juga mengawasi Jessica. Dia tidak sabar menunggu jam ke empat, dan sedang memikirkan daftar pertanyaan untuk Bella. Aku sendiri sepuluh kali lebih tidak sabar ketimbang Jessica.
Dan aku juga mendengarkan Angela Weber.
Aku tidak lupa dengan hutang budiku padanya—karena telah memikirkan yang baik-baik saja tentang Bella dan pertolongannya tadi malam. Jadi sepanjang pelajaran aku mencari-cari sesuatu yang ia inginkan. Kusangka itu akan mudah; seperti kebanyakan orang, pasti ada barang-barang mewah atau benda tertentu yang dia idam-idamkan. Beberapa, mungkin. Aku akan mengirimkannya tanpa nama, dan menganggap impas.
Tapi ternyata Angela sama polosnya dengan Bella. Pikirannya sangat aneh untuk ukuran remaja. Bahagia. Barangkali ini alasan dari kebaikan hatinya yang tidak lazim—dia satu dari beberapa orang yang telah memiliki yang dia inginkan, dan menginginkan yang telah ia miliki. Jika tidak sedang memperhatikan pelajaran, dia memikirkan adik kembarnya, yang akan ia ajak ke pantai akhir pekan nanti—terhibur oleh semangat mereka dengan sikap hampir keibuan. Dia sering diminta menjaga mereka, tapi itu tidak membuatnya kesal… Itu sangat murah hati.
Tapi tidak terlalu menolong buatku.
Pasti ada sesuatu yang dia mau. Aku cuma perlu terus mencari. Tapi nanti lagi. Ini saatnya kelas Trigono Bella bersama Jessica.
Aku tidak memperhatikan jalanku saat menuju kelas bahasa Inggris. Jessica sudah duduk di kursinya. Kedua kakinya mengetuk-ngetuk lantai tidak sabaran menunggu Bella datang.
Sebaliknya, ketika sampai di kursiku, aku langsung sepenuhnya diam. Aku sampai harus mengingatkan diriku untuk sesekali membuat gerakan, untuk memainkan sandiwaraku sebagai manusia. Itu sangat sulit, pikiranku terlalu fokus ke Jessica. Kuharap dia benar-benar memperhatikan, benar-benar membaca wajah Bella untukku.
Ketukan Jessica makin cepat ketika Bella memasuki kelas.
Dia kelihatan…murung. Kenapa? Mungkin tidak terjadi apa-apa antara dia dengan Edward Cullen. Itu pasti mengecewakan. Kecuali…dengan begitu Edward berarti masih sendirian…jika tiba-tiba Edward tertarik untuk kencan, aku tidak keberatan membantunya…
Wajah Bella tidak kelihatan murung, melainkan malas. Dia gelisah—dia tahu aku akan mendengar semuanya. Aku tersenyum sendiri.
“Ceritakan semuanya!” desak Jess, sementara Bella masih melepas jaketnya untuk disampirkan di kursi. Dia bergerak dengan enggan.
Ugh, dia lamban sekali. Ayo cepat ceritakan!
“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya Bella setengah hati setelah dia duduk.
“Apa yang terjadi semalam?”
“Dia mengajakku makan malam, lalu mengantarku pulang.”
Lalu? Ayolah, pasti lebih dari itu! Paling-paling dia bohong, aku tahu itu. Aku akan cari tahu yang sebenarnya.
“Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?”
Kulihat Bella memutar bola matanya dari pandangan curiga Jessica.
“Dia ngebut seperti orang sinting. Mengerikan.”
Dia tersenyum, senyuman kecil. Dan aku tergelak, memotong pembicaraan Mr. Mason. Tawaku berusaha kuubah jadi batuk, tapi tidak ada yang tertipu. Mr. Mason memelototiku, tapi aku bahkan tidak mau repot-repot mendengarkan pikirannya. Aku masih sibuk dengan Jessica.
Huh. Sepertinya dia menceritakan yang sebenarnya. Kenapa dia mesti membuatku menanyakannya kata per kata? Kalau itu aku, pasti sudah tidak sabar untuk menceritakannya.
“Apakah itu semacam kencan—apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?”
Jessica mengamati baik-baik ekspresi Bella, dan kecewa karena kelihatannya datar-datar saja.
“Tidak—aku sangat terkejut melihatnya di sana,” beritahu Bella.
Apa yang terjadi?? “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” Pasti ada cerita lainnya.
“Ya—itu juga kejutan. Dia memerhatikan aku tidak membawa jaket semalam.”
Itu tidak terlalu menarik, batin Jessica, lagi-lagi kecewa.
Aku capek mendengar rentetan pertanyaannya—aku mau mendengar sesuatu yang belum kuketahui. Kuharap Jessica tidak terlalu kecewa hingga melewatkan pertanyaan yang kutunggu-tunggu.
“Jadi, kalian akan berkencan lagi?” desak Jessica.
“Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti, karena menurut dia, trukku tidak bakal sanggup—apakah itu masuk hitungan?”
Hmm. Sepertinya Edward juga cukup serius…well, jaga Bella baik-baik. Pasti ada yang aneh dengan si Edward, jika bukan Bella-nya yang aneh. Bagaimana INI bisa terjadi?
“Ya.” Jessica menjawab pertanyaan Bella.
“Well, kalau begitu, ya,” tegas Bella.
“W-o-w. Edward Cullen.” Entah Bella menyukai Edward atau tidak, ini berita besar.
“Aku tahu,” desah Bella.
Nada suara Bella menyemangati Jessica. Akhirnya—dia menyadari juga situasinya. Dia juga pasti tahu…
“Tunggu!” Tiba-tiba dia ingat pertanyaan yang paling penting. “Apakah dia sudah menciummu?” Please bilang ya. Lalu ceritakan setiap detilnya!
“Belum,” gumam Bella pelan, lalu dia menunduk, memandangi tangannya. “Bukan begitu.”
Sial. Kuharap… Ha. Sepertinya Bella juga mengharapkannya.
Aku mengerutkan dahi. Bella memang terlihat kecewa akan sesuatu, tapi tidak mungkin itu alasannya. Dia tidak mungkin menginginkan hal itu. Dia tidak mungkin mau sedekat itu dengan gigiku. Seperti yang dia ketahui, aku punya taring.
Aku menggigil.
“Menurutmu hari Sabtu…?” desak Jessica lagi.
Bella bahkan terlihat lebih kecewa ketika berkata, “Aku sangat meragukannya.”
Yah, dia memang menginginkannya. Itu pasti menyebalkan buat dia.
Apakah karena melihatnya lewat persepsi Jessica maka sepertinya asumsi Jessica betul?
Selama setengah detik pikiranku disela oleh bayangan—yang mustahil—tentang bagaimana rasanya jika mencium Bella. Bibirku pada bibirnya, batu-dingin pada kehangatan, merasakan kelembutannya yang seperti sutra…
Kemudian dia mati.
Aku menggeleng-geleng sambil meringis, lalu memperhatikan lagi.
“Apa yang kalian obrolkan?” Apa kau bicara dengannya, atau kau justru membuatnya harus bertanya satu persatu seperti ini?
Aku tersenyum kecut. Tebakan Jessica tidak terlalu melenceng.
“Entahlah, Jess, banyak. Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris, sedikit.”
Sangat, sangat sedikit. Aku tersenyum lebar.
Oh, AYOLAH. “Ayolah, Bella! Ceritakan detilnya.”
Bella ragu sejenak.
“Well, baiklah… akan kuceritakan satu. Mestinya kau lihat pelayan restoran merayunya—terang-terangan sekali. Tapi dia tidak memerhatikan pelayan itu sama sekali.”
Detil yang aneh untuk diceritakan. Aku bahkan tidak menyangka Bella menyadari hal itu. Sepertinya itu tidak terlalu relevan.
Menarik… “Itu pertanda baik. Apakah pelayan itu cantik?”
Hmm. Jessica menanggapinya dengan lebih serius ketimbang aku. Pasti urusan perempuan.
“Sangat,” ujar Bella. “Dan barangkali umurnya 19 atau 20.”
Sesaat Jessica ingat ketika ia dan Mike kencan Senin kemarin—Mike bersikap terlalu sopan dengan si pelayan, yang menurut Jessica sama sekali tidak cantik. Dia mengusir ingatan itu dan kembali. Dia mengekang kekesalannya agar bisa meneruskan pertanyaannya.
“Lebih baik lagi. dia pasti menyukaimu.”
“Kurasa begitu,” ucap Bella tidak yakin, dan aku hampir saja berdiri. “Tapi sulit mengetahuinya. Sikapnya selalu misterius.”
Aku pasti tidak setransparan dan selepas kendali seperti yang kupikir. Namun tetap saja…dengan pengamatan yang ia punya… Bagaimana mungkin dia tidak menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya? Kuulang kembali seluruh pembicaraan kami berdua, dan baru sadar aku memang belum pernah mengucapkan kata-kata itu. Tapi rasanya ungkapan itu sudah terbalut dalam setiap kata yang kuucapkan.
Wow. Bagaimana caranya kau bisa duduk di samping seorang model dan mengobrol dengannya? “Aku tidak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.”
Bella terlihat syok. “Kenapa?”
Reaksi yang aneh. Memangnya menurut dia yang kumaksud apa? “Dia begitu…” Apa istilahnya yang tepat? “Mengintimidasi. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya.” Bahkan tadi aku tidak bisa bicara dengan benar, padahal dia cuma mengucapkan selamat pagi. Aku pasti kelihatan seperti orang idiot.
Bella tersenyum. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya.”
Dia pasti sekedar menghibur Jessica. Bella terlihat begitu terkendali ketika bersamaku.
“Oh, well,” desah Jessica. “Dia memang luar biasa tampan.”
Tatapan Bella tiba-tiba jadi dingin. Pancaran matanya mirip seperti ketika sedang tersinggung. Jessica sendiri tidak menangkap perubahan itu.
“Dia jauh lebih dari pada sekedar sangat tampan,” tukas Bella.
Oooh. Akhirnya muncul juga. “Sungguh? Seperti apa?”
Bella menggigit bibirnya sebelum menjawab. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat… tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya.” Dia berpaling dari Jessica, tatapannya berubah tidak fokus seakan sedang memandangi sesuatu yang jauh.
Yang kurasakan saat ini mirip dengan yang kurasakan ketika Carlisle atau Esme menyanjungku lebih dari yang sepantasnya. Mirip, tapi lebih dalam, dan lebih melimpah.
Jangan berlagak bodoh—tidak ada yang lebih baik ketimbang wajahnya! Kecuali mungkin badannya. Hhh. “Apakah itu mungkin?” Jessica terkikik.
Bella tidak menoleh. Dia terus memandang ke kejauhan, mengabaikan Jessica.
Orang normal pasti sudah berbunga-bunga. Barangkali jika kutanyakan dengan bahasa yang lebih sederhana. Ha ha. Aku seperti bicara dengan anak TK. “Jadi, kau menyukainya?”
Badanku membeku.
Bella tidak melihat ke Jessica. “Ya.”
“Maksudku, kau benar-benar menyukainya?”
“Ya.”
Lihat, dia tersipu-sipu!
Ya, aku sedang melihatnya.
“Seberapa suka?” desak Jessica.
Ruang kelasku mungkin saja diguncang gempa dan aku tidak menyadarinya.
Wajah Bella bersemu merah—aku hampir bisa merasakan hangatnya.
“Terlalu suka,” bisiknya. “Lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya.”
Sial! Apa tadi yang Mr. Varner tanyakan? “Mmm. Nomer berapa Mr. Varner?”
Untung Jessica tidak bisa menanyai Bella lagi. Aku butuh waktu sebentar.
Apa coba yang dipikirkan gadis itu? Lebih dari dia menyukaiku? Darimana dia dapat ide itu? Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya? Apa coba itu artinya? Aku tidak bisa menemukan penjelasan yang rasional dari perkataanya. Ucapannya tak beralasan.
Rasanya aku seperti tidak dihargai. Sesuatu yang sudah sangat-sangat jelas, entah bagaimana jadi terpelintir di dalam otaknya yang ganjil. Lebih dari dia menyukaiku? Barangkali dia memang masih perlu dibawa ke psikiater.
Aku melihat ke jam, dan menggertakkan gigi. Kenapa satu menit jadi terasa seabad untuk makhluk abadi sepertiku? Kemana larinya akal sehatku?
Rahangku terkatup rapat selama jam pelajaran Mr. Varner. Aku lebih banyak mendengar pelajaran di kelas Bella ketimbang di kelasku sendiri. Bella dan Jessica tidak bicara lagi, tapi sesekali Jessica melirik ke Bella. Satu kali, wajahnya sempat bersemu merah tanpa alasan yang jelas.
Jam makan siang tidak datang-datang juga.
Kuharap Jessica bisa mendapatkan semua jawaban yang kutunggu saat jam pelajaran selesai. Tapi Bella lebih cepat dari dia.
Sesaat setelah bel bunyi, Bella menoleh ke Jessica.
“Di kelas Inggris, Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam,” kata Bella sambil tersenyum. Aku mengerti apa yang dia lakukan—menyerang adalah pertahanan yang terbaik.
Mike bertanya tentang aku? Perasaan senang membuat pikiran Jessica jadi melunak, tanpa sindiran seperti biasanya. “Kau bercanda! Apa katamu?”
“Kubilang kau sangat menikmatinya—dia kelihatan senang.”
“Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga jawabanmu!”
Jelas, cuma itu yang bisa kudapat dari Jessica hari ini. Bella tersenyum seakan sedang memikirkan hal yang sama, seakan dia telah memenangkan ronde ini.
Well, pada saat makan siang nanti akan lain ceritanya. Aku harus lebih berhasil ketimbang Jessica. Akan kupastikan itu.
Hanya kadang-kadang, aku masih saja mengecek pikiran Jessica selama jam pelajaran selanjutnya. Aku tidak tahan dengan obsesinya pada Mike Newton. Aku sudah cukup mendengar tentang Mike Newton selama dua minggu ini. Sudah untung dia masih hidup.
Aku berjalan dengan malas ke ruang gimnasium bersama Alice. Kami selalu malas jika menyangkut aktivitas fisik bersama manusia. Ini hari pertama bermain badminton. Alice jadi pasanganku. Aku mendesah bosan, mengayunkan raketku dengan sangat-sangat pelan untuk mengembalikan kok nya ke seberang net. Lauren Mallory jadi lawan kami; dia gagal memukulnya. Alice memutar-mutar raketnya sambil menatap ke langit-langit.
Kami semua membenci pelajaran olahraga, terutama Emmet. Mengalah dalam pertandingan bertentangan dengan filosofi hidupnya. Pelajaran olahraga hari ini lebih parah dari biasanya—aku hampir sekesal Emmet.
Sebelum kepalaku meledak, Coach Clapp menyudahi permainan. Dengan geli aku bersyukur dia melewatkan sarapannya—percobaan awal untuk diet—dan rasa lapar yang diakibatkannya membuat dia ingin cepat-cepat mencari makan. Dia berjanji ke dirinya sendiri akan mengulang lagi besok…
Ini memberiku cukup waktu untuk ke kelas Bella sebelum dia keluar.
Selamat bersenang-senang, batin Alice saat dia bergegas menemui Jasper. Aku cuma perlu bersabar beberapa hari lagi. Kurasa kau tidak mau menyampaikan salamku untuk Bella, kan?
Aku menggeleng jengkel. Apa semua paranormal memang sombong?
Sekedar informasi, matahari akan bersinar cerah akhir pekan nanti. Kau mungkin perlu mengatur ulang rencanamu.
Aku menghela napas saat berjalan ke arah yang berlawanan dengan Alice. Sombong, tapi jelas berguna.
Aku bersandar di depan kelas Bella, menunggu. Aku berdiri cukup dekat hingga bisa mendengar suara Jessica dari balik tembok, sama jelasnya dengan suara pikirannya.
“Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan?” dia terlihat…berseri-seri. Berani taruhan, pasti ada banyak yang tidak ia ceritakan.
“Kurasa tidak,” jawab Bella. Anehnya, dengan ragu.
Bukannya tadi aku sudah janji akan makan siang bersamanya? Apa yang dia pikir?
Mereka keluar kelas berdua, sama-sama tercengang ketika melihatku. Tapi aku cuma bisa mendengar pikiran Jessica.
Baik sekali dia. Wow. Oh, pasti itu, pasti ada lebih banyak lagi yang tidak Bella ceritakan. Barangkali aku akan meneleponnya nanti malam…atau mungkin aku tidak usah menyemangatinya. Huh. Kuharap Edward cepat bosan dengan Bella. Mike sih cukup manis tapi…wow.
“Sampai nanti, Bella.”
Bella menghampiriku, berhenti beberapa langkah dariku, masih belum yakin. Pipinya merona merah muda.
Aku sekarang cukup mengenalnya untuk yakin bahwa bukan takut yang membuatnya ragu. Rupanya ini ada kaitannya dengan jurang perasaan yang dia bayangkan. Lebih dari dia menyukaiku. Sangat tidak masuk akal!
“Halo,” sapaku dengan suara parau.
Wajahnya makin cerah. “Hai.”
Kelihatannya dia tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi kami diam saja selama berjalan ke kafetaria.
Jaketku bekerja dengan baik—aromanya jadi tidak setajam biasanya. Ini cuma rasa terbakar yang sudah sering kurasakan. Dengan mudah bisa kuabaikan.
Bella nampak resah ketika berjalan di antrian. Tanpa sadar dia memain-mainkan resleting jaketnya, dan mengganti-ganti tumpuan kakinya dengan gugup. Dia sering melirikku, namun tiap kali bertemu pandang, dia langsung menunduk, seakan malu. Apa ini karena ada begitu banyak orang yang menatap kami? Mungkin dia bisa mendengar bisikan-bisikan mereka—gosip yang terucap tidak beda dengan isi kepala mereka.
Atau barangkali dia sadar, dari melihat ekspresiku, bahwa dia dalam kesulitan.
Dia tidak bicara apa-apa sampai aku mengambil makanan untuk dia. Aku tidak tahu kesukaannya apa—belum tahu—jadi aku mengambil satu dari tiap makanan yang ada.
“Apa yang kau lakukan?” desisnya pelan. “Kau tidak mengambil itu semua untukku, kan?”
Aku menggeleng, dan membawa nampannya ke kasir. “Tentu saja separuhnya untukku.”
Alisnya terangkat skeptis, tapi tidak berkomentar. Setelah membayar makanannya, aku mengajaknya duduk di tempat kami bicara minggu lalu. Sepertinya itu sudah berlalu lama sekali. Semuanya tampak berbeda sekarang.
Dia duduk di sebrangku lagi. Kudorong nampannya ke dia.
“Ambil apa saja yang kau mau.”
Dia mengambil sebuah apel dan memutar-mutarnya di tangan. Sorot matanya menyelidik.
“Aku penasaran.”
Benar-benar kejutan.
“Apa yang kau lakukan bila ada yang menantangmu makan?” Dia mengucapkannya dengan sangat pelan hingga tidak mungkin ada orang yang bisa mendengar. Telinga keluargaku lain lagi, jika mereka sedang memperhatikan. Mestinya aku terlebih dulu mengatakan sesuatu ke mereka…
“Kau selalu saja penasaran,” keluhku. Oh, baiklah. Ini bukannya aku belum pernah makan sebelumnya. Ini bagian dari bersikap ksatria. Bagian yang tidak menyenangkan.
Aku mengambil yang terdekat, dan menatap matanya sembari menggigit apapun ini. Tanpa melihat aku tidak tahu apa yang kumakan. Bentuknya tipis dan padat, sama menjijikannya dengan semua makanan manusia lainnya. Aku mengunyah cepat-cepat dan menelannya, menyembunyikan ekspresi jijik di wajahku. Gumpalan makanan itu bergerak pelan dan tidak nyaman di tenggorokanku. Aku mengeluh saat memikirkan harus memuntahkannya lagi nanti. Menjijikan!
Ekspresi Bella syok. Kagum.
“Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau bisa melakukannya, ya kan?”
Hidungnya mengerut dan ia tersenyum. “Aku pernah melakukannya… ketika ditantang. Tidak terlalu buruk.”
Aku tertawa. “Kurasa aku tidak terkejut.”
Mereka terlihat nyaman, ya kan? Dilihat dari bahasa tubuhnya begitu. Nanti biar kuberitahu ke Bella. Edward mencondongkan tubuhnya ke Bella seperti seharusnya jika dia tertarik pada Bella. Dia terlihat tertarik. Dia terlihat…sempurna. Jessica menghela napas. Yummy.
Aku bertemu pandang dengan tatapan penasaran Jessica, dan dia langsung berpaling gugup, cekikikan ke teman sebelahnya.
Hmm. Barangkali sebaiknya aku tetap dengan Mike saja. Realita, bukan fantasi…
“Jessica sedang memerhatikan semua tindak-tandukku.” Aku memberitahu Bella. “Nanti dia akan memaparkannya padamu.”
Kusorongkan sisa makanannya ke Bella—pizza, setelah kulihat—bertanya-tanya bagaimana memulainya. Rasa frustasiku kembali muncul, kata-kata itu terulang kembali di kepalaku: lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.
Dia menggigit sisa pizza tadi. Itu membuatku takjub, melihat begitu percayanya dia padaku. Tentu saja dia tidak tahu aku punya liur berbisa yang beracun—meski tidak akan menular dengan cara seperti itu. Tetap saja, kukira dia akan memperlakukanku dengan cara yang berbeda, seperti sesuatu yang lain. Tapi dia tidak pernah memperlakukanku berbeda— paling tidak, tidak dengan cara yang negatif…
Aku mesti memulainya pelan-pelan.
“Jadi pelayannya cantik, ya?”
Dia mengangkat alisnya. “Kau benar-benar tidak memerhatikan?”
Dia pikir ada perempuan lain yang bisa mengalihkan perhatianku darinya. Lagi-lagi tidak masuk akal.
“Tidak. Aku memikirkan banyak hal.” Diantaranya perhatianku tertuju pada blus tipis yang membalut tubuhnya…
Untungnya sekarang dia memakai sweter jelek ini.
“Perempuan malang,” ujar Bella sambil tersenyum.
Dia senang aku tidak tertarik pada pelayan itu. Cukup bisa dipahami. Sudah berapa kali, coba, aku membayangkan meremukkan Mike Newton sewaktu di kelas Biologi?
Tapi tidak mungkin dia percaya bahwa perasaan manusianya, pengalaman tujuh belas tahunnya yang pendek, bisa lebih kuat dari hasrat abadi yang telah terbangun selama satu abad dalam diriku.
“Sesuatu yang kau katakan pada Jessica…” Aku tidak sanggup membuat suaraku tetap santai. “Well, itu menggangguku.”
Dia langsung mengambil sikap defensif. “Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. Kau tahu kan apa kata pepatah tentang tukang nguping.”
Tukang nguping tidak akan pernah mendengar sesuatu yang baik buat diri mereka, begitu pepatahnya.
“Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan.”
“Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui.”
Ah, yang dia maksud saat aku membuatnya menangis. Penyesalan membuat suaraku makin parau. “Memang. Meski begitu, kau tidak sepenuhnya benar. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan—semuanya. Aku hanya berharap… kau tidak memikirkan beberapa hal.”
Lagi-lagi separuh bohong. Aku tahu, tidak seharusnya aku berharap dia peduli padaku. Tapi toh aku mengharapkannya. Tentu saja aku mengharapkannya.
“Itu sama saja,” gerutunya dengan bersungut-sungut.
“Tapi bukan itu masalahnya sekarang.”
“Lalu apa?”
Dia mencondongkan tubuh ke depan. Tangan kanannya memegangi leher. Dan itu menarik perhatianku. Pasti kulitnya halus sekali…
Fokus, perintahku pada diriku.
“Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” Buatku pertanyaan itu terdengar menggelikan, seakan kata-katanya campur aduk.
Matanya melebar, napasnya terhenti. Kemudian dia berpaling, berkedip cepat. Dia menghela napas pelan.
“Kau melakukannya lagi,” gumamnya.
“Apa?”
“Membuatku terpesona,” akunya, sambil menatap mataku hati-hati.
“Oh.” Hmm. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi itu. Aku juga tidak yakin aku tidak mau membuatnya begitu. Aku masih tidak percaya bisa melakukannya. Tapi itu tidak akan membantu pembicaraan ini.
“Bukan salahmu.” Dia menghela napas lagi. “Kau tak bisa mencegahnya.”
“Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” desakku.
Dia memandangi meja. “Ya.”
Cuma itu yang dia katakan.
“Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar berpendapat begitu?” tanyaku tidak sabar.
“Ya, aku benar-benar berpendapat begitu,” jawabnya pelan, masih menghindari tatapanku. Ada nada sendu pada suaranya. Dan dia tersipu lagi. Giginya mulai menggigit bibirnya.
Aku jadi sadar, pasti sangat sulit buat dia untuk mengakui itu, karena dia benar-benar mempercayainya. Dan aku tidak jauh beda dengan si pengecut Mike Newton, yang menanyakan perasaan Bella duluan sebelum menyatakan perasaannya. Tidak penting bahwa rasanya aku telah mengungkapkan perasaanku dengan jelas, yang pasti, dia tidak pernah menangkapnya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengelak.
“Kau salah.” Aku meyakinkan dia. Pasti dia mendengar kelembutan dalam suaraku.
Bella menatapku. Tatapannya misterius, tidak memberitahu apa-apa. “Kau tak bisa mengetahuinya,” bisiknya pelan.
Menurutnya aku meremehkan perasaannya karena aku tidak bisa mendengar pikirannya. Tapi yang sebenarnya terjadi, dialah yang meremehkan perasaanku.
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Aku bertanya-tanya.
Dia menatapku balik, dengan kerut diantara alisnya, dan sambil menggigit bibir. Untuk kesekian kali, dengan sia-sia aku berharap bisa mendengar pikirannya.
Aku hampir memohon padanya untuk memberitahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya, tapi dia mengangkat jarinya untuk mencegahku bicara.
“Biarkan aku berpikir,” pintanya.
Selama dia cuma mengatur pikiran, aku bisa sabar.
Atau, aku bisa pura-pura sabar.
Dia mengatupkan tangan, mengait dan menguraikan jemarinya yang mungil. Dia mengamati tangannya seakan itu milik orang lain saat dia mulai bicara.
“Well, terlepas dari kenyataannya,” gumamnya ragu-ragu. “Kadang-kadang… aku tidak yakin—aku tidak tahu caranya membaca pikiran—tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengatakan sesuatu yang lain.” Dia tidak mendongak.
Dia menangkapnya, ya kan? Sadarkah dia bahwa hanya karena diriku lemah dan egois maka aku tetap ada disini? Apa dia memandang remeh perasaanku hanya karena itu?
“Peka,” bisikku, dan menghela napas. Kemudian aku melihat dengan ngeri saat ekspresinya berubah terluka. Aku buru-buru menyangkal asumsinya. “Tapi justru itulah kenapa kau salah.” Aku berhenti sebentar, mengingat-ingat kata pertama dari penjelasannya. Kata itu menggangguku, meski tidak terlalu mengerti maknanya. “Apa maksudmu dengan ‘kenyataannya’?”
“Well, lihat aku,” ujarnya.
Aku sedang melihatnya. Yang dari tadi kulakukan adalah melihatnya. Apa maksudnya?
“Aku sangat biasa-biasa saja.” Dia menjelaskan. “Well, kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian, dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris tak berdaya. Sedangkan kau?” dia melambaikan tangan ke arahku, seakan sedang menegaskan sesuatu yang sudah sangat jelas.
Dia pikir dia biasa-biasa saja? Dia pikir, entah bagaimana, aku jauh lebih baik dibanding dirinya? Berdasar perkiraan siapa? Orang konyol yang berpikiran picik seperti Jessica atau Mrs. Cope? Bagaimana mungkin dia tidak menyadari bahwa dia adalah perempuan paling cantik…paling indah… bahkan kata-kata itu tidak cukup untuk melukisan dirinya.
Dan dia tidak menyadari hal itu.
“Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas,” kataku padanya. “Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu…” Aku tertawa kecut. Aku tidak menganggap takdir gelap yang memburunya menggelikan. Namun begitu, kecanggungannya cukup lucu juga. Menggemaskan. Apa mungkin dia mau percaya jika kukatakan dia itu cantik luar-dalam? Mungkin dia lebih percaya dengan bukti. “Tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu di sini.”
Ah, aku ingat harapan dan getaran hati, yang jadi pikiran mereka waktu itu. Yang kemudian berubah menjadi fantasi-fantasi yang mustahil. Mustahil karena Bella tidak menginginkan satupun dari mereka.
Padakulah Bella mengatakan ya.
Senyumku pasti sombong.
Sementara wajahnya kosong karena terkejut. “Aku tak percaya…” gumamnya.
“Percayalah sekali ini saja—kau bukan manusia biasa.”
Keberadaannya sendiri saja cukup jadi alasan untuk menghargai seisi dunia lainnya.
Dia tidak terbiasa dengan pujian, bisa kulihat itu. Satu lagi yang mesti dia biasakan. Dia merona, dan buru-buru mengubah topik pembicaraan. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal.”
“Tidakkah kau mengerti? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. Akulah yang paling peduli, karena seandainya aku bisa melakukannya…” Apakah aku akan bisa jadi cukup tidak egois untuk melakukan apa yang seharusnya? Aku menggeleng putus asa. Aku harus bisa mendapatkan kekuatan itu. Dia pantas memperoleh kehidupan, bukan seperti yang Alice lihat di masa depan. “Seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan…” dan memang itu yang seharusnya, ya kan? Tidak ada itu malaikat yang sembrono. Bella bukan untukku. “Akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu agar tidak terluka, supaya kau tetap aman.”
Karena sudah mengatakannya, aku bersikeras bahwa itulah yang seharusnya terjadi.
Dia mendelik padaku. Entah bagaimana, ucapanku telah membuatnya marah. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?”
Dia sangat marah—begitu lembut dan rapuh. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti orang lain? “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu,” sanggahku dengan suara tertekan, menyadari besarnya perbedaan diantara kami.
Dia menatapku. Kini sorot prihatin menggantikan amarah di matanya, memunculkan kerut diantara dua mata itu.
Pasti ada yang salah dengan dunia ini jika seseorang, yang begitu baik dan rapuh seperti dia, tidak memiliki malaikat pelindung untuk menjaganya tetap aman.
Well, batinku dengan humor gelap, paling tidak dia memiliki vampir pelindung.
Aku tersenyum. Aku senang dengan alasan itu. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa seperti pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.”
Dia tersenyum juga. “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini,” ucapnya santai. Kemudian selama setengah detik wajahnya berubah spekulatif sebelum kemudian tatapannya jadi misterius lagi.
“Belum,” tambahku datar.
“Belum.” Secara mengejutkan dia sependapat. Kukira dia akan menyangkal setiap usaha untuk melindunginya.
Tega-teganya dia. DASAR EGOIS! Tega-teganya dia melakukan hal itu pada kita! Teriakan murka pikiran Rosalie memecah konsentrasiku.
“Tenanglah, Rose,” kudengar bisikan Emmet dari seberang kafetaria. Tangannya merangkul erat pundak Rosalie—menahannya.
Sori, Edward, sesal Alice dalam hati. Dia bisa menebak Bella tahu terlalu banyak dari isi pembicaraanmu…dan, well, akan lebih parah lagi andai aku tidak langsung memberitahu yang sebenarnya. Percayalah.
Aku mengernyit pada gambaran yang mengikutinya, akan apa yang bakal terjadi seandainya Rosalie baru tahu ketika di rumah, dimana dia tidak perlu menahan diri untuk melindungi identitasnya. Aku mesti menyembunyikan Aston Martinku jika dia masih belum juga tenang saat sekolah usai. Gambaran mobil favoritku hancur berkeping-keping membuatku kesal—meski tahu aku pantas menerimanya.
Jasper juga tidak terlalu senang dengan keputusanku.
Biar kutangani mereka nanti. Siang ini waktuku bersama Bella tidak terlalu banyak, dan aku tidak mau menyia-nyiakannya. Dan aku jadi teringat dengan peringatan Alice tadi.
Kugeser jauh-jauh histeria pikiran Rosalie yang masih belum berhenti. “Aku punya pertanyaan lain untukmu.”
“Tanyakan saja,” ujarnya sambil tersenyum.
“Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini, ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?”
Dia cemberut. “Kau tahu, aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. Itu semua salahmu, sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya.”
“Oh, dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku—aku cuma ingin melihat reaksimu.”
Aku tergelak mengingat ekspresi syoknya. Tidak satupun cerita horor tentang diriku bisa membuatnya sesyok itu. Kebenaran tidak membuatnya takut. Dia ingin bersama denganku. Jalan pikirannya benar-benar ruwet.
“Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan menolak?”
“Mungkin tidak. Tapi aku kemudian akan membatalkannya—berpura-pura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki.”
Benar-benar aneh. “Kenapa kau melakukan itu?”
Dia menggeleng, seakan kecewa aku tidak langsung mengerti. “Kau tak pernah melihatku di kelas olahraga, tapi kupikir kau bakal mengerti.”
Ah. “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tak bisa berjalan di permukaan rata tanpa tersandung?”
“Tentu saja.”
“Itu bukan masalah. Tergantung siapa yang memimpin dansanya.”
Selama sepersekian detik, perasaanku meluap gembira pada bayangan merangkulnya pada saat berdansa—dan pasti dia memakai sesuatu yang cantik dan indah ketimbang sweter jelek ini.
Dengan sangat jelas aku ingat bagaimana tubuhnya terasa dibawah pelukanku setelah menyelematkan dia dari terjangan van. Aku lebih bisa mengingat sensasinya ketimbang kepanikanku waktu itu. Dia terasa begitu hangat dan lembut, sangat pas dalam rengkuhan tubuhku…
Aku kembali dari ingatan itu.
“Tapi kau belum bilang—” kataku buru-buru, mencegah dia mendebat soal kecanggungannya, seperti yang jelas-jelas ingin dia lakukan. “Apakah kau sudah mantap ingin ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda?”
Sedikit rumit—memberinya kesempatan untuk memilih, tapi tanpa memberinya pilihan untuk tidak bersamaku. Kurasa itu tetap adil. Lagipula tadi malam aku sudah janji padanya…dan aku senang pada ide untuk memenuhinya—hampir sebesar kecemasanku pada ide itu sendiri.
Sabtu nanti matahari akan bersinar. Aku bisa memperlihatkan diriku yang sebenarnya, jika aku cukup berani untuk menghadapi kengerian dan kejijikan dia. Aku tahu tempat yang tepat untuk mengambil resiko itu…
“Aku terbuka untuk tawaran lain. Tapi aku punya satu permintaan.”
Setuju, tapi dengan syarat. Apa yang dia inginkan?
“Apa?”
“Boleh aku yang mengemudi?”
Apa ini idenya untuk melucu? “Kenapa?”
“Well, terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle, dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kalau dia bertanya lagi, barangkali aku tidak akan berbohong, tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi, dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut.”
Aku memutar bola mataku. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut, kau malah takut dengan caraku mengemudi.” Aku menggeleng tak percaya. Jujur saja, jalan pikirannya betul-betul terbalik.
Edward, panggil Alice mendesak.
Mendadak, aku menatap ke sinar cerah matahari; salah satu dari penglihatan Alice.
Itu tempat yang sangat kukenal, tempat dimana aku akan mengajak Bella—sebuah padang rumput kecil, yang belum pernah dikunjungi siapapun selain diriku. Tempat sunyi yang indah, tempat aku biasa menyendiri—cukup jauh dari jalan setapak atau pemukiman penduduk hingga bahkan pikiranku bisa tenang, tidak mendengar apa-apa.
Alice mengenalinya juga, karena dia telah melihatku disana, pada salah satu penglihatannya yang tidak terlalu lama—salah satu dari penglihatan kabur dan bekedip-kedip yang Alice tunjukkan padaku di pagi ketika Bella kuselamatkan dari terjangan van.
Dalam penglihatan yang berkedip-kedip itu, aku tidak sendirian. Dan sekarang semuanya jelas—Bella bersamaku disana. Berarti aku berani mengambil resiko itu. Bella memandangiku, pelangi menari di depan wajahnya, matanya tidak bisa dijajaki.
Itu tempat yang sama, batin Alice. Pikirannya diliputi kengerian yang tidak cocok dengan penglihatan itu. Tegang, itu mungkin, tapi kenapa ngeri? Apa maksudnya dengan tempat yang sama?
Kemudian aku melihatnya.
Edward! teriak Alice nyaring. Aku mencintainya, Edward!
Aku langsung mengusirnya.
Dia tidak mencintai Bella seperti aku mencintainya. Penglihatannya mustahil. Keliru. Dia pasti salah, melihat sesuatu yang tidak mungkin.
Tidak sampai setengah detik telah berlalu. Bella menatap wajahku penasaran, menunggu persetujuanku atas permintaannya. Apa dia sempat melihat kekalutanku, atau itu terlalu cepat untuk dia?
Aku fokus pada dirinya, pada pembicaraan yang belum selesai ini. Kuusir jauh-jauh Alice, juga penglihatannya yang keliru, dari pikiranku. Hal itu tidak layak mendapat perhatianku.
Meski begitu, aku terlanjur tidak bisa mengimbangi suasana hati Bella. Aku bertanya dengan nada serius dan agak muram, “tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu, kau akan melewatkan hari itu bersamaku?”
Kuusir lebih jauh penglihatan itu, menjaganya agar tidak terlintas di pikiranku.
“Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik,” ucapnya yakin akan hal itu. “Lagi pula, memangnya kita mau kemana?”
Alice pasti salah. Sangat salah. Sama sekali tidak mungkin itu bisa terjadi. Dan itu penglihatan yang sudah sangat lama, sudah tidak relevan lagi. Banyak hal telah berubah.
“Prakiraan cuacanya bagus,” kataku pelan sambil berusaha mengatasi kepanikan dan kebimbanganku. Alice pasti salah. Aku akan melanjutkan seakan aku tidak mendengar atau melihat apa-apa. “Jadi aku akan menghilang untuk sementara… dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau.”
Bella langsung mengerti yang kumaksud; matanya jadi cerah dan bersemangat. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kau maksud mengenai matahari?”
Mungkin, seperti yang sudah-sudah, reaksi dia besok akan berbeda dari yang kukira. Aku tersenyum pada kemungkinan itu. Dan aku berjuang untuk bisa kembali menikmati momen santai ini. “Ya. Tapi…” Dia belum bilang ya. “Kalau kau tidak ingin… berduaan denganku, aku tetap tidak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu.”
Bibirnya mengatup rapat; dia tersinggung.
“Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle—itu baru jumlah populasinya. Untuk ukuran—”
“Tapi nyatanya, insiden yang kau alami tidak bermula di Phoenix,” sanggahku, menyela pembenarannya. “Jadi, lebih baik kau berada di dekatku.”
Dia bisa bersamaku selamanya dan itu tetap masih belum cukup.
Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Kami tidak punya waktu selamanya. Tiap detik berjalan lebih cepat dari sebelumnya; tiap detik mengubah dirinya sementara aku tidak akan pernah berubah.
“Karena itu sudah terjadi, aku tak keberatan berduaan saja denganmu,” ujarnya sependapat.
Bukan, itu lebih karena instingnya yang terbalik.
“Aku tahu.” Aku menghela napas. “Meski begitu, kau harus memberitahu Charlie.”
“Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” tanyanya ngeri.
Aku mendelik ke dia, penglihatan yang tidak lagi mampu kutahan akhirnya berkeliaran di kepalaku.
“Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu,” desisku. Dia mesti memberiku kesempatan—satu orang saksi untuk membuatku tetap waspada.
Kenapa Alice mesti menunjukan penglihatan itu sekarang?
Bella menelan ludah, kemudian menatapku lama. Apa yang dia lihat?
“Kurasa aku akan mengambil resiko itu.”
Ugh! Apa dia tipe orang yang jadi bersemangat ketika nyawanya sedang terancam? Apa dia mencari sesuatu yang bisa memacu adrenalinnya?
Aku mendelik marah ke Alice, yang sedang melirikku dengan tatapan memperingatkan. Di sampingnya, Rosalie menatapku murka. Tapi aku tidak terlalu peduli. Biar saja dia menghancurkan mobilku. Itu cuma mainan.
“Kita bicara yang lain saja,” saran Bella tiba-tiba.
Aku kembali melihat ke arahnya, bertanya-tanya kenapa dia begitu tidak peduli dengan apa yang sudah jelas-jelas di depan mata. Kenapa dia tidak menganggapku sebagai monster, seperti yang semestinya?
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, seakan sedang memastikan tidak ada yang menguping. Dia pasti berencana untuk mengungkit topik yang berhubungan dengan mitos-mitos itu lagi. Matanya berhenti sejenak, badannya membeku, lalu dia kembali melihat ke arahku.
“Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu… untuk berburu? Charlie bilang, itu bukan tempat yang baik untuk hiking, banyak beruang.”
Benar-benar tidak peduli.
Aku menatapnya, mengangkat satu alis.
“Beruang?” Dia menahan napas.
Aku tersenyum kecut saat mengamati hal itu meresap dalam pikirannya. Apa ini akan membuat dia menanggapiku dengan serius?
Dia mengendalikan ekspresinya. “Kau tahu, sekarang bukan musim berburu beruang,” ucapnya sungguh-sungguh dengan mata menyipit.
“Kalau kau membaca dengan teliti, peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata.”
Sejenak dia tidak bisa mengendalikan ekspresinya lagi. Mulutnya ternganga.
“Beruang?” Kali ini dengan nada sangsi, bukan lagi syok.
“Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmet.”
Aku mengamati matanya, melihat dia mengolah ucapanku.
“Hmm,” gumamnya. Dia menunduk dan menggigit pizanya. Dia mengunyah sambil berpikir, lalu meneguk minumannya.
“Jadi,” akhirnya dia mendongak. “Kesukaanmu apa?”
Mestinya aku bisa menduga pertanyaan dia, tapi aku tidak. Bella selalu saja menarik, sekecil apapun itu.
“Singa gunung,” jawabku cepat.
“Ah.” Nadanya santai, detak jantungnya tetap tenang, seakan kita sedang membicarakan tempat makan yang paling enak.
Baiklah kalau begitu. Jika dia memang menganggapnya ini bukan sesuatu yang tidak umum…
“Tentu saja, kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami.” Aku berusaha mengimbangi nada suaranya. “Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi binatang predatornya tinggi—menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. Di sekitar sini banyak rusa dan kijang, dan itu sebenarnya cukup, tapi dimana kesenangannya?”
Dia mendengarkan dengan ekspresi tertarik yang sopan, seakan aku seorang guru yang sedang mengajar. Mau tidak mau aku tersenyum.
“Ya, benar,” gumamnya santai. Dia menggigit pizzanya lagi.
“Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmet.” Aku meneruskan dengan kuliahku. “Mereka baru saja selesai hibernasi, jadi lebih pemarah.”
Tujuh puluh tahun kemudian, dia masih belum bisa melupakan kekalahan pertamanya dulu.
“Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah.” Bella mengangguk-angguk serius.
Aku tertawa terbahak-bahak, menggeleng-geleng pada ketenangannya yang tidak logis. Itu pasti dibuat-buat. “Tolong katakan apa yang benar-benar kau pikirkan.”
“Aku mencoba membayangkannya—tapi tidak bisa.” Kerutan muncul diantara matanya. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?”
“Oh, kami punya senjata.” Kupamerkan gigiku dengan seringai lebar. Kukira dia akan terlonjak, tapi ternyata tetap tenang. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi, kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmet berburu.”
Dia melirik ke meja tempat keluargaku duduk, dan gemetar.
Akhirnya. Kemudian aku tertawa sendiri karena aku tahu sebagian dari diriku berharap dia tetap tidak peduli.
Matanya yang gelap terlihat lebar dan dalam saat menatapku. “Apa kau juga seperti beruang?” suaranya hampir seperti bisikan.
“Lebih seperti singa, atau begitulah kata mereka.” Aku berusaha bicara senormal mungkin. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami.”
Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Kelihatannya dia berusaha tersenyum. “Barangkali.” Kemudian dia menelengkan kepalanya, rasa penasaran terlihat jelas di matanya. “ Apakah aku akan pernah melihatnya?”
Aku tidak perlu gambaran dari Alice untuk mengilustrasikan kengerian ini— imajinasiku sendiri sudah cukup.
“Tentu saja tidak!” Aku menggeram padanya.
Dia menjauh ke belakang. Matanya tertegun sekaligus takut.
Aku bersandar ke kursi, menjauh juga. Dia tidak akan pernah melihatnya. Dia tidak boleh melakukan itu agar aku bisa menjaganya tetap hidup.
“Terlalu menakutkan buatku?” suaranya tetap datar. Sedang jantungnya, biar bagaimanapun, berdetak dua kali lebih cepat.
“Kalau cuma karena itu, aku sudah akan mengajakmu nantai malam,” jawabku ketus. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.”
“Lalu kenapa?” desaknya tidak peduli.
Aku mendelik sengit, menunggu dia untuk takut. Aku sendiri takut. Bisa kubayangkan bagaimana jadinya jika Bella ada di dekatku saat aku sedang berburu…
Matanya masih tetap penasaran dan tidak sabar. Hanya itu. Tidak ada takut. Dia masih menunggu jawabanku.
Tapi satu jamku dengan dia sudah habis.
“Nanti saja jawabnya,” kataku masih kesal, dan aku berdiri. “Kita bakal terlambat.”
Dia memandang ke sekelilingnya, bingung, seakan lupa sedang makan siang. Bahkan seperti lupa sedang berada di sekolah—terkejut bahwa aku dan dia tidak sedang sendirian di tempat yang terpencil. Aku sangat mengerti perasaan itu. Sulit mengingat sekelilingku jika sedang bersamanya.
Dia cepat-cepat bangkit, sedikit terhuyung-huyung, dan menyampirkan tasnya ke pundak.
“Kalau begitu sampai nanti,” jawabnya.
Aku bisa melihat dia belum menyerah; dia benar-benar akan menagih jawabanku.
Midnight Sun halaman 10
Bab 10
Teori
“Boleh aku bertanya satu hal lagi?” Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru mau bertanya lagi.
Aku sudah terpojok, cemas menunggu yang terburuk. Namun, aku cukup tergoda juga untuk bisa memperlama situasi ini; dengan Bella bersamaku, atas kemauannya sendiri. Aku mendesah atas dilema ini, kemudian mengiyakan, “Satu saja.”
“Well…” dia ragu sejenak, seperti sedang mempertimbangkan pertanyaan mana yang mau diungkap. “Katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu, dan aku pergi ke selatan. Aku hanya bertanya-tanya, bagaimana kau mengetahuinya.”
Aku menatap ke luar jendela. Ini dia, satu pertanyaan lagi yang akan mengungkap tidak satupun darinya, tapi terlalu banyak dariku.
“Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura,” tukasnya dengan nada kecewa.
Betapa ironis. Dengan mudah ia bisa mengelak tanpa perlu bersusah payah.
Well, dia mau aku bicara apa adanya. Bagaimanapun juga, pembicaraan ini tidak akan berakhir dengan baik.
“Baiklah kalau begitu,” ujarku akhirnya. “Aku mengikuti aroma tubuhmu.”
Aku ingin melihat wajahnya, tapi terlalu takut dengan apa yang akan kulihat. Aku hanya mendengarkan napasnya, yang makin cepat lalu kembali teratur.
Setelah beberapa saat, dia sudah bicara lagi. Suaranya jauh lebih tenang dari yang kuharapkan. “Kau belum menjawab satu pertanyaan yang tadi…” .
Aku menoleh ke arahnya sambil mengerutkan dahi. Dia juga sedang mengulur-ulur waktu.
“Yang mana?”
“Bagaimana caranya—membaca pikiran?” Dia mengulang pertanyaan di restoran tadi. “Bisakah kau membaca pikiran siapa saja, di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa…?” Dia berhenti, tersipu lagi.
“Itu lebih dari satu pertanyaan.”
Dia hanya menatapku, menunggu jawabannya.
Sudahlah, kenapa tidak sekalian saja kuceritakan? Toh dia sudah bisa menebak sebagian ceritanya. Lagi pula ini topik yang jauh lebih mudah ketimbang perkara besarnya.
“Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja, di mana saja. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. Semakin aku mengenal suara seseorang, meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Tapi tetap saja, tak lebih dari beberapa mil.”
Aku coba mencari cara untuk menggambarkannya supaya dia bisa mengerti. Sebuah analogi yang bisa membantu. “Kurang lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang, semua bicara serentak. Hanya suara senandung—suara-suara dengungan di latar belakang. Setelah fokus pada satu suara, barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. Kebanyakan aku mendengarkan semuanya—dan itu bisa sangat mengganggu. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal,”—aku meringis—“ketika aku sedang tidak sengaja menjawab isi pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.”
“Menurutmu kenapa kau tidak bisa mendengarku?” Dia bertanya-tanya.
Aku memberinya kebenaran dan analogi lain “Aku tidak tahu. Satu-satunya dugaanku, mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. Dengan kata lain, misalnya pikiranmu ada di gelombang AM, sementara aku hanya bisa menangkap gelombang FM.”
Aku sadar dia pasti tidak akan suka analogi itu. Dan aku tersenyum membayangkannya. Dia tidak akan mengecewakan tebakanku.
“Pikiranku tidak berjalan dengan benar?” protesnya dengan suara tinggi. “Maksudmu aku aneh?”
Ah, ironi lagi.
“Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku, tapi justru kau yang khawatir dirimu aneh.” Aku tertawa. Dia mengerti hal yang kecil-kecil, namun terbalik memahami gambaran besarnya. Selalu saja instingnya keliru…
Dia menggigit bibirnya, kerut diantara matanya semakin dalam.
“Jangan khawatir,” aku meyakinkan. “Itu cuma teori…” Dan ada teori lain yang lebih penting untuk didiskusikan. Teorinya dia. Dan aku tidak sabar ingin cepat-cepat diselesaikan. Makin mengulur-ulur waktu justru membuat makin tersiksa.
“Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu,” ujarku dengan perasaan ambigu, antara was-was dengan enggan.
Dia mengambil napas dalam-dalam, masih sambil menggigit bibir—aku khawatir dia akan melukai dirinya sendiri. Dia menatap kedalam mataku, wajahnya gelisah.
“Bukankah sekarang kita sudah melewati tahap mengelak?” desakku halus.
Dia menunduk, bergulat dengan pikirannya. Tiba-tiba, dia mengejang dan matanya membelalak ngeri. Untuk pertama kali, ekspresi wajahnya ketakutan.
Napasnya tertahan. “Gila!”
Aku kalang-kabut. Apa yang dia lihat? Bagaimana aku menakutinya?
Kemudian dia berteriak panik, “Pelankan mobilnya!”
“Kenapa?” aku sama sekali tidak mengerti.
“Kau melaju seratus mil per jam!” jeritnya padaku. Dia melihat keluar jendela dengan tatapan ngeri.
Hal sepele begini, cuma karena ngebut, membuat dia teriak ketakutan?
Aku memutar bola mataku. “Tenang, Bella.”
“Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” sergahnya masih dengan suara tinggi dan tajam.
“Kita tidak akan kenapa-kenapa.”
Dia menghirup napas dalam-dalam, kemudian pelan-pelan bicara dengan lebih tenang. “Kenapa, kau terburu-buru seperti ini?”
“Aku selalu mengemudi seperti ini.”
Aku bertemu pandangan dengannya, dan terhibur oleh ekspresi syok dia.
“Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” teriaknya lagi.
“Aku belum pernah kenapa-kenapa, Bella—aku bahkan belum pernah ditilang.” Aku tersenyum lebar dan menunjuk keningku. Itu jadi lebih menggelikan—bisa melucu tentang sesuatu yang rahasia dan ganjil dengan Bella. “Radar pendeteksi alami,” kataku.
“Sangat lucu,” sindirnya dengan nada takut daripada marah. “Charlie polisi, kau tidak lupa, kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. Lagi pula, kalau kau menerjang pohon dan membuat kita berdua cedera, barangkali kau masih bisa selamat.”
“Barangkali,” kataku mengiyakan dan tertawa sebentar. Ya, nasib kamu berdua akan sedikit berbeda jika terjadi apa-apa. Wajar dia takut, meski dengan kelihaianku mengemudi… “Tapi kau tidak.”
Sambil menghela napas aku menurunkan kecepatan. “Puas?”
Dia mengamati speedometernya. “Hampir.”
Apa ini masih terlalu cepat? “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan,” gumamku, tapi membiarkan jarumnya turun beberapa garis lagi.
“Kau bilang ini pelan?” protesnya.
“Sudah cukup menngomentari cara mengemudiku,” kataku tidak sabar. Sudah berapa kali dia mengelak pertanyaanku? Tiga kali? Empat? Apa spekulasi dia semenakutkan itu? Aku harus tahu—secepatnya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu.”
Dia menggigit bibirnya lagi, ekspresinya berubah was-was.
“Aku tidak bakal tertawa.” Suaraku melunak. Aku tidak ingin dia jadi tertekan.
Kuharap alasan dia enggan bicara hanya karena malu.
“Aku lebih khawatir kau bakal marah padaku,” bisiknya.
Kupaksakan suaraku untuk tetap tenang. “Seburuk itukah?”
“Kurang lebih, ya.”
Dia menunduk, menolak menatap mataku. Beberapa detik telah lewat.
“Katakan saja.”
Suaranya sangat pelan. “Aku tak tahu bagaimana memulainya.”
“Kenapa kau tidak mulai dari awal…” Aku ingat ucapannya saat di restoran tadi. “Katamu kesimpulanmu tidak muncul begitu saja.”
“Tidak.” Dia kembali diam lagi.
Aku mengira-ngira sesuatu yang mungkin menginspirasi dia. “Apa yang memicunya— buku? Film?”
Aku mestinya mengecek koleksi bukunya. Aku tidak menyangka jika novelnya Bram Stroker atau Annie Rice ada diantara tumpukan buku-buku dia…
“Tidak, semuanya berawal hari Sabtu, di pantai.”
Ini lebih mengejutkan lagi. Gosip tentang kami belum pernah menyimpang seaneh itu —atau setepat itu. Apa ada rumor baru yang kulewatkan?
Bella melirik dan melihat kekagetan di wajahku.
“Aku bertemu teman lama keluargaku—Jacob Black.” Dia melanjutkan. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi.”
Jacob Black—nama itu asing, namun mengingatkan pada sesuatu… pada suatu masa jauh ke belakang… Aku menatap keluar, mencari-cari dalam ingatanku, berusaha menemukan hubungannya.
“Ayahnya salah satu tetua suku Quileute,” tambahnya.
Jacob Black. Ephraim Black. Keturunannya, tidak salah lagi.
Ini benar-benar buruk.
Bella tahu yang sebenarnya.
Mendadak pikiranku jadi tidak karuan, pada saat bersamaan, jalanan di depan membelok. Badanku kaku karena merana—mematung, tidak bergerak, kecuali sedikit gerakan otomatis untuk membelokkan kemudi.
Bella tahu yang sebenarnya.
Tapi…, jika dia sudah tahu sejak kemarin Sabtu…, berarti semalaman ini dia sudah tahu… Dan tetap saja…
“Kami jalan-jalan,” dia melanjutkan. “Dan dia menceritakan beberapa legenda tua— kurasa dia mencoba menakut-nakutiku. Dia menceritakan salah satunya…”
Dia berhenti sebentar, tapi sudah tidak ada gunanya ragu-ragu; aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Satu-satunya misteri yang tersisa adalah mengapa ia masih disini denganku?
“Lanjutkan…”
Dia menghembuskan napas, ucapannya lebih sekedar bisikan. “Tentang vampir.”
Aku berjengit mendengarnya, namun segera bisa menguasai diri. Entah bagaimana, itu jauh lebih parah ketimbang tahu kalau dia tahu; mendengar dia mengucapkan kata itu.
“Dan kau langsung teringat padaku?”
“Tidak. Dia… menyebut keluargamu.”
Sungguh ironis, justru keturunan Ephraim sendirilah yang telah melanggar sumpah yang ia buat. Cucunya sendiri, atau barangkali cicitnya. Berapa tahun sudah berselang? Tujuh puluh tahun?
Seharusnya aku sadar bahwa bukan para tetua, yang percaya dengan legenda itu, yang mesti diwaspadai. Tapi, tentu saja, adalah generasi mudanya—yang telah diperingatkan, tapi dipikirnya itu cuma kisah takhayul yang bisa ditertawakan. Dan disitulah letak bahaya yang sebenarnya.
Itu artinya sekarang aku bebas untuk membantai suku kecil itu, dan aku tidak keberatan. Ephraim dan para pelindungnya telah lama mati…
“Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol,” ujar Bella tiba-tiba. Suaranya kini jadi was-was. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.”
Lewat sudut mataku, aku melihat dia meremas-remas tangannya gelisah.
“Itu salahku,” ucapnya kemudian setelah diam sejenak. Ia tertunduk malu. “Aku yang memaksanya bercerita padaku.”
“Kenapa?” Sekarang tidak sulit untuk menjaga suaraku tetap tenang. Yang terburuk telah lewat. Selama kami berdua terus bicara tentang asal-usul teori dia, maka tidak perlu membahas bagaimana kelanjutannya.
“Lauren mengatakan sesuatu tentang kau—dia mencoba memprovokasiku.” Wajahnya merengut saat mengingatnya. Pikiranku sedikit teralihkan, membayangkan bagaimana Bella bisa terprovokasi oleh gunjingan tentang diriku… “Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang kalau keluargamu tidak datang ke reservasi. Hanya saja, sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku, untuk memancingnya agar mau cerita.”
Kepalanya tertunduk lebih dalam lagi, ekspresinya terlihat…bersalah.
Aku berpaling dan tergelak. Dia merasa bersalah? Apa coba yang telah dia lakukan sampai dia merasa tercela sedemikian rupa?
“Memancing bagaimana?”
“Aku mencoba merayunya—dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga.” Suaranya berubah ragu saat mengingat kesuksesannya itu.
Aku bisa membayangkan—mengingat daya tariknya di mata para lelaki, dan ketidaksadaran dia atas hal itu—jadi betapa luar biasanya dia ketika mencoba untuk mengeluarkan pesonanya. Aku jadi merasa kasihan pada bocah lugu yang telah menjadi korban daya pikatnya yang luar biasa itu.
“Kalau saja aku melihatnya…” Dan aku tertawa membayangkannya. Andai saja aku bisa mendengar reaksi bocah itu, menyaksikan penaklukannya secara langsung. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona—Jacob Black yang malang.”
Ternyata aku tidak terlalu marah kepada sumber kebocoran rahasiaku, tidak seperti yang kukira akan kurasakan. Bocah itu tidak tahu apa-apa. Dan bagaimana mungkin ada pria yang bisa menolak kemauan gadis ini? Aku justru bersimpati pada bocah itu, Bella sama sekali tidak tahu bagaimana dampaknya terhadap pikiran Jacob Black yang malang itu.
Aku merasakan wajah Bella yang tersipu menghangatkan udara diantara kami. Aku melirik ke arahnya, dia sedang memandang ke luar jendela. Dia tidak bicara lagi.
“Lalu, apa yang kau lakukan?” tanyaku pelan. Waktunya kembali ke cerita horor.
“Aku mencari keterangan di internet.”
Betapa praktisnya. “Dan, apakah hasilnya membuatmu yakin?”
“Tidak,” jawabnya. “Tidak ada yang cocok. Kebanyakan konyol. Kemudian…”
Dia diam lagi. Aku mendengar giginya terkatup rapat.
“Apa?” desakku. Apa yang dia temukan? Apa yang membuat mimpi buruk ini jadi masuk akal buat dia?
Ada jeda sejenak, dan kemudian ia berbisik. “Kuputuskan itu tidak penting.”
Syok membekukan pikiranku selama sepersekian detik. Kemudian semuanya jadi jelas. Kenapa tadi ia menyuruh teman-temannya pergi ketimbang pulang bersama mereka. Kenapa ia kembali masuk kedalam mobilku dan bukannya lari ketakutan mencari polisi…
Reaksinya selalu salah—selalu sangat salah. Dia menarik bahaya ke arahnya. Dia mengundangnya.
“Itu tidak penting?” Aku hampir menggeram karena marah. Bagaimana caranya aku bisa melindungi seseorang yang sangat…sangat…sangat tidak ingin dilindungi?
“Tidak,” jawabnya dengan suara yang begitu lembut. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini.”
Dia sungguh tidak masuk akal.
“Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?”
“Tidak.”
Aku mulai mempertanyakan, apa kondisi psikisnya benar-benar stabil.
Barangkali aku bisa mengatur agar ia mendapat perawatan yang terbaik… Carlisle pasti punya koneksi dokter yang terbaik, terapis yang paling andal. Barangkali sesuatu bisa dilakukan untuk menyembuhkan apapun yang salah dari dirinya, apapun itu yang jadi penyebab hingga ia bisa duduk dengan tenang di samping seorang vampir. Aku akan selalu mengawasi selama dia dirawat, seperti cara biasanya, dan mengunjunginya sesering yang dibolehkan…
“Kau marah,” keluhnya. “Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa.”
Kata-katanya itu…seakan dengan menyembunyikan pendapat tidak masuk akalnya itu akan bisa menolong kerumitan ini.
“Tidak. Lebih baik aku tahu apa yang kau pikirkan—bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras.”
“Jadi aku salah lagi?” Kini nadanya sedikit menantang.
“Bukan itu maksudku!” Gigiku terkatup rapat lagi. “’Itu tidak penting!” ulangku dengan nada pedas.
Dia menahan napas. “Aku benar?”
“Apakah itu penting?” balasku.
“Tidak juga.” Suaranya sudah tenang lagi. “Tapi aku memang penasaran.”
Tidak juga. Itu tidak penting. Dia tidak peduli. Dia tahu aku bukan manusia, seorang monster, dan hal itu tidak penting buatnya.
Disamping mencemaskan kewarasannya, aku mulai merasakan sebungkah harapan.
Tapi aku segera membuangnya jauh-jauh.
“Apa yang membuatmu penasaran?” Tidak ada lagi rahasia yang tersisa, cuma detil-detil kecil.
“Berapa umurmu?”
Jawabanku sudah otomatis dan mendarah daging. “Tujuh belas.”
“Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?”
Aku mencoba untuk tidak tersenyum saat mendengar nada protesnya. “Cukup lama.”
“Oke.” Mendadak dia jadi bersemangat. Dia tersenyum padaku. Ketika aku menatap balik, lagi-lagi dengan perasaan cemas dengan kondisi mentalnya, senyumannya justru makin lebar. Aku cuma meringis.
“Jangan tertawa.” Dia mewanti-wanti. “Tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?”
Bagaimanapun juga aku tertawa. Sepertinya riset dia tidak menemukan sesuatu yang baru. “Mitos.”
“Terbakar matahari?”
“Mitos.”
“Tidur di peti mati?”
“Mitos.”
Tidur sudah bukan lagi jadi bagian hidupku sejak lama—tidak hingga beberapa malam terakhir saat aku mengawasi Bella bermimpi…
“Aku tidak bisa tidur,” gumamku, menjawab pertanyaannya terus terang.
Dia terdiam sejenak.
“Sama sekali?”
“Tidak pernah.” Aku menghela napas.
Kupandangi mata coklatnya yang dalam, dan aku jadi rindu untuk tidur. Bukan untuk melarikan diri dari bosan, seperti sebelumnya, tapi lebih karena untuk bisa bermimpi. Barangkali, jika aku bisa tidur, jika aku bisa bermimpi, maka untuk beberapa saat aku bisa tinggal di dunia dimana aku dan Bella bisa bersama-sama. Dia memimpikan aku. Aku ingin memimpikan dia.
Dia menatap balik, ekspresinya keheranan. Aku pun berpaling.
Aku tidak mungkin memimpikan dia. Tidak seharusnya dia memimpikan aku.
“Kau belum melontarkan pertanyaan yang paling penting.” Jantungku semakin beku, lebih keras dari biasanya. Dia harus dipaksa untuk memahami. Dia harus menyadari bahaya apa yang sedang ia hadapi. Dia harus kubuat mengerti bahwa semua ini adalah penting— jauh lebih penting dari pertimbangan apapun. Pertimbangan-pertimbangan seperti bahwa aku mencintai dia.
“Yang mana?” tanyanya terkejut dan tidak sadar.
Itu cuma membuat suaraku makin parau. “Kau tidak peduli dengan makananku?”
“Oh, itu.” Dia bicara begitu pelan hingga aku tidak bisa mengartikan intonasinya.
“Ya, itu. Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?”
Dia tersentak mendengar pertanyaanku yang langsung ke sasaran. Akhirnya. Dia mengerti juga.
“Well, Jacob mengatakan sesuatu tentang itu.”
“Apa yang dikatakan Jacob?”
“Dia bilang kau tidak… memburu manusia. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang.”
“Dia bilang kami tidak berbahaya?” ulangku sinis.
“Tidak juga,” dia membetulkan. “Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka, untuk berjaga-jaga.”
Aku memandang lurus kedepan. Pikiranku menggeram putus asa. Tenggorokanku terbakar oleh rasa haus yang sangat kukenal.
“Jadi apakah itu benar?” Suaranya setenang seakan sedang membicarakan laporan cuaca. “Tentang tidak memburu manusia?”
“Suku Quileute punya ingatan yang panjang.”
Dia mengangguk sendiri sambil berpikir keras.
“Tapi jangan senang dulu,” kataku cepat-cepat. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Kami masih berbahaya.”
“Aku tidak mengerti.”
Tentu saja dia tidak mengerti. Bagaimana caranya membuat dia mengerti?
“Kami berusaha,” aku coba menjelaskan pelan-pelan. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. Tapi kadang kami juga membuat kesalahan. Aku, contohnya, membiarkan diriku berduaan denganmu.”
Aromanya masih sangat tajam di dalam sini. Aku sudah mulai terbiasa, aku hampir bisa mengabaikannya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa tubuhku masih menginginkan dia untuk alasan yang salah. Liur masih membanjiri mulutku.
“Kau sebut ini kesalahan?” suaranya terdengar sedih. Dan itu meluluhkanku. Dia ingin bersama denganku—terlepas dari segalanya, dia ingin bersama denganku.
Harapan kembali mengembang. Dan lagi-lagi kembali kukibas.
“Kesalahan yang sangat berbahaya.” Aku mengatakan sejujur-jujurnya, berharap akhirnya dia bisa mengerti.
Selama beberapa saat dia tidak menanggapi. Bisa kudengar irama napasnya berubah— jadi tidak beraturan, yang anehnya tidak seperti ketakutan.
“Ceritakan lagi,” ujarnya tiba-tiba. Suaranya bergetar sedih.
Aku mengamati baik-baik.
Ah, dia terluka. Bagaimana bisa aku membiarkan ini?
“Apa lagi, yang ingn kau ketahui?” Aku mencari-cari cara untuk membuatnya tidak terluka. Dia tidak boleh terluka. Aku tidak boleh membiarkan dia sampai terluka.
“Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia?” Suaranya masih sedih dan putus asa.
Bukankah sudah jelas? Atau, barangkali ini juga tidak penting buat dia.
“Aku tidak ingin menjadi monster,” gumamku.
“Tapi binatang tidak cukup bukan?”
Aku mencari perbandingan lain agar dia bisa mengerti. “Aku tidak yakin tentu saja, tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dan susu kedelai; kami menyebut diri kami vegetarian, lelucon di antara kami sendiri. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami—atau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Hampir sepanjang waktu.” Suaraku merendah; aku merasa malu atas bahaya yang kuakibatkan padanya. Bahaya yang terus saja kubiarkan… “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya.”
“Apakah sekarang sangat sulit bagimu?”
Aku menghela napas. Tentu saja dia akan menanyakan pertanyaan yang tidak ingin kujawab. “Ya,” jawabku terus-terang.
Kali ini aku bisa menebak respon fisiknya dengan benar: irama napasnya terjaga, detak jantungnya teratur. Aku sudah menduga itu, tapi tetap tidak bisa memahaminya. Kenapa dia tidak takut?
“Tapi kau tidak sedang lapar.” Dia kedengaran yakin.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Matamu,” ungkapnya begitu saja. “Sudah kubilang aku punya teori. Aku memperhatikan bahwa orang-orang—khususnya cowok—jadi lebih pemarah ketika mereka lapar.”
Aku terkekeh mendengar istilahnya: pemarah. Kedengarannya lebih bersahabat, tapi lagi-lagi tepat sasaran. “Kau ini memang pengamat, ya kan?” Aku kembali tertawa.
Dia sedikit tersenyum. Kerut diantara matanya muncul lagi, sepertinya dia sedang berkonsentrasi pada sesuatu.
“Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan Emmet?” tanyanya setelah tawaku reda. Nada bicaranya yang biasa-biasa saja sungguh menakjubkan, sekaligus membuat frustasi. Bagaimana bisa dia menerimanya begitu saja. Justru aku yang lebih mendekati syok ketimbang dia.
“Ya.” Aku hampir memberitahu sebatas itu saja, namun aku merasakan dorongan yang sama seperti di restoran tadi: Aku ingin dia mengenal diriku. “Aku tidak ingin pergi.” Aku melanjutkan pelan-pelan, “tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku tidak sedang haus.”
“Kenapa kau tidak ingin pergi?”
Aku mengambil napas panjang, dan kemudian menoleh, menatap matanya. Kejujuran yang seperti ini sama sulitnya.
“Itu membuatku… khawatir…”—kurasa istilah itu cukup memadai, meski masih belum cukup kuat—“berada jauh darimu. Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak kenapa-kenapa Kamis lalu. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. Dan setelah apa yang terjadi malam ini, aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan ini tanpa tergores.” Lalu aku ingat bekas luka di telapak tangannya. “Well, tidak benar-benar tanpa tergores sebetulnya.”
“Apa?”
“Tanganmu…”
Dia menghela napas dan cemberut. “Aku terjatuh.”
“Sudah kuduga.” Aku tak sanggup menahan senyum. “Kurasa, mengingat siapa dirimu, kejadiannya bisa lebih buruk lagi—dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. Tiga hari yang amat panjang. Aku benar-benar membuat Emmet kesal.” Dan sepertinya Emmet sampai sekarang masih kesal, juga seluruh keluargaku. Kecuali Alice…
“Tiga hari?” Suaranya mendadak berubah tajam. “Bukankah kau baru kembali hari ini?”
Aku tidak mengerti kenapa dia jadi kesal. “Tidak, kami kembali hari Minggu.”
“Lalu kenapa tak satu pun dari kalian masuk sekolah?”
Kemarahannya membuatku bingung. Kelihatannya dia tidak sadar kalau pertanyaan itu masih ada hubungannya dengan mitos-mitos tadi.
“Well, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, dan memang tidak,” jawabku. “Tapi aku tak bisa keluar ketika matahari bersinar—setidaknya, tidak di tempat yang bisa dilihat orang.”
Jawabanku mengalihkan dia dari kekesalannya yang misterius. “Kenapa?” Dia menelengkan kepalanya ke satu sisi.
Aku ragu bisa menemukan analogi yang pas untuk menjelaskan yang satu ini. Jadi aku cuma mengatakan, “kapan-kapan akan kutunjukkan padamu.”
Kemudian aku jadi bertanya-tanya, apa ini akan jadi janji yang pada akhirnya akan kuingkari. Apakah aku akan melihatnya lagi setelah malam ini? Apa aku cukup mencintai dia namun juga sanggup untuk meninggalkannya?
“Kau kan bisa meneleponku,” ucapnya pelan.
Jalan keluar yang aneh. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja,”
“Tapi aku tidak tahu di mana kau berada. Aku—” mendadak ia berhenti, dan memandangi tangannya.
“Apa?”
“Aku tidak suka,” ucapnya malu, kulit di sekitar pipinya menghangat. “Tidak bertemu denganmu. Itu juga membuatku was-was.”
Apa kau puas sekarang? Bentakku pada diriku sendiri. Well, inilah ganjarannya karena sudah berharap.
Aku bingung, gembira, ngeri—sebagian besar ngeri—menyadari bagaimana akhirnya angan-anganku mendekati kenyataan. Inilah alasannya kenapa ‘tidak penting’ jika aku adalah seorang monster. Alasan yang sama persis dengan alasan kenapa segala aturan itu juga tidak penting buatku; kenapa yang benar dan salah jadi kabur, kenapa segala prioritasku hanya terpusat pada gadis ini.
…Bella juga menyukaiku.
Aku tahu itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan bagaimana aku mencintai dia. Tapi itu sudah cukup buat dia untuk mengambil resiko dengan duduk disini bersamaku. Untuk melakukannya dengan senang hati.
…Cukup untuk membuatnya merana jika aku melakukan tindakan yang benar dan meninggalkannya.
Adakah yang bisa kulakukan yang tidak akan melukainya? Apa saja?
Aku seharusnya tetap pergi. Aku seharusnya tidak kembali ke Forks. Aku hanya akan membuatnya menderita.
Pertanyaannya sekarang, apakah itu akan menghentikan keinginanku untuk tetap tinggal? Apakah itu bisa mencegahku untuk menjadikannya lebih buruk lagi?
Melihat perasaanku saat ini, merasakan kehangatannya di sampingku…
Tidak, tetap tidak bisa. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku. Aku tidak akan sanggup untuk pergi. Aku tidak akan sanggup meninggalkan dia.
“Ah.” Aku mengerang tak berdaya. “Ini salah.”
“Memangnya aku bilang apa?” tanyanya cepat-cepat, merasa bersalah.
“Tidakkah kau mengerti, Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana, tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi. Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi.” Itulah yang sebenarnya, sekaligus kebohongan. Bagian diriku yang paling egois mengawang-awang karena tahu dia juga menginginkan aku seperti aku menginginkan dia. “Ini salah. Ini tidak aman. Aku berbahaya, Bella—kumohon, mengertilah.”
“Tidak.” Bibirnya mencebik merajuk.
Aku berperang dengan diriku sendiri begitu hebatnya—sebagian ingin dia menerimaku apa adanya, sebagian ingin dia mendengar peringatanku dan lari—sehingga kata-kata yang keluar berupa geraman. “Aku serius.”
“Begitu juga aku.” Dia bersikeras. “Sudah kubilang, tidak penting kau itu apa. Sudah terlambat.”
Terlambat?
Dalam ingatanku, dunia begitu muram, gelap dan pucat, saat aku mengawasi bayang-bayang hitam merangkak di pekarangan rumah Bella menuju sosoknya yang tertidur. Tak terelakkan dan tak terhentikan. Bayang-bayang itu mencuri rona pada kulitnya, dan menenggelamkan dia kedalam kegelapan.
Terlambat?
Penglihatan Alice muncul di kepalaku, mata merah-darah Bella menatapku datar. Tanpa ekspresi—tapi tidak mungkin dia tidak membenciku atas masa depan itu. Membenciku karena telah merampas segalanya. Merampas hidupnya dan jiwanya.
Ini belum terlambat.
“Jangan pernah katakan itu,” desisku.
Dia melihat keluar jendela, dan dia menggigit bibirnya lagi. Tangannya mengeras di pangkuannya. Napasnya tersedak dan tak beraturan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Aku harus tahu.
Dia menggeleng tanpa melihat ke arahku. Aku melihat sesuatu berkilau di pipinya, seperti kristal.
Perasaanku langsung nyeri. “Kau menangis?” Aku membuatnya menangis. Aku melukainya sedalam itu.
Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Tidak,” elaknya dengan suara gemetar.
Instingku yang terpendam dalam mendorongku untuk meraih dia—dalam detik itu aku merasa menjadi lebih manusia dari kapanpun. Tapi kemudian aku ingat bahwa aku…bukan. Dan kuturunkan tanganku.
“Maafkan aku,” sesalku dengan rahangku terkunci. Bagaimana bisa aku mengatakan padanya seberapa menyesalnya aku? Maaf atas segala kesalahan bodoh yang telah kubuat. Maaf atas keegoisanku yang tak beujung. Maaf atas nasibnya yang sial karena untuk pertama kalinya telah menginspirasi aku pada kisah cinta yang tragis ini. Maaf juga atas sesuatu yang diluar kendaliku—bahwa aku telah menjadi monster yang dipilih oleh takdir untuk mengakhiri hidupnya.
Aku mengambil napas dalam-dalam—mengabaikan rasa perih yang diakibatkan aromanya—dan berusaha menguasai diri.
Aku ingin mengganti topik, untuk memikirkan sesuatu yang lain. Dan untung bagiku, rasa penasaranku pada gadis ini tidak ada habis-habisnya. Aku selalu punya pertanyaan.
“Aku bertanya-tanya,” kataku kemudian.
“Ya?” Dia berusaha tegar, namun air mata masih menggantung di suaranya.
“Apa yang kau pikirkan di lorong tadi, sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu—kau tidak terlihat setakut itu, kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu.” Aku ingat ekspresinya—sambil berusaha melupakan dari mata siapa aku melihatnya—tatapannya penuh tekad.
“Aku sedang mencoba mengingat bagimana cara menghadapi serangan. Kau tahu kan, ilmu bela diri,” jawabnya dengan lebih terkendali. Tapi kemudian nadanya yang tenang tidak berlanjut, nadanya berubah jadi marah, “Aku bermaksud menghancurkan hidungnya hingga melesak ke kepala.”
Kini kemarahannya yang menggemaskan tidak lagi lucu. Aku bisa melihat sosoknya yang rapuh—hanya balutan sutra diatas permukaan kaca—terpojok oleh manusia bengis kekar yang ingin menyakitinya. Amarah mendidih di belakang kepalaku.
“Kau akan melawan mereka?” Aku ingin mengerang. Instingnya mematikan—bagi dirinya sendiri. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?”
“Aku sering terjatuh kalau lari,” ucapnya malu-malu.
“Bagaimana kalau berteriak meminta tolong?”
“Aku juga bermaksud melakukannya.”
Aku menggeleng-geleng tidak percaya. Bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup sebelum datang ke Forks?
“Kau benar.” Suaraku terdengar masam. “Aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.”
Dia menghela napas, dan memandang keluar jendela. Kemudian ia kembali menatapku.
“Apakah besok kita akan bertemu?” pintanya tiba-tiba.
Karena toh akhirnya akan ke neraka juga, jadi kenapa tidak sekalian saja.
“Ya—ada tugas yang harus dikumpulkan.” Aku tersenyum padanya. Rasanya menyenangkan bisa melakukannya. “Aku akan menunggumu saat makan siang.”
Jantungnya berdegup kencang; jantungku yang mati mendadak terasa hangat.
Aku menghentikan mobil di depan rumahnya. Dia tetap tidak bergerak.
“Kau janji akan datang besok?”
“Aku janji.”
Kok bisa-bisanya melakukan sesuatu yang salah tapi terasa semenyenangkan ini? Pasti ada yang keliru.
Dia mengangguk puas, dan mulai mencopot jaketku.
Aku buru-buru mencegahnya. “Kau boleh menyimpannya.” Aku ingin dia memiliki sesuatu dariku. Sebuah kenang-kenangan, seperti tutup botol dalam sakuku… “Kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok.”
Dia tetap mengembalikannya padaku sambil tersenyum menyesal. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie.”
Bisa kubayangkan. Aku pun tersenyum. “Oh, benar.”
Dia sudah memegang gagang pintu mobil, tapi berhenti. Dia enggan pergi, sama seperti aku enggan dia pergi.
Aku tidak mau meninggalkannya tanpa perlindungan, bahkan hanya sebentar saja…
Peter dan Charlotte sedang dalam perjalanan, pasti sudah jauh melewati Seattle. Tapi selalu ada yang lain. Dunia ini bukan tempat yang aman buat manusia, dan buat dia kelihatannya jauh lebih berbahaya lagi.
“Bella?” Dan aku terkejut dengan betapa menyenangkannya rasanya hanya dengan mengucapkan namanya saja.
“Ya?”
“Maukah kau berjanji padaku?”
“Ya.” Dia langsung setuju. Tapi kemudian tatapannya menajam, seakan sedang mencari-cari alasan untuk menolak.
“Jangan pergi ke hutan seorang diri.” Aku bertanya-tanya, apakah permintaan itu akan memicu penolakan di matanya.
Dia mengerjap, kaget. “Kenapa?”
Aku menoleh ke kegelapan malam yang tidak bisa dipercaya. Ketiadaan cahaya bukan masalah buat mataku, tapi itu juga berlaku sama buat pemburu lainnya. Itu hanya membutakan manusia.
“Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Anggap saja begitu.”
Dia gemetar, namun cepat menguasai diri, dan bahkan sempat tersenyum ketika mengatakan, “terserah apa katamu.”
Napasnya menyentuh wajahku, begitu manis dan harum.
Aku bisa tinggal begini semalaman, tapi dia butuh tidur. Dua keinginan itu kelihatannya sama kuat, dan masih berperang dalam diriku: menginginkan dia versus menginginkan dia aman.
Aku mendesah pada kemustahilan ini.
“Sampai ketemu besok,” ucapku, meski tahu aku akan segera menemuinya jauh sebelum itu. Dia sendiri baru akan bertemu denganku besok.
“Baik kalau begitu.” Kemudian dia membuka pintu.
Lagi-lagi terasa nyeri sekali, melihatnya pergi.
Aku mencondongkan badan ke arahnya, ingin menahan dia disini. “Bella?”
Dia menoleh, dan membeku, terkejut mendapati wajah kami begitu dekat.
Begitu pula denganku, meluap-luap karena kedekatan ini. Kehangatan datang bergelombang membasuh wajahku. Aku bisa merasakan segalanya kecuali kelembutan kulitnya…
Jantungnya berdegup kencang, dan bibirnya merekah.
“Tidur nyenyak ya,” bisikku, dan segera menjauh sebelum dorongan dalam tubuhku— entah haus yang biasanya atau hasrat aneh yang baru kali ini kurasakan—akan membuatku melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya.
Untuk sesaat dia masih duduk diam tidak bergerak, matanya melebar dan membeku.
Terpesona, kukira.
Begitu pula denganku.
Dia kembali menguasai diri—meski wajahnya masih agak terpana—dan terlihat limbung ketika keluar dari mobil hingga harus berpegangan agar tidak jatuh.
Aku tertawa geli—berharap dia tidak mendengarnya.
Aku melihat dia sempat tersandung ketika sampai di depan pintu. Untuk sementara aman. Dan aku akan segera kembali untuk memastikan.
Aku bisa merasakan tatapannya mengikutiku saat mobilku melaju pergi. Ini merupakan sensasi yang berbeda dari biasanya. Biasanya, secara harfiah aku menyaksikan diriku melalui pandangan orang lain yang menatapku pergi. Tapi anehnya ini jauh lebih menyenangkan— sensasi semu dari tatapan yang mengawasi. Aku tahu ini menyenangkan hanya karena tatapannya berasal dari Bella.
Berjuta pikiran berkecamuk dalam kepalaku saat berkendara tanpa tujuan di tengah kegelapan malam.
Selama beberapa lama aku berputar-putar tak tentu arah. Aku memikirkan Bella, lega karena akhirnya dia tahu yang sebenarnya. Tidak perlu lagi was-was jati diriku terbongkar. Dia sudah tahu. Itu tidak penting buat dia. Meski jelas-jelas buat dia ini buruk, tetap saja sangat melegakan.
Lebih dari itu, aku memikirkan perasaan Bella padaku. Dia tidak mungkin menyukaiku sebesar aku mencintainya—perasaan cinta yang sedahsyat dan semelimpah ini barangkali akan menghancurkan tubuh rapuh dia. Tapi perasaannya cukup kuat juga. Cukup kuat hingga bisa menundukkan insting takut dia. Cukup kuat untuk ingin bersamaku. Dan berada bersamanya adalah kebahagiaan paling besar yang pernah kurasakan.
Untuk sesaat—saat aku sudah sendirian dan tidak ada siapapun yang bisa kusakiti—aku membiarkan diriku untuk menikmati kebahagiaan ini tanpa harus dibebani tragedinya. Hanya untuk merasa bahagia karena dia juga menyukaiku. Hanya untuk bersuka ria karena telah berhasil memenangkan perasaannya. Hanya untuk terus mengingat kembali bagaimana rasanya duduk di dekat dia, mendengar suaranya, dan mendapat senyumannya.
Aku mengingat kembali senyum itu, menyaksikan bibirnya yang penuh tertarik di kedua sudutnya hingga menggerakkan garis-garis pipinya, bagaimana matanya menghangat dan mencair… Malam ini jari-jarinya terasa hangat dan lembut pada tanganku. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika menyentuh kulit pipinya yang lembut—balutan sutra pada permukaan kaca…begitu mudah pecah.
Aku tidak tahu kemana anganku berujung hingga terlambat. Pada saat sedang menyelami kerapuhannya, gambaran baru wajahnya menyeruak dalam anganku.
Tersesat di tengah kegelapan, pucat karena takut—namun rahangnya terkunci penuh tekad, tatapannya sengit, badannya yang ramping siap menyerang sosok-sosok besar yang mengurungnya. Mimpi buruk yang suram…
“Ah.” Aku mengerang saat kebencian membara yang telah terlupakan oleh kebahagiaan tadi, muncul lagi ke permukaan.
Aku sendirian. Bella telah aman di rumahnya; untuk sesaat aku lega bahwa Charlie Swan—kepala polisi setempat, yang terlatih dan bersenjata—merupakan ayahnya. Itu membuatnya lebih aman.
Dia sudah aman. Tidak akan makan waktu lama untuk membalas orang-orang itu…
Tidak. Bella layak mendapatkan yang lebih baik dari itu. Aku tidak akan membiarkan dia jatuh cinta pada seorang pembunuh.
Tapi…bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang bisa jadi korban manusia biadab itu?
Bella memang sudah aman. Angela dan Jessica juga sudah aman di rumahnya.
Namun monster itu masih berkeliaran di Port Angeles. Monster-manusia—apa itu membuatnya jadi urusan manusia? Untuk melakukan pembunuhan, yang sudah gatal ingin kulakukan, adalah salah. Aku tahu itu. Tapi membiarkannya berkeliaran untuk menyerang orang lain juga tidak benar.
Si penerima tamu pirang yang di restoran tadi, si pelayan yang tak pernah kuperhatikan, keduanya sama-sama membuatku kesal. Tapi, bukan berarti mereka pantas untuk berada dalam bahaya.
Satu dari mereka mungkin Bellanya seseorang.
Kenyataan itu memastikan keputusanku.
Aku memutar mobil ke utara. Aku langsung tancap gas begitu punya tujuan. Kapanpun aku punya masalah yang tidak bisa kuatasi, aku tahu kemana bisa minta bantuan.
Alice sedang duduk di beranda, menungguku. Aku berhenti di depan rumah, tidak masuk ke garasi.
“Carlisle di ruangannya,” Alice memberitahuku sebelum aku sempat bertanya.
“Terima kasih,” ucapku sambil mengacak-acak rambutnya saat melewati dia.
Terima kasih telah menjawab teleponku, sindirnya dalam hati.
“Oh.” Aku berhenti di depan pintu, mengeluarkan ponselku, lalu membukanya. “Sori. Aku bahkan tidak mengecek itu dari siapa. Aku sedang…sibuk.”
“Ya, aku tahu. Aku juga minta maaf. Pada saat aku melihat itu akan terjadi, kau sudah tahu.”
“Tadi itu hampir saja…” gumamku.
Maaf, ulangnya, malu pada dirinya.
Sangat mudah untuk berbaik hati karena tahu Bella sudah aman. “Tidak usah menyesal. Aku mengerti kau tidak mungkin mengawasi segalanya. Tidak ada yang berharap kau bisa jadi mahatahu, Alice.”
“Thanks.”
“Aku hampir mengajakmu makan malam tadi—apa kau sempat melihat itu sebelum aku berubah pikiran?”
Dia cemberut. “Tidak, aku melewatkan itu juga. Coba aku tahu. Aku pasti datang.”
“Kau sedang berkonsentrasi ke apa, sampai melewatkan begitu banyak?”
Jasper sedang memikirkan perayaan anniversary kami. Dia tertawa. Dia berusaha untuk tidak membuat keputusan tentang hadiahku, tapi kurasa aku bisa menebaknya…
“Dasar, memalukan.”
“Yup.”
Dia mengerutkan bibir dan menatapku, ada ekspresi menuduh pada wajahnya. Lain kali aku akan mengawasi lebih baik. Apa kau akan memberitahu mereka kalau dia tahu?
Aku mengeluh. “Ya. Nanti.”
Aku tidak akan bilang apa-apa. Tapi tolong beritahu Rosalie ketika aku sedang tidak ada, oke?
“Oke.”
Bella menerimanya dengan baik.
“Terlalu baik.”
Alice cemberut padaku. Jangan meremehkan Bella.
Aku berusaha memblokir gambaran yang tidak ingin kulihat—Bella dan Alice bersahabat.
Karena mulai tak sabar, aku mengeluh panjang. Aku ingin segera menyelesaikan babak selanjutnya dari malam ini; aku ingin segera mengakhirinya. Tapi aku sedikit was-was untuk meninggalkan Forks…
“Alice…” Tapi dia sudah tahu apa yang ingin kutanyakan.
Malam ini dia akan baik-baik saja. Mulai sekarang aku akan mengawasinya lebih baik. Bisa dibilang dia membutuhkan pengawasan dua puluh empat jam penuh, iya kan?
“Kurang lebih begitu.”
“Ngomong-ngomong, kau akan segera menemuinya tidak lama lagi.”
Aku mengambil napas panjang. Kata-kata itu begitu indah buatku.
“Ayo sana—cepat selesaikan biar kau bisa segera menemuinya.”
Aku mengangguk, dan buru-buru ke kamar Carlisle.
Dia sedang menungguku, pandangannya ke arah pintu dan bukannya ke buku tebal yang ada di mejanya.
“Aku mendengar Alice memberitahumu dimana aku,” sambutnya sambil tersenyum.
Akhirnya aku merasa lega bisa bertemu Carlisle, untuk melihat empati dan kecerdasan di matanya. Dia pasti tahu apa yang mesti dilakukan.
“Aku butuh bantuan.”
“Apa saja, Edward.”
“Apa Alice memberitahumu apa yang terjadi pada Bella tadi?”
Hampir terjadi, dia mengoreksi.
“Ya, hampir. Aku bingung, Carlisle. Kau tahu, aku ingin…sangat ingin…untuk membunuh orang itu.” kata-kata itu berhamburan begitu saja. “Sangat ingin. Tapi aku tahu itu salah, karena itu berarti balas dendam, bukan keadilan. Murni karena marah. Namun tetap saja, rasanya tidak benar membiarkan seorang pembunuh dan pemerkosa kambuhan berkeliaran di Port Angeles! Aku tidak kenal penduduk di sana, tapi aku tidak bisa membiarkan ada perempuan lain yang akan menggantikan posisi Bella dan jadi korban monster itu. Perempuan itu mungkin punya seseorang yang perasaannya sama dengan
perasaanku pada Bella. Sama menderitanya seperti diriku jika dia disakiti. Itu tidak betul—”
Senyum lebarnya yang tiba-tiba muncul menghentikan semburan kata-kataku.
Efek kehadirannya sangat baik untukmu, iya kan? Kau jadi begitu pengasih, dan sangat terkendali. Aku terkesan.
“Aku tidak sedang butuh pujian, Carlisle.”
“Tentu saja tidak. Tapi aku kan tidak bisa mengekang pikiranku.” Dia tersenyum lagi. “Aku akan membereskannya. Kau tenang saja. Tidak akan ada lagi korban berikutnya.”
Aku bisa melihat rencana di kepalanya. Itulah tepatnya yang kubutuhkan. Memang, itu tidak memuaskan insting buasku, tapi aku bisa melihat itu hal yang tepat.
“Akan kutunjukan dimana orang itu.”
“Ayo kita pergi.”
Dia mengambil tas dokter hitam miliknya. Sebetulnya aku lebih setuju jika memakai penenang yang lebih kuat—seperti dengan memecahkan kepalanya—tapi biar Carlisle melakukan dengan caranya.
Kami memakai mobilku. Alice masih ada di beranda. Dia tersenyum dan melambaikan tangan saat kami menjauh. Kulihat dia mengecek jauh ke depan di pikirannya; kami tidak akan kesulitan.
Perjalanannya sangat singkat karena jalanan kosong. Lampu mobil kumatikan agar tidak menarik perhatian. Aku tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Bella dengan kecepatan seperti ini. Padahal tadi, sebelum dia protes, aku sudah lebih pelan dari biasanya— untuk memperlama waktu.
Carlisle juga sedang memikirkan Bella.
Tak kusangka sebaik ini dampak Bella bagi Edward. Sangat tak terduga. Barangkali memang harus seperti ini jalannya. Mungkin ini demi tujuan yang lebih jauh. Hanya saja…
Dia membayangkan Bella dengan kulit pucat dingin dan mata merah-darah, namun segera mengalihkan bayangan itu.
Ya. Hanya saja. Sudah tentu. Karena, dimana sisi baiknya kalau menghancurkan sesuatu yang begitu murni dan indah?
Aku memandang ke kegelapan malam. Semua kebahagiaan tadi hancur karena pikiran Carlisle.
Edward pantas untuk bahagia. Dia harus bahagia. Kesungguhan pikiran Carlisle mengejutkanku. Pasti ada jalan keluar, pikirnya lagi.
Kuharap aku bisa mempercayai itu. Tapi tidak ada tujuan yang lebih jauh dari apa yang terjadi pada Bella. Yang ada hanya siluman rubah-betina jahat yang mengendalikanku, yang tidak tahan melihat Bella menjalani kehidupannya.
Aku tidak berlama-lama di Port Angeles. Aku membawa Carlisle ke depan bar, tempat makhluk bernama Lonnie itu meratapi kekecewaannya bersama dua rekannya—yang sudah lebih dulu mabuk berat. Carlisle bisa melihat betapa beratnya bagiku untuk berada sedekat ini —hingga bisa mendengar pikiran monster itu dan melihat ingatannya, ingatan tentang Bella yang bercampur dengan gadis-gadis lain yang sudah jadi korbannya.
Napasku memburu. Kucengkram erat kemudi di hadapanku.
Pergilah, Edward, ucap Carlisle lembut. Akan kubuat dia tidak bisa menyakiti siapa-siapa lagi. Kembalilah ke Bella.
Pilihan kata Carlisle sangat tepat. Nama Bella adalah satu-satunya yang bisa mengalihkan pikiranku.
Kutinggalkan Carlisle sendirian di mobil, dan lari menuju Forks lewat hutan. Ini makan waktu lebih cepat ketimbang naik mobil. Hanya dalam beberapa menit aku sudah meniti di bawah jendela kamar Bella dan merangkak masuk.
Aku mendesah lega. Semuanya telah seperti seharusnya. Bella aman di tempat tidurnya, bermimpi, dengan rambutnya yang basah tergerai diatas bantal.
Tapi, tidak seperti malam-malam lainnya, kini dia meringkuk memeluk badannya. Kurasa karena dingin. Sebelum aku sempat duduk di tempat biasanya, dia menggigil, bibirnya ikut gemetar.
Aku memperhatikan sejenak, kemudian menyelinap keluar ke lorong, menjelejahi bagian dalam rumahnya untuk pertama kalinya.
Dengkuran Charlie keras dan stabil. Aku bahkan hampir bisa menangkap mimpinya.
Sesuatu tentang kegiatan di air dan menunggu dengan sabar…memancing barangkali?
Nah, disana, di dekat tangga, letak lemari yang kucari-cari. Aku membukanya penuh harap, dan menemukan yang kucari. Aku memilih selimut yang paling tebal, dan kubawa kembali ke kamar. Akan kukembalikan lagi sebelum dia bangun, tidak akan ada yang tahu.
Sambil menahan napas, dengan hati-hati kuselimuti dia; dia tidak beraksi dengan beban tambahan itu. Kemudian aku kembali duduk di kursi goyang di pojokan.
Sambil menunggu was-was sampai dia merasa hangat, aku memikirkan Carlisle, bertanya-tanya dimana dia sekarang. Aku tahu rencananya akan berjalan lancar—Alice telah melihatnya.
Memikirkan ayahku membuatku menghela napas—Carlisle terlalu memujiku. Seandainya saja aku adalah sosok yang ia pikir. Sosok itu, yang pantas untuk bahagia, barangkali cukup pantas buat gadis yang sedang tidur ini. Betapa berbedanya seandainya aku bisa menjadi Edward yang seperti itu.
Saat sedang mempertimbangkan hal itu, tiba-tiba muncul gambaran lain yang tidak diundang.
Untuk sesaat, sosok siluman rubah betina yang tadi kubayangkan, yang mengidamkan kehancuran Bella, digantikan oleh sosok malaikat bodoh yang sembrono. Seorang malaikat pelindung—sesuatu yang seperti versi Carlisle tentang diriku. Dengan senyum acuh, mata biru yang licik, malaikat itu membuat Bella sedemikian rupa hingga tidak mungkin bisa kujaga: Aroma tajam yang konyol untuk menggugah seleraku, pikiran yang sunyi untuk memancing penasaranku, kecantikan yang mempesona untuk menghipnotis mataku, hati yang tidak egois untuk menangkap kekagumanku; Dia hapus juga insting pelindungan dirinya—supaya Bella tidak takut dan betah berada di dekatku—dan, yang terakhir, tambahkan kesialan tanpa batas.
Dengan tawa sembrono, malaikat yang tidak bertanggung jawab itu mendorong kreasi rapuhnya tepat ke hadapanku. Dia percayakan Bella pada moralku yang rusak untuk menjaganya tetap hidup.
Dalam pandangan ini, aku bukan eksekutor Bella, melainkan dialah hadiahku.
Aku menggeleng-geleng sendiri pada bayangan malaikat tak bermoral seperti itu. Dia tidak jauh berbeda dengan monster. Tidak mungkin makhluk suci bisa berkelakuan seburuk itu. Paling tidak kalau siluman rubah betina aku masih bisa melawannya.
Lagi pula, aku tidak punya malaikat pelindung. Mereka cuma untuk orang-orang baik —orang-orang seperti Bella. Tapi dimana malaikat dia selama ini? Siapa yang mengawasi dia?
Aku tertawa pelan, tertegun, saat menyadari bahwa saat ini akulah yang memainkan peran itu.
Malaikat berwujud vampir—benar-benar kontras.
Setelah lewat setengah jam, posisi Bella mulai lebih rileks. Napasnya makin dalam. Dan dia mulai bergumam. Aku tersenyum puas. Ini hal sepele, tapi paling tidak malam ini dia bisa tidur lebih nyaman berkat aku disini.
“Edward,” desahnya, dan dia tersenyum.
Aku menyingkirkan tragedinya sesaat, membiarkan diriku diliputi kebahagiaan.
Midnight Sun halaman 9
Bab 9
Port Angeles
Masih terlalu terang bagiku untuk berkendaraan di dalam kota saat tiba di Port Angeles; matahari masih terlalu tinggi diatas. Dan, meski jendelaku sangat gelap, tidak ada alasan untuk mengambil resiko. Mengambil resiko lebih, lebih tepatnya.
Aku sangat yakin mampu menemukan pikiran Jessica dari jauh—pikiran dia lebih keras ketimbang Angela. Setelah menemukan Jessica, aku akan menemukan Angela. Kemudian, ketika makin gelap, aku bisa mendekat. Untuk saat ini, aku keluar dari jalan utama untuk menunggu di daerah pinggir kota yang tampaknya jarang dilewati orang.
Aku tahu kira-kira ke arah mana harus mencari—hanya ada satu tempat untuk mencari gaun di Port Angeles. Tidak terlalu lama, setelah menemukan Jessica, yang sedang memutar-mutar badannya di depan tiga bidang cermin, aku bisa melihat Bella lewat pikirannya. Bella sedang memuji gaun panjang hitam yang ia kenakan.
Bella masih kelihatan kesal. Ha ha. Angela betul—Tyler cuma membual. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia sekesal itu. Paling tidak dia tahu dia punya kencan cadangan untuk pesta prom. Bagaimana jika Mike tidak menikmati pesta dansa besok, dan ia tidak mengajakku kencan lagi? Bagaimana jika dia mengajak Bella ke pesta prom? Apa Bella akan mengajak Mike ke pesta dansa jika aku tidak mengajaknya duluan? Apakah menurut Mike dia lebih cantik ketimbang aku? Apakah dia pikir dirinya lebih cantik dibanding aku?
“Kurasa aku lebih suka yang biru. Sesuai dengan warna matamu.”
Jessica tersenyum palsu pada Bella, sementara matanya memperhatikan dengan curiga.
Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau yang ia inginkan aku terlihat seperti sapi di hari Sabtu nanti?
Belum-belum aku sudah lelah mendengarkan Jessica. Aku mencari Angela di dekat situ —ah, tapi Angela sedang ganti baju, dan aku langsung cepat-cepat keluar dari kepalanya untuk memberi dia privasi.
Well, tidak ada sesuatu yang akan menimpa Bella selama dia di mal. Biarkan saja mereka belanja dan kemudian mencari mereka lagi saat sudah selesai. Tidak akan lama lagi gelap—awan mulai berarak kembali, bertiup dari arah barat. Aku hanya bisa menangkap kelebatannya melalui sela-sela daun, tapi bisa kulihat awan-awan itu akan mempercepat matahari tenggelam. Aku menanti-nantikannya dengan tidak sabar. Besok aku akan bisa duduk disamping Bella lagi, memonopoli perhatiannya di jam makan siang lagi. Aku bisa menanyakan segala pertanyaan yang selama ini kusimpan…
Jadi, ia kesal dengan kepongahan Tyler. Aku bisa melihat itu di kepala Tyler—bahwa dia bersungguh-sungguh ketika menyinggung tentang prom, bahwa ia menegaskan niatnya. Aku mengingat kembali ekspresi Bella siang itu—tidak percaya dan marah—dan aku tergelak. Kira-kira apa yang akan ia katakan pada Tyler tentang ini. Aku tidak akan melewatkan kesempatan melihat reaksi Bella.
Waktu berjalan lambat selama menunggu gelap datang. Secara berkala aku mengecek Jessica; suara mentalnya paling mudah ditemukan. Tapi aku tidak suka berlama-lama disitu. Aku melihat dimana mereka berencana untuk makan. Pasti sudah gelap ketika waktunya makan malam…mungkin aku akan secara tidak sengaja makan di restoran yang sama.
Kusentuh ponsel di kantongku, mempertimbangkan untuk mengajak Alice keluar makan… Dia akan suka itu, tapi dia juga pasti akan minta bicara dengan Bella. Aku belum yakin aku siap untuk melibatkan Bella lebih jauh kedalam duniaku. Bukannya satu vampir saja sudah merepotkan?
Aku kembali mengecek Jessica lagi. Dia sedang memikirkan tentang perhiasannya, minta pendapat Angela.
“Mungkin sebaiknya aku mengembalikan kalungnya. Aku sudah punya satu di rumah yang sepertinya juga cocok, dan aku sudah membelanjakan uangku lebih dari seharusnya…” Ibuku pasti akan marah besar. Apa yang kupikirkan?
“Aku tidak masalah kembali ke toko. Tapi bagaimana jika nanti Bella mencari-cari kita?”
Apa ini? Bella tidak bersama mereka? Aku memperhatikan lewat mata Jessica, kemudian ganti ke Angela. Mereka di trotoar di depan deretan toko-toko, baru saja balik arah. Bella tidak kelihatan dimana-mana.
Siapa yang peduli dengan Bella? Pikir Jess tidak sabaran, sebelum menjawab pertanyaan Angela. “Dia baik-baik saja. Kita masih punya banyak waktu sebelum ke restoran, bahkan jika kita kembali dulu. Lagipula, kurasa dia sedang ingin sendirian.” Aku menangkap sekelebatan gambaran toko buku yang Jess pikir tempat tujuan Bella.
“Ayo cepat kalau begitu,” ujar Angela. Kuharap Bella tidak beranggapan kami menelantarkan dia. Dia baik padaku selama di mobil tadi… Dia benar-benar orang yang menyenangkan. Tapi kelihatannya dia agak murung seharian ini. Aku bertanya-tanya, apa karena Edward Cullen? Berani taruhan, itulah alasannya kenapa ia menanyakan tentang keluarganya…
Seharusnya aku lebih memperhatikan. Apa saja yang sudah kulewatkan? Bella berkeliaran sendirian. Dan tadi dia menanyakan tentang aku?
Angela sedang memperhatikan Jessica sekarang—Jessica sedang mengoceh tentang si bodoh Mike—dan aku tidak mendapatkan info lebih banyak dari dia.
Aku menilai sekelilingku. Sebentar lagi matahari di belakang awan. Jika aku tetap berada di sisi barat, dimana gedung-gedung akan menghalangi sinar matahari yang mulai redup…
Aku mulai cemas begitu menyetir melewati jalanan sepi menuju pusat kota. Ini sesuatu yang tidak kuperhitungkan—Bella memisahkan diri—dan aku tidak tahu bagaimana caranya menemukan dia. Aku harusnya mempertimbangkan hal ini.
Aku tahu seluk-beluk Port Angeles; mobilku langsung menuju ke toko buku yang ada di pikiran Jessica, berharap pencarianku singkat, tapi sekaligus sangsi ini akan berjalan dengan mudah. Mana pernah Bella membuatnya jadi mudah?
Tentu saja tokonya kosong, kecuali seorang perempuan berbaju aneh dibelakang konter. Ini bukan tempat yang bagi Bella menarik—terlalu kecil untuk orang seperti dia. Aku bertanya-tanya, apa dia bahkan repot-repot mau masuk?
Ada sebidang lahan yang terhalang matahari, bisa untuk tempatku parkir… Juga ada jalur gelap yang langsung menuju ke toko itu. Aku seharusnya tidak melakukannya, berkeliaran ketika matahari masih bersinar itu tidak aman. Bagaimana jika ada mobil lewat yang memantulkan cahaya matahari di waktu yang salah?
Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari Bella!
Aku parkir dan langsung keluar, tetap berada dibalik bayang-bayang. Aku melangkah cepat-cepat menuju toko itu, ada sedikit sisa aroma Bella di udara. Dia sempat kesini, di trotoar, tapi tidak ada tanda-tanda aromanya di dalam toko.
“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu—” sapa penjaga toko itu, tapi aku sudah keluar lagi.
Aku mengikuti bau Bella sejauh bayangan gedung-gedung, berhenti ketika tiba di tubir cahaya matahari.
Betapa tidak berdayanya aku—terpenjara oleh seberkas sinar yang melintang di trotar di depanku. Terkungkung.
Aku cuma bisa menebak dia terus jalan menuju ke utara. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat disana. Apa dia tersesat? Well, kemungkinan itu tidak terlalu mengherankan.
Aku kembali ke mobil dan menyusuri jalanan itu pelan-pelan, mencari-cari dia. Aku keluar tiap menemukan sisi gelap yang terhalang matahari, tapi hanya sempat satu kali menangkap aromanya, dan arahnya membingungkan aku. Dia berencana mau kemana?
Aku bolak-balik antara toko buku dan restoran beberapa kali, berharap melihatnya di jalanan. Jessica dan Angela sudah sampai di restoran, berusaha memutuskan apa akan langsung memesan atau menunggu Bella dulu. Jessica memaksa untuk memesan secepatnya.
Aku mulai berganti-ganti melihat ke pikiran orang-orang asing, mencari lewat mata mereka. Pastilah seseorang sempat melihat dia di suatu tempat.
Makin lama dia hilang aku semakin was-was dibuatnya. Tidak pernah terpikir sebelumnya betapa sulitnya mencari dia. Seperti sekarang, dia hilang dari pengawasanku, dan keluar dari jalur normal orang-orang. Aku tidak suka ini.
Awan-awan mulai berkumpul di cakrawala. Beberapa menit lagi, aku akan bebas mencarinya di luar. Kalau sudah begitu tidak akan memakan waktu lama. Sinar mataharilah yang membuatku tak berdaya. Hanya beberapa menit lagi, kemudian keuntungan akan berada di pihakku lagi dan manusialah yang tidak berdaya.
Pikiran satu ke pikiran lainnya. Ada begitu banyak pikiran-pikiran sepele.
…kurasa anakku telinganya infeksi lagi…
Apakah enam-empat-kosong atau enam-kosong-empat…?
Terlambat lagi. Aku mesti memberitahunya…
Ini dia datang! Aha!
Itu dia wajahnya. Akhirnya seseorang menyadari dia!
Kelegaanku hanya berlangsung sepersekian detik, karena kemudian aku membaca lebih jauh pikiran pria yang memandang penuh nafsu ke wajahnya di tengah keremangan.
Itu pikiran orang asing, tapi tidak sepenuhnya asing. Dulu aku pernah memburu orang-orang dengan pikiran seperti ini.
“TIDAK!” teriakku, dan geraman panjang keluar dari tenggorokanku. Kakiku menginjak pedal gas dalam-dalam, tapi kemana tujuanku?
Aku cuma tahu kira-kira lokasi pikirannya, tapi tidak tahu pasti persisnya. Sesuatu, pasti ada sesuatu—nama jalan, plang toko, sesuatu dalam pandangannya yang bisa menunjukan keberadaannya. Tapi Bella tenggelam di balik bayang-bayang, dan mata pria itu hanya fokus ke ekspresi takut Bella—menikmati ketakutannya.
Wajah Bella jadi buram di pikirannya, terselimuti ingatan wajah-wajah lainnya. Bella bukan korban pertamanya.
Suara geramanku menggetarkan kaca mobil, tapi tidak mengalihkan perhatianku.
Tidak ada jendela-jendela di tembok di belakang Bella. Di sekitar daerah industri, jauh dari lokasi pertokoan yang ramai. Mobilku mendecit membelok di pertigaan. Pada saat pengemudi lain membunyikan klakson, suaranya sudah jauh di belakangku.
Coba lihat bagaimana dia gemetaran! Orang itu terkekeh. Ekspresi ngerilah yang ia cari—bagian yang ia nikmati.
“Pergi dariku.” suara Bella rendah dan tenang, bukan jeritan.
“Jangan seperti itu manis.”
Pria itu menoleh ke suara tawa kasar yang berasal dari jurusan lain. Keributan itu membuatnya marah—diam, Jeff! batinnya—tapi dia senang melihat Bella menjengit kaget. Itu membuatnya bergairah. Dia membayangkan bagaimana Bella akan memohon-mohon…
Aku tidak menyadari masih ada tambahan satu orang lagi sampai mendengar suara tawanya menyusul si Jeff tadi. Aku pindah ke pikiran orang itu, putus asa mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Dia melangkah ke arah Bella, melenturkan tangannya.
Pikiran dua orang itu tidak sebusuk yang pertama. Mereka tidak menyadari seberapa jauh orang yang mereka panggil Lonnie itu akan berbuat. Mereka asal mengikuti Lonnie. Mereka dijanjikan akan bersenang-senang…
Satu dari mereka memandang ke ujung jalan dengan gugup—dia tidak ingin kepergok sedang melecehkan seorang perempuan—dan itu memberi tahu apa yang kubutuhkan. Aku mengenali perempatan yang ia lihat.
Aku langsung menerobos lampu merah, memotong diantara celah sempit diantara dua mobil yang melintas. Bunyi klakson nyaring di belakangku.
Teleponku bergetar di kantong. Tidak kugubris.
Lonnie maju pelan-pelan ke arah Bella, sengaja membuat tegang—saat-saat penuh teror membangunkan minatnya. Dia menunggu Bella menjerit, siap-siap untuk menikmatinya.
Tapi Bella mengunci rahangnya rapat-rapat. Orang itu terkejut—dia berharap Bella akan mencoba untuk lari. Terkejut dan agak kecewa. Dia suka jika harus mengejar mangsanya, ketegangan dari berburu.
Yang ini pemberani. Barangkali lebih baik…akan lebih ada perlawanan.
Aku tinggal satu blok lagi. Monster itu bisa mendengar raungan mesinku, tapi tidak mempedulikannya, dia terlalu memperhatikan korbannya.
Aku ingin melihat bagaimana dia menikmati perburuan ketika dialah mangsanya. Aku ingin melihat bagaimana pendapatnya tentang gaya berburuku.
Di bagian lain dalam kepalaku, aku sudah mendata berbagai bentuk siksaan yang pernah kusaksikan selama masa perang dulu, mencari yang paling menyakitkan. Dia harus menderita atas hal ini. Dia harus betul-betul tersiksa. Yang lainnya hanya akan mati karena ikut membantu. Tapi si monster bernama Lonnie ini tidak akan mati secepat itu. Dia akan memohon-mohon, tapi tidak akan segera kukabulkan.
Dia ada di tengah jalan, menyudutkan Bella.
Dengan ngebut aku membelok di pojokan hingga mobiku terbanting kesamping. Lampu sorotku menerangi mereka, membuat mereka terloncat kaget. Aku bisa saja menerjang si pemimpinnya, tapi kematian itu akan terlalu cepat.
Aku langsung membanting kemudi hingga mobilku berputar dan berbalik arah, dengan begitu pintu penumpangnya lebih dekat dengan posisi Bella. Aku segera membukanya, dan ia sudah lari menuju mobilku.
“Cepat masuk,” teriakku setengah menggeram.
Apa-apan ini?
Aku tahu ini ide yang buruk! Dia tidak sendirian.
Haruskah aku lari?
Sepertinya aku mau muntah…
Tanpa ragu-ragu Bella meloncat masuk, membanting pintu di belakangnya.
Dan kemudian ia menatapku dengan pandangan paling percaya yang pernah kulihat, dan segala rencana kejiku langsung runtuh.
Butuh waktu tidak sampai sedetik untuk menyadari bahwa aku tidak akan sanggup meninggalkan dia sendirian di mobil sementara aku memberi perhitungan dengan empat orang tadi. Apa yang akan kukatakan padanya, jangan melihat? Ha! Kapan dia pernah menuruti yang kuminta? Kapan dia pernah melakukan tindakan yang aman?
Mungkinkah aku menggiring mereka pergi, menjauh dari Bella, dan meninggalkan dia sendirian disini? Hampir tidak mungkin ada penjahat lain yang berkeliaran di Port Angeles malam ini, tapi yang pertama tadi juga hampir tidak mungkin! Seperti magnet, dia menarik segala bahaya menuju ke arahnya. Dia tidak boleh lepas dari pengawasanku.
Sepertinya, sebagian ekspresi Bella mirip dengan para penjahat tadi saat aku membawanya pergi begitu cepat, ternganga bingung. Dia tidak menyadari kebimbanganku yang sekejap tadi. Dia akan mengira sedari awal rencananya memang akan melarikan diri.
Aku bahkan tidak sanggup menerjang mereka. Itu akan membuat dia ngeri.
Keinginanku untuk membunuh monster itu begitu hebatnya hingga mendengingkan telingaku dan mengaburkan penglihatanku, dan sampai terasa di lidahku. Otot-ototku menegang, memohon untuk segera dilampiaskan. Aku harus membunuhnya. Aku akan mengulitinya pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kulit dari dagingnya, daging dari tulangnya…
Kecuali bahwa sang gadis—satu-satunya gadis di dunia ini—sedang mencengkram kursinya dengan dua tangan, menatap ke arahku. Matanya masih lebar dan sepenuhnya percaya. Balas dendam mesti menunggu.
“Pakai sabuk pengamanmu,” perintahku. Suaraku kasar, sarat kebencian dan haus darah. Bukan haus darah yang biasanya. Aku tidak sudi menodai diriku dengan memasukkan bagian dari monster itu ke badanku.
Bella memasang sabuk pengamannya, berjengit ketika mendengar suaranya. Bunyi kecil seperti itu membuatnya terloncat, namun dia bergeming saat aku membawanya pergi dengan ngebut, melanggar semua rambu lalu lintas. Bisa kurasakan pandangannya padaku. Anehnya, dia kelihatan tenang. Bagiku itu tidak masuk akal—tidak dengan apa yang baru saja dialami.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara berat karena tertekan dan takut.
Dia ingin tahu apa aku baik-baik saja?
Aku memikirkan pertanyaannya selama sepersekian detik, tidak cukup lama baginya untuk menyadari kebimbanganku. Baik-baik sajakah aku?
“Tidak,” aku menyadari. Nadaku menggelegak marah.
Aku membawanya ke jalanan sepi, tempatku menunggu tadi. Sekarang gelap gulita. Rerimbunan pohon di pinggir jalan.
Aku sangat murka hingga tubuhku membeku di tempat, sepenuhnya tidak bergerak. Tangan dinginku yang terkunci, gatal ingin meremukkan penyerang gadis ini, untuk mencincangnya kecil-kecil hingga badannya tidak mungkin dikenali…
Tapi itu berarti meninggalkannya sendirian disini, tidak terlindungi di tengah kegelapan.
“Bella?” tanyaku dari sela-sela gigi.
“Ya?” jawabnya dengan suara parau. Dia berdeham pelan.
“Apa kau baik-baik saja?” Itu betul-betul hal yang paling penting. Prioritas pertama. Pembalasan adalah hal yang kedua. Aku tahu itu, tapi badanku begitu dipenuhi amarah hingga membuatku sulit untuk berpikir.
“Iya.” Suaranya masih pekat—karena takut, tidak salah lagi.
Dengan demikian aku tidak bisa meninggalkannya.
Bahkan seandainya dia tidak selalu berada dalam bahaya karena alasan yang tidak masuk akal—karena lelucon tidak bertanggung jawab untuk mempermainkan diriku—, bahkan jika aku bisa yakin dia akan sepenuhnya baik-baik saja selama aku tidak ada, aku tetap tidak akan membiarkannya sendirian di tengah kegelapan.
Dia pasti sangat ketakutan.
Namun tetap saja, aku tidak sedang dalam kondisi yang sanggup untuk menenangkan dia—bahkan itu jika aku tahu bagaimana cara menenangkan dia, yang aku tidak tahu. Pasti dia merasakan hawa kekejaman keluar dariku. Itu pasti kentara sekali. Aku akan semakin membuatnya takut jika tidak sanggup mendinginkan nafsu membunuh yang mendidih dalam diriku.
Aku mesti memikirkan sesuatu yang lain.
“Tolong alihkan perhatianku,” mohonku padanya.
“Maaf, apa?”
Hampir aku tidak sanggup menjelaskan yang kumaksud.
“Coba ceritakan sesuatu yang sepele sampai aku tenang.” Rahangku masih terkatup rapat. Hanya karena dia membutuhkan aku, aku tetap bertahan di mobil. Aku masih bisa mendengar pikiran orang itu, kecewa dan marah… Aku tahu dimana menemukannya…
Kupejamkan mata, berharap tidak bisa menemukannya.
“Mmm…” dia ragu-ragu—sepertinya berusaha memahami permintaanku. “Aku ingin melindas Tyler Crowley besok sebelum masuk sekolah?” Dia mengatakannya seakan itu sebuah pertanyaan.
Ya—inilah yang kubutuhkan. Tentu saja Bella akan mengatakan sesuatu yang tidak kukira. Seperti sebelumnya, ancaman yang keluar dari bibirnya begitu menggelikan. Jika aku tidak sedang terbakar oleh nafsu membunuh, pasti aku sudah tertawa.
“Kenapa?” tukasku, memaksanya untuk bicara lagi.
“Dia memberitahu semua orang bahwa ia akan mengajakku ke pesta prom,” suaranya diliputi kegeraman seperti kucing-manis, khas dirinya. “Entah dia gila atau dia masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo…well, kau pasti ingat,” tambahnya dengan nada datar. “Dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi setelah kuhitung-hitung, kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu terus-menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak butuh musuh dan barangkali Lauren akan bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Meski begitu aku mungkin perlu menghancurkan mobil Sentranya.” Dia melanjutkan, kali ini penuh pertimbangan, “kalau tidak punya mobil, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom…”
Rasanya menyenangkan, sekali-kali melihat dia salah. Kegigihan Tyler tidak ada hubungannya dengan insiden waktu itu. Bella tidak menyadari daya tarik dirinya di mata bocah-bocah di seantero sekolahan. Dan apa dia juga tidak melihat efek daya tariknya padaku?
Ah, itu manjur. Ketidakwajaran proses berpikirnya selalu mengasyikan. Aku mulai bisa mengendalikan diri, untuk memikirkan selain balas dendam dan penyiksaan…
“Aku sudah mendengar tentang itu,” kataku padanya. Dia berhenti bicara. Padahal aku butuh dia meneruskannya.
“Kau sudah mendengarnya?” tanyanya heran. Suaranya pun jadi lebih marah. “Jika dia lumpuh dari leher kebawah, dia tidak akan bisa ke prom.”
Kuharap, entah bagaimana, aku bisa minta dia terus bicara tentang mengancam dan melukai tanpa harus kedengaran gila. Dia tidak bisa memilih cara lain yang lebih baik untuk menenangkan diriku. Dan perkataannya—ungkapan sarkasme dan hiperbolanya—pengingat yang kubutuhkan di saat seperti ini.
Aku menghela napas dan membuka mata.
“Lebih baik?” tanyanya takut-takut.
“Tidak terlalu.”
Tidak, aku lebih tenang, tapi tidak lebih baik. Itu karena aku sadar tidak dapat membunuh monster bernama Lonnie itu, padahal aku masih menginginkannya hampir melebihi segalanya di dunia. Hampir.
Satu-satunya yang saat ini kubutuhkan melebihi keinginan membunuhku adalah gadis ini. Meski aku tidak bisa mendapatkan dia, dan hanya bisa memimpikannya saja, berhasil mencegahku untuk berkeliaran sebagai seorang pembunuh nanti malam.
Bella layak mendapatkan lebih dari sekedar seorang pembunuh.
Aku menghabiskan tujuh dekade berusaha menjadi lebih dari itu—apapun selain seorang pembunuh. Dan tujuh dekade itu tetap tidak membuatku layak atas gadis yang duduk disampingku ini. Dan jika aku kembali ke kehidupan itu—kehidupan seorang pembunuh— bahkan jika cuma untuk sehari, sudah pasti akan membuat gadis ini berada diluar jangkauanku selamanya. Bahkan jika aku tidak meminum darahnya—bahkan jika aku tidak meninggalkan bukti merah menyala di mataku—akankah dia melihat perbedaannya?
Aku berusaha untuk bisa jadi lebih pantas. Aku tahu, itu tujuan yang mustahil, tapi aku tetap akan berusaha.
“Apa yang terjadi?” bisiknya.
Napasnya memenuhi penciumanku, dan aku diingatkan kenapa aku tidak mungkin layak baginya. Setelah semua kejadian ini, bahkan dengan segala perasaan sayangku padanya…dia masih membuatku meneteskan liur.
Aku akan mengatakan sejujur yang kubisa. Aku hutang itu padanya.
“Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella.” Aku menatap keluar, ke kegelapan malam, berharap dia mendengar kengerian yang terkandung dalam perkataanku, tapi sekaligus berharap dia tidak mendengarnya. Seringkali dia tidak mendengarnya. Lari, Bella, lari. Tinggal, Bella, tinggal. “Tapi tidak akan menolong bila aku berbalik dan memburu…” Hanya memikirkannya hampir membuatku keluar dari mobil. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan aromanya membakar tenggorokanku. “Setidaknya itu yang coba kukatakan pada diriku sendiri.”
“Oh.”
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Seberapa banyak yang ia dengar? Aku melirik diam-diam, tapi wajahnya tidak ketebak. Kosong karena syok, barangkali. Paling tidak dia tidak menjerit. Belum.
Selama beberapa waktu kami diam. Aku berperang dengan diriku sendiri, berusaha menjadi apa yang seharusnya. Sesuatu yang tidak aku bisa.
“Jessica dan Angela pasti khawatir,” ucapnya pelan. Suaranya sangat tenang. Aku tidak yakin bagaimana dia bisa begitu. Apa saking syoknya? Atau, barangkali kejadian malam ini belum mengendap dalam pikirannya. “Aku seharusnya menemui mereka,” ucapnya lagi.
Apa dia ingin menjauh dariku? Atau dia cuma tidak ingin teman-temannya mencemaskan dia?
Tanpa berkata apa-apa aku menyalakan mobil dan mengantarnya. Semakin dekat ke kota, semakin sulit untuk bertahan pada tujuanku. Aku begitu dekat dengan berandalan itu…
Jika itu mustahil—jika memang tidak mungkin mendapatkan, atau pantas, atas gadis ini —maka apa alasannya membiarkan orang itu tidak dihukum? Tentu aku bisa membolehkan diriku jika kondisinya seperti itu…
Tidak. Aku tidak menyerah. Belum. Aku terlalu menginginkan Bella untuk menyerah.
Kami sudah tiba di restoran sebelum sempat menyelesaikan pikiranku. Jessica dan Angela sudah selesai makan. Sekarang keduanya benar-benar mencemaskan Bella. Mereka sudah mau mulai mencarinya, menuju jalanan yang gelap.
Ini bukan malam yang tepat bagi mereka untuk berkeliaran—
“Bagaimana kau bisa tahu dimana…?” Pertanyaan Bella yang tidak selesai menyelaku, dan aku sadar lagi-lagi telah bertindak ceroboh. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga lupa bertanya dimana dia mesti bertemu dengan teman-temannya.
Tapi, alih-alih mencecarku dengan pertanyaan, Bella cuma menggeleng dan setengah tersenyum.
Apa itu maksudnya?
Well, aku tidak punya waktu untuk memikirkan penerimaan anehnya atas pengetahuan anehku. Aku membuka pintuku.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya, kedengarannya kaget.
Tidak membiarkan kau lepas dari pengawasanku. Tidak membiarkan diriku sendirian malam ini. Dengan urutan seperti itu. “Mengajakmu makan malam.”
Baiklah ini akan menarik. Sepertinya akan sangat berbeda dengan bayangan akan mengajak Alice dan pura-pura secara tidak sengaja memilih restoran yang sama. Dan kini, disinilah aku, bisa dibilang kencan dengannya. Hanya saja ini tidak masuk hitungan, karena aku tidak memberinya kesempatan untuk menolak.
Dia sudah setengah membuka pintunya sebelum aku memutar lewat depan—biasanya aku tidak sefrustasi ini saat harus bergerak secara wajar—dan bukannya menungguku untuk membukakan pintu. Apa ini karena dia tidak terbiasa diperlakukan seperti seorang perempuan terhormat, atau karena dia tidak menganggapku sebagai seorang laki-laki terhormat?
Aku menunggunya menyusulku, yang makin was-was saat teman-temannya mulai masuk ke lorong gelap.
“Cepat hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga,” perintahku cepat-cepat. “Kurasa aku tidak akan sanggup menahan diriku kalau bertemu berandalan-berandalan itu lagi.” Tidak, aku tidak akan cukup kuat untuk itu.
Dia gemetar, tapi kemudian cepat-cepat menguasai diri. Dia mengejar mereka kemudian berteriak, “Jess! Angela!” dengan suara keras. Mereka menoleh, dan Bella melambaikan tangan kearah mereka.
Bella! Oh, dia aman! Pikir Angela lega.
Setelat ini? Jessica menggerutu sendiri, tapi juga bersyukur karena Bella baik-baik saja. Ini membuatku sedikit lebih menyukai dia.
Mereka buru-buru kembali, dan kemudian terhenti, syok, ketika melihatku disampingnya.
Eh-oh! Pikiran Jessica kalang kabut. Tidak mungkin!
Edward Cullen? Apa Bella pergi sendirian untuk mencari dia? Tapi kenapa Bella menanyakan kepergian mereka keluar kota jika Bella tahu dia ada disini… Aku menangkap sekelebatan ekspresi malu-malu Bella ketika menanyakan Angela apakah keluargaku sering absen dari sekolah. Tidak, Bella tidak mungkin tahu. Pikir Angela kemudian.
Pikiran Jessica beralih dari terkejut jadi curiga. Bella menutup-nutupi sesuatu dariku.
“Aku tersesat. Dan kemudian aku berpapasan dengan Edward,” ujar Bella sambil menunjuk kearahku. Nadanya luar biasa normal, seakan itu sepenuhnya yang terjadi.
Pikirannya pasti syok. Itu satu-satunya penjelasan kenapa dia begitu tenang.
“Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanyaku bersikap sopan; aku tahu mereka sudah makan.
Ya ampun, dia keren banget! Batin Jessica. Mendadak pikirannya tidak karuan.
Angela juga tidak terlalu berbeda. Coba tadi tidak makan duluan. Wow. Tapi. Wow.
Nah, kenapa juga aku tidak bisa melakukan seperti itu pada Bella?
“Eh…tentu saja,” Jessica setuju.
Angela mengerutkan dahi. “Mmm, sebetulnya, Bella, kami sudah makan ketika menunggu tadi,” dia mengakui. “Sori.”
Apa? Diam! Protes Jessica dalam hati.
Bella mengangkat bahu dengan santai. Begitu tenang. Pasti memang syok. “Tidak apa-apa— lagi pula aku tidak lapar.”
“Kurasa kau tetap butuh makan sesuatu.” Aku tidak sependapat. Dia membutuhkan gula di aliran darahnya—meski begini saja sudah terasa manis, pikirku masam. Sebentar lagi serangan syoknya akan muncul ke permukaan, dan perut kosong tidak akan membantu. Dia mudah pingsan, berdasarkan pengalaman yang lalu.
Teman-temannya tidak berada dalam bahaya jika mereka langsung pulang. Bukan mereka yang dikuntit oleh bahaya.
Lagipula aku lebih memilih berdua saja dengan Bella—selama dia tidak keberatan.
“Apakah kalian keberatan jika nanti aku saja yang mengantar Bella pulang?” tanyaku pada Jessica sebelum Bella bisa merespon. “Dengan begitu kalian tidak perlu menunggu dia makan.”
“Eh, tidak masalah, kurasa…” Jessica menatap kelat-lekat pada Bella, mencari tanda-tanda bahwa inilah yang ia inginkan.
Aku tidak mau pergi…tapi barangkali Bella menginginkan Edward untuk dirinya sendiri. Siapa yang tidak akan begitu? batin Jess. Pada saat bersamaan, dia melihat Bella mengedip.
Bella mengedip?
“Oke,” ujar Angela cepat, ingin segera menyingkir jika memang itu yang Bella mau. Dan kelihatannya memang itulah yang dia mau. “Sampai ketemu besok, Bella…Edward.” Angela berjuang mengucapkan namaku dengan nada santai. Kemudian ia menyambar tangan Jessica dan menyeretnya pergi.
Aku harus mencari cara untuk berterima kasih pada Angela.
Mobil Jessica berada tidak jauh, diparkir dibawah lampu jalan. Bella mengawasi mereka dengan seksama—sedikit kerut prihatin terlihat diantara matanya—sampai mereka masuk ke mobil. Jadi dia pasti sepenuhnya sadar atas bahaya yang menimpanya tadi. Jessica melambai saat pergi, dan Bella melambai balik. Baru setelah mobilnya lenyap, ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arahku.
“Jujur saja aku tidak lapar,” katanya padaku.
Kenapa dia harus menunggu mereka pergi baru bicara? Mungkinkah dia betul-betul ingin berduaan saja denganku—bahkan sekarang, setelah menyaksikan nafsu membunuhku?
Entah itu masalahnya atau bukan, dia perlu makan sesuatu.
“Kalau begitu, hibur aku.”
Kubukakan pintu restoran untuknya.
Aku berjalan di sisinya menuju ke tempat penerima tamu. Bella kelihatannya masih menutup diri. Aku ingin menyentuh tangannya, keningnya, untuk mengecek suhu badannya. Tapi tangan dinginku hanya akan ditolaknya, seperti yang lalu.
Ya ampun, pikiran penerima tamu itu menyelinap kedalam kesadaranku. Oh, ya ampun.
Sepertinya ini malam keberuntunganku. Atau, aku hanya menyadarinya lebih karena sangat berharap bahwa Bella akan memandangku seperti itu? Kami selalu terlihat menarik bagi mangsa kami. Aku belum pernah terlalu memikirkan tentang itu sebelumnya. Biasanya —kecuali pada orang-orang seperti Mrs. Cope dan Jessica Stanley, yang berusaha keras menumpulkan ketakutannya—rasa takut langsung melanda setelah daya tarik awal…
“Meja untuk dua orang?” kataku pelan ketika penerima tamu itu tidak juga bicara.
“Oh, eh, iya. Selamat datang di La Bella Italia.” Hmm! Suaranya! “Silahkan ikuti saya.” Pikirannya sedang menebak-nebak.
Barangkali dia sepupunya. Gadis ini tidak mungkin adiknya, mereka sama sekali tidak mirip. Tapi keluarga, pasti itu. Dia tidak mungkin berkencan dengannya.
Mata manusia memang kabur; Mereka sama sekali tidak melihat dengan jelas. Bagaimana bisa perempuan picik ini menilai daya tarik fisikku—perangkap bagi mangsaku —begitu menarik, namun tidak dapat melihat kesempurnaan yang lembut pada gadis di sampingku ini?
Well, lebih baik tidak usah mengambil resiko, batin penerima tamu itu saat membawa kami ke sebuah meja di tengah ruangan yang paling ramai. Bisakah aku memberikan nomer teleponku selama ada gadis itu…?
Aku mengambil selembar uang dari kantongku. Orang-orang jadi sangat kooperatif jika uang dilibatkan.
Tanpa ambil pusing, Bella sudah duduk di meja yang ditunjuk. Aku menggeleng, dan dia jadi ragu, menelengkan kepala penasaran. Ya, dia akan sangat penasaran malam ini. Keramaian bukan tempat yang cocok untuk pembicaraan seperti itu.
“Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” pintaku pada si penerima tamu sembari menyodorkan uangku. Matanya melebar terkejut, kemudian menyipit saat tangannya mengambil uang tip itu.
“Tentu saja.”
Dia mengintip uang itu saat mengantar kami memutari dinding pemisah.
Lima puluh dolar untuk meja yang lebih baik? Dia juga kaya. Itu masuk akal—berani taruhan pasti harga jaketnya lebih mahal dari gajiku. Sialan. Kenapa juga dia mau tempat yang lebih privasi bersama gadis ini?
Dia menawari kami sebuah bilik di pojokan yang sepi, dimana tidak ada orang yang akan melihat kami—untuk melihat reaksi Bella atas apapun yang akan kusampaikan. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dia tanyakan nanti. Atau, apa yang akan kuceritakan.
Seberapa banyak yang bisa ia tebak? Apa penjelasan dari kejadian tadi, yang ia ceritakan pada dirinya sendiri?
“Bagaimana kalau disini?” tanya penerima tamu itu.
“Sempurna,” kataku dengan perasaan terganggu karena sikap tidak sopannya pada Bella. Aku tersenyum lebar-lebar ke dia, menunjukan seluruh baris gigiku. Biar dia lihat siapa diriku sebenarnya.
Wow. “Mmm…pelayan kalian akan segera datang.” Dia tidak mungkin nyata. Ini pasti mimpi. Barangkali gadis itu akan hilang…mungkin aku akan menulis nomer teleponku di piringnya memakai saos… Dia berlalu dengan langkah sempoyongan.
Aneh. Dia masih tidak takut. Aku jadi ingat Emmet pernah menggodaku di kafetaria beberapa waktu lalu. Berani taruhan aku bisa menakuti dia lebih dari itu.
Apa aku kehilangan kemampuanku yang satu itu?
“Seharusnya kau tidak melakukan itu pada orang-orang,” Bella menyela pikiranku dengan nada tidak setuju. “Tidak adil.”
Aku memperhatikan ekspresinya. Yang dia maksud apa? Aku tidak menakut-nakuti perempuan tadi, meski itu yang kuinginkan. “Melakukan apa?”
“Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang dia sedang sesak napas di dapur.”
Hmm. Bella hampir betul. Penerima tamu itu bisa dibilang setengah linglung saat ini, menggambarkan penilaiannya yang keliru tentang diriku pada temannya yang pelayan.
“Oh, yang benar saja,” Bella mencemoohku ketika aku tidak langsung menjawab. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu.”
“Aku membuat orang terpesona?” Itu istilah yang menarik untuk menggambarkannya. Cukup akurat untuk malam ini. Aku bertanya-tanya, kenapa berbeda dengan…
“Kau tidak menyadarinya?” tanya Bella masih tidak percaya. “Kau pikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?”
“Apa aku membuatmu terpesona?” Aku langsung mengucapkannya begitu saja, dan sudah terlambat untuk menariknya kembali.
Tapi, sebelum aku sempat menyesalinya, dia sudah menjawab. “Sering kali.” Dan pipinya bersemu merah muda.
Aku membuat dia terpesona.
Jantungku yang mati membusung oleh harapan yang lebih besar dari apapun yang pernah kurasakan.
“Halo,” sapa seseorang. Seorang pelayan memperkenalkan dirinya. Pikirannya nyaring sekali, dan lebih ekplisit dari penerima tamu tadi, tapi kukecilkan volumenya. Alih-alih mendengarkan, aku menatap wajah Bella, melihat darahnya mengalir dibawah kulitnya. Kuabaikan bagaimana itu membakar tenggorokanku, perhatianku lebih tertuju bagaimana itu membuat terang wajah pucatnya, bagaimana itu melenyapkan sendu pada kulitnya…
Si pelayan masih menunggu pesananku. Ah, dia minta pesanan minum kami. Aku tidak peduli dan terus saja memandangi Bella. Akhirnya si pelayan dengan enggan ganti menoleh ke Bella.
“Boleh saya minta coke?” tanya Bella, seakan minta persetujuan.
“Dua coke,” aku meralat. Haus—rasa haus manusia—adalah tanda-tanda syok. Akan kupastikan dia punya cukup gula dari soda pada sistem pencernaan tubuhnya.
Meski begitu dia terlihat sehat. Lebih dari sehat bahkan. Dia terlihat bercahaya.
“Apa?” tanyanya—sepertinya bertanya-tanya kenapa aku memperhatikan dia. Samar-samar aku sadar pelayan itu telah pergi.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyaku.
Dia mengerjap, terkejut oleh pertanyaanku. “Aku baik-baik saja.”
“Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan?”
Sekarang dia bahkan jadi lebih bingung. “Haruskah begitu?”
“Well, sebetulnya aku menunggumu syok.” Aku setengah tersenyum, menantikan sangkalannya. Dia tidak akan mau diperhatikan.
Butuh semenit baginya untuk menjawab. Matanya berubah agak tidak fokus. Kadang-kadang dia terlihat seperti itu, ketika aku tersenyum padanya. Apakah dia…terpesona?
Aku sangat ingin mempercayai itu.
“Kurasa itu tidak akan terjadi. Aku selalu bisa menguasai diri jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan,” jawabnya, sedikit kehabisan napas.
Berarti, apa dia sering mengalami kejadian-kejadian buruk? Apa hidupnya selalu penuh resiko seperti ini?
“Sama,” ujarku. “Aku akan merasa lebih baik jika kau sudah cukup mengkonsumsi minuman atau makanan yang manis-manis.”
Si pelayan kembali dengan membawa dua coke dan sekeranjang roti. Dia menaruhnya didepanku, dan menanyakan pesananku sambil berusaha menatap mataku. Aku memberi tanda agar dia seharusnya melayani Bella, dan kembali mengecilkan volume suara pikirannya. Isi pikirannya vulgar.
“Mmm…” Bella melirik sekilas ke menu. “Aku pesan jamur ravioli.”
Si pelayan cepat-cepat berpaling padaku. “Dan anda?”
“Aku tidak pesan apa-apa.”
Bella membuat ekspresi datar. Hmm. Dia pasti menyadari bahwa aku tidak pernah makan. Dia menyadari semuanya. Dan aku selalu lupa untuk berhati-hati di depannya.
Aku menunggu hingga kami sendirian lagi.
“Minumlah,” aku memaksa.
Aku terkejut ketika ia langsung menurut. Dia minum sampai gelasnya kosong, jadi kudorong gelas kedua padanya. Dahiku sedikit mengerut. Haus, atau syok?
Dia minum lagi sedikit, kemudian sempat menggigil.
“Kau kedinginan?”
“Ini cuma karena cokenya,” tapi dia gemetar lagi, bibirnya ikut menggigil seakan giginya akan menggemeretak.
Blus cantik yang ia pakai terlihat terlalu tipis untuk bisa melindungi tubuhnya; blus itu menggantung seperti kulit kedua, hampir serapuh kulit aslinya. Dia terlihat sangat lemah, sangat manusia. “Kau tidak punya jaket?”
“Punya.” Dia mencari-cari bingung. “Oh—ketinggalan di mobil Jessica.”
Kucopot jaketku, berharap suhu tubuhku tidak terlalu berpengaruh. Seharusnya akan lebih menyenangkan jika bisa menawarinya jaket yang hangat. Dia menatapku, pipinya merona lagi. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang?
Kuserahkan jaketku ke seberang meja, dan ia langsung memakainya, kemudian menggigil lagi.
Ya, akan lebih baik jika hangat.
“Terima kasih,” ujarnya. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu menarik lengan jaketnya yang kepanjangan sampai tangannya muncul. Dia mengambil napas dalam-dalam lagi.
Apakah kejadian tadi akhirnya mengendap juga? Warna kulitnya masih bagus; kulitnya terlihat seperti susu dan mawar, jika dipadankan dengan warna biru-tua blusnya.
“Warna biru itu terlihat indah di kulitmu,” pujiku. Sekedar bersikap sopan.
Dia tersipu, menambah indah efeknya.
Dia kelihatan baik-baik saja, tapi tidak perlu mengambil resiko. Kudorong keranjang roti itu ke arahnya.
“Sungguh,” dia menolak, menebak niatku. “Aku tidak merasa syok.”
“Seharusnya kau syok—orang normal akan begitu. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.” Aku menatapnya, menolak pendapatnya, bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa jadi normal, kemudian sangsi jika aku memang ingin dia seperti itu.
“Aku merasa sangat aman denganmu,” ujarnya dengan tatapan penuh percaya. Rasa percaya yang tidak pantas kudapatkan.
Instingnya sangat keliru—bertolak belakang. Pasti itu masalahnya. Dia tidak mengenali bahaya seperti orang normal lainnya. Sikapnya bertolak belakang. Alih-alih lari, dia tinggal, mendekati apa yang seharusnya membuat dia takut…
Bagaimana caranya aku bisa melindungi dia dariku ketika tidak ada satupun dari kita yang menginginkannya?
“Ini lebih rumit dari yang kubayangkan,” gumamku.
Bisa kulihat dia berusaha mencerna perkataanku. Dan aku bertanya-tanya apa hasilnya.
Dia mengambil secuil roti dan mulai memakannya tanpa sepenuhnya sadar dengan tindakannya. Dia mengunyah sebentar, lalu menelengkan kepala penuh pertimbangan.
“Biasanya suasana hatimu lebih baik ketika warna matamu terang,” ujarnya dengan nada santai.
Pengamatannya membuatku terkesima. “Apa?”
“Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam—tadi kupikir matamu berubah kelam. Aku punya teori tentang itu.”
Jadi dia telah punya penjelasan sendiri. Tentu saja dia begitu. Aku jadi khawatir, seberapa dekat pada kebenaran.
“Teori lagi?”
“Hmm-mm.” Dia mengunyah satu gigitan lagi, benar-benar tidak sadar, seakan tidak sedang membahas tentang monster pada si monster sendiri.
“Kuharap kau lebih kreatif kali ini…” kataku bohong. Yang sesungguhnya, kuharap dia salah—meleset sangat jauh. “Atau kamu masih mengutip dari buku-buku komik?”
“Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik,” jawabnya agak malu. “Tapi aku juga tidak menduga-duganya sendiri,”
“Dan?” tanyaku dari sela gigi.
Tentu dia tidak akan bicara setenang ini jika mau teriak.
Saat dia bimbang sambil menggigit bibirnya, si pelayan datang membawa pesanannya. Aku tidak terlalu memperhatikan pelayan itu saat ia meletakkan piringnya di depan Bella dan bertanya padaku apa aku butuh sesuatu.
Aku menolak, tapi minta tambahan soda. Pelayan itu tidak menyadari gelas Bella yang sudah kosong. Kemudian dia mengambilnya, dan pergi.
“Apa katamu tadi?” bisikku penasaran setelah kami sudah berdua lagi.
“Aku akan menceritakannya di mobil,” jawabnya pelan. Ah, ini pasti buruk. Dia tidak mau membicarakan tebakannya di tengah orang banyak. “Kalau…” dia menambahkan tiba-tiba.
“Ada syaratnya?” Aku begitu tegang hingga hampir menggeramkan kata-katanya.
“Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan.”
“Tidak masalah.” Aku mengiyakan dengan suara parau.
Pertanyaan-pertanyaannya mungkin cukup memberiku petunjuk kemana arah pikirannya. Tapi bagaimana aku mesti menjawabnya? Dengan kebohongan yang bertanggung jawab? Atau aku mesti mengelak? Atau tidak menjawabnya sama sekali?
Kami duduk diam saat si pelayan mengisi kembali sodanya.
“Well, ayo mulai,” kataku dengan rahang terkunci ketika si pelayan sudah pergi.
“Kenapa kau berada di Port Angeles?”
Itu pertanyaan yang terlalu mudah—buat dia. Itu sama sekali tidak mengungkapkan isi pikirannya, sedang jawabanku, jika yang sebenarnya, akan mengungkapkan terlalu banyak. Biar dia mengungkapkan sesuatu dulu.
“Berikutnya,” sergahku.
“Tapi itu yang paling mudah,”
“Berikutnya,” kataku lagi.
Dia frustasi dengan penolakanku. Dia berpaling, menatap makanannya. Pelan-pelan, sambil berpikir keras, dia menggigit dan mengunyah rotinya dengan penuh pertimbangan. Dia menelannya dengan bantuan soda, dan akhirnya menatapku. Matanya menyipit curiga.
“Oke, kalau begitu,” katanya. “Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang… bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu—dengan beberapa pengecualian.”
Bisa saja lebih parah dari ini.
Ini menjelaskan senyum kecil di mobil tadi. Daya tangkapnya cepat. Belum pernah ada orang yang bisa menebak kemampuanku, kecuali Carlisle. Itu jadi agak jelas karena pada awalnya aku menjawab semua isi pikirannya seakan dia mengucapkannya padaku. Dia mengerti duluan, sebelum aku…
Pertanyaannya tidak terlalu buruk. Dia sudah lebih dulu tahu ada yang tidak beres dengan diriku, jadi ini tidak seburuk sebelumnya. Membaca pikiran, bagaimanapun, bukan termasuk ciri-ciri vampir. Aku akan mengikuti hipotesisnya.
“Hanya satu pengecualian,” koreksiku. “Secara hipotesis.”
Dia menahan senyum—persetujuan samarku membuatnya senang.
“Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian. Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasan-batasannya? Bagaimana bisa… seseorang… menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?”
“Secara hipotesis?”
“Tentu saja.” Bibirnya mengejang, mata coklat beningnya berharap penasaran.
“Well,” aku ragu-ragu. “Kalau.. seseorang itu…”
“Sebut saja dia Joe.” Dia menawarkan.
Aku jadi tersenyum melihat semangatnya. Apa dia betul-betul berpikir bahwa yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik? Apa tidak pernah terpikir, jika rahasiaku sesuatu yang menyenangkan, buat apa selama ini merahasiakannya dari dia?
“Ya sudah.” akhirnya aku setuju. “Kalau Joe memerhatikan, pemilihan waktunya tak perlu setepat itu.” Aku menggeleng, menahan untuk tidak gemetar pada pikiran bagaimana hampir terlambatnya aku tadi. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau tahu itu.”
Sudut bibirnya turun, dan ia memberengut. “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotesis,”
Aku tertawa melihat kekesalannya.
Bibirnya, kulitnya… Terlihat sangat lembut. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin menyentuh sudut bibirnya dengan ujung jariku dan mengembalikan senyumannya. Mustahil. Kulitku akan menjijikan buat dia.
“Betul juga,” kataku kembali pada pembicaraan, sebelum aku jadi tertekan. “Bisakah kita memanggilmu Jasmine?”
Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja ke arahku, segala humor dan kesal hilang dari matanya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya dengan suara rendah dan tajam.
Haruskah aku memberitahu yang sebenarnya? Dan, jika iya, seberapa banyak?
Aku ingin menceritakannya ke dia. Aku ingin merasa pantas atas kepercayaan yang masih kulihat dari wajahnya.
“Kau tahu, kau bisa mempercayaiku,” bisiknya. Dan ia mengulurkan tangan seakan ingin menyentuh tanganku yang ada di atas meja.
Segera kutarik tanganku—benci membayangkan bagaimana reaksinya atas kulit dinginku yang seperti batu—dan dia menjatuhkan tangannya.
Aku tahu aku bisa mempercayai dia untuk menjaga rahasiaku; dia sangat bisa dipercaya. Tapi aku tidak percaya dia tidak akan takut. Dia sebaiknya takut. Kebenarannya adalah horor.
“Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan,” gumamku. Aku ingat pernah sekali menggodanya dengan menyebut dia ‘tak pernah memperhatikan sekelilingnya.’ Dan waktu itu aku membuatnya tersinggung—jika aku menilai ekspresinya dengan benar. Well, paling tidak aku bisa meluruskan kesalahan persepsi itu. “Aku salah—kau lebih teliti daripada yang kukira.” Mungkin dia tidak sadar, tapi aku baru saja memberinya banyak pujian. Dia tidak melewatkan apapun.
“Kupikir kau selalu benar.” Dia tersenyum meledekku.
“Biasanya begitu.” Biasanya aku tahu apa yang kulakukan. Biasanya aku selalu yakin dengan langkahku. Tapi sekarang semuanya kacau dan tak terkendali.
Tetap saja, aku tidak mau menukarnya. Aku tidak mau kehidupan yang masuk akal. Tidak jika kekacauan berarti bisa bersama Bella.
“Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.” Aku melanjutkan untuk meluruskan poin yang lain. “Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup luas. Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. Masalah itu selalu bisa menemukanmu.” Kenapa harus dia? Apa yang sudah ia lakukan sampai pantas mendapatkan semua ini?
Wajah Bella berubah serius lagi. “Dan kau menempatkanmu dirimu sendiri dalam kategori itu?”
Ketimbang pertanyaan lain, kejujuran sangat penting untuk menjawab pertanyaan ini. “Tak salah lagi.”
Matanya sedikit menyipit—kini bukan curiga, tapi anehnya prihatin. Dia mengulurkan tangannya ke atas meja lagi, pelan dan penuh pertimbangan. Aku sedikit menarik tanganku, tapi dia mengabaikannya, bersikeras untuk menyentuhku. Aku menahan napas—bukan karena aromanya, tapi karena takut. Takut kulitku akan membuatnya muak. Takut dia akan lari.
Ujung jarinya menyentuh ringan punggung tanganku. Kehangatan sentuhannya yang lembut tidak seperti yang pernah kurasakan selama ini. Ini hampir murni menyenangkan. Mungkin saja akan begitu jika tanpa ketakutanku.
Aku memperhatikan wajahnya saat dia merasakan tangan dinginku yang membeku, masih dengan tidak bernapas. Secercah senyum muncul di sudut bibirnya.
“Terima kasih.” Dia balas menatapku dengan tatapan lekat miliknya. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku.”
Jari-jarinya yang lembut tetap tinggal di tanganku seakan telah menemukan tempat yang menyenangkan.
Aku menjawabnya setenang yang kubisa, “Jangan ada yang ketiga kali, oke?”
Dia cemberut, tapi mengangguk.
Kutarik tanganku dari bawah tangannya. Meski sentuhannya begitu menyenangkan, aku tidak mau menunggu sampai batas toleransinya yang ajaib habis, dan berubah jadi penolakan. Kemudian kusembunyikan tanganku di bawah meja.
Aku membaca matanya; meski pikirannya sunyi, aku bisa merasakan pancaran percaya sekaligus kagum dari situ. Saat itu juga aku sadar aku ingin menjawab semua pertanyaannya. Bukan karena aku berhutang padanya. Bukan karena aku ingin dia percaya padaku.
Aku ingin dia mengenalku.
“Aku membuntutimu ke Port Angeles.” Kata-kata itu keluar begitu cepat tanpa sempat kuedit. Aku tahu bahaya dari kejujuranku, resiko yang kuambil. Kapan saja, ketenangannya yang ganjil ini bisa pecah jadi histeris. Namun, itu justru mendorongku untuk bicara lebih cepat lagi. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana…”
Aku mengamatinya, menunggu.
Dia tersenyum. Sudut bibirnya terangkat keatas, dan mata coklatnya menghangat.
Aku baru saja mengaku membuntuti dia, dan dia tersenyum.
“Pernahkah kau berpikir mungin takdir telah memilihku sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah mencampurinya?” tanyanya kemudian.
“Itu bukan yang pertama,” sanggahku sambil menunduk, menatap taplak meja yang berwarna merah marun. Bahuku terkulai malu. Pertahananku mulai runtuh, kebenaran terus saja mengalir dengan ceroboh. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu.”
Itu betul, dan itu membuatku marah. Aku telah memposisikan diriku bagai pisau tajam dalam hidupnya. Itu sama seperti dia telah divonis mati oleh takdir kejam yang tidak adil. Dan—sejak kelemahan tekadku akhirnya terbukti—takdir itu melanjutkan usahanya untuk mengeksekusi dia.
Aku membayangkan wujud takdir itu—siluman rubah betina bengis yang pencemburu dan pendendam.
Aku ingin ada seseorang yang bertanggung jawab—agar ada seseorang yang bisa kulawan. Seseorang untuk dihancurkan agar Bella bisa kembali aman.
Bella sangat diam; napasnya semakin cepat.
Aku mendongak melihatnya, sadar akhirnya akan segera melihat ekspresi takut di wajahnya. Bukankah aku baru saja mengakui telah hampir membunuhnya? Lebih dekat dari sekedar van yang seinci lagi hampir melindasnya. Tapi tetap saja, anehnya, wajahnya tetap tenang. Matanya masih menatapku lekat-lekat, namun kali ini dengan tatapan prihatin.
“Kau ingat?” Dia pasti ingat.
“Ya,” jawabnya tenang. Matanya yang dalam, sepenuhnya sadar.
Dia tahu. Dia tahu aku pernah berniat untuk membunuhnya.
Lalu, dimana jeritannya?
“Tapi toh sekarang kau tetap duduk di sini.” Aku mempertanyakan sikapnya yang bertolak belakang.
“Ya, di sinilah aku duduk… berkat dirimu.” Ekspresinya berubah, jadi penasaran, dan dengan mudahnya langsung mengganti topik. “Karena, entah bagaimana, kau tahu bagaimana menemukanku hari ini…”
Dengan sia-sia, sekali lagi aku berusaha menembus pikirannya, mencoba mati-matian untuk memahami. Itu tidak masuk logika berpikirku. Bagaimana bisa dia peduli dengan yang lainnya, ketika kebenarannya yang mengerikan telah terungkap?
Dia menunggu penasaran. Kulitnya pucat—yang memang aslinya begitu, tapi tetap saja membuatku khawatir. Makan malamnya masih tetap tidak tersentuh. Jika ceritaku diteruskan, dia akan butuh tambahan tenaga saat syoknya pecah.
Aku pun mengajukan syaratku. “Kau makan, aku bicara.”
Dia mengolahnya selama sepersekian detik, lalu cepat-cepat menyendok dan mengunyah raviolinya. Dia terlihat lebih penasaran dari yang ditunjukan matanya.
“Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya.” Akhirnya aku meneruskan ceritaku. “Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah menemukannya.”
Aku mengamati wajahnya baik-baik saat mengatakannya. Inilah saatnya kengerian dia akan muncul. Menebak reaksinya dengan betul adalah satu hal, menyaksikannya terjadi adalah kesulitan yang lain.
Dia tidak bergerak, matanya lebar. Rahangku sendiri terkunci rapat saat menunggu detik-detik dia akan panik.
Tapi dia hanya mengerjap satu kali, menelan keras-keras, dan cepat-cepat mengambil satu suapan lagi ke mulutnya. Dia ingin aku meneruskan.
“Aku mengikuti Jessica,” lanjutku sambil memperhatikan setiap kata-kataku meresap. “Dengan tidak hati-hati—”aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menambahkan,“—seperti kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles.” Sadarkah dia bahwa jarang orang punya pengalaman hampir mati seperti dia. Atau, apa menurutnya dia itu normal-normal saja? Dia jauh dari normal dibanding orang-orang yang pernah kutemui. “Awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk ke sana, dan kau pergi ke arah selatan… dan aku tahu kau toh harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan— melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di mana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir… tapi anehnya aku toh khawatir juga.”
Napasku memburu saat ingat kepanikan itu. Bersama derasnya udara yang masuk, napasnya membakar tenggorokanku. Dan itu membuatku lega. Itu adalah rasa sakit yang menandakan dia masih hidup. Selama aku masih merasa terbakar, berarti dia aman.
“Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil… mendengarkan.” Kuharap kata-kataku terdengar masuk akal. Ini pasti membingungkan. “Matahari akhirnya terbenam, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—”
Saat ingatan itu kembali—sejernih seperti sedang mengalaminya lagi—kurasakan nafsu membunuh kembali membilas tubuhku, mengunci tubuhku jadi es.
Aku mau orang itu mati. Aku butuh dia mati. Rahangku terkatup rapat saat berkonsentrasi untuk bisa tetap duduk. Bella masih membutuhkanku. Itulah yang paling penting.
“Lalu apa?” bisiknya dengan mata coklat gelapnya yang lebar.
“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan,” ujarku dari sela gigi, tidak sanggup untuk tidak menggeram. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya.”
Dorongan untuk membunuh itu begitu kuat, aku hampir tidak kuat menahannya. Aku masih tahu pasti dimana keberadaan orang itu. Pikiran-pikiran busuknya menghisap di kegelapan malam, menarikku ke arahnya…
Aku menutup wajahku. Ekspresiku pasti seperti monster, pemburu, dan pembunuh. Dengan mata tertutup, aku membayangkan wajah Bella supaya bisa mengendalikan diri. Fokus hanya pada wajahnya, kelembutan tulang-tulang tubuhnya, lapisan tipis kulitnya yang pucat—seperti balutan sutra di atas permukaan kaca, sangat lembut dan mudah pecah. Dia terlalu rapuh untuk dunia ini. Dia butuh seorang pelindung. Dan, melalui takdir yang salah kaprah, aku satu-satunya yang paling memungkinkan untuk mengisi posisi itu.
Aku coba menjelaskan reaksiku yang keji supaya dia mengerti.
“Sulit… sulit sekali—kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya—hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka… tetap hidup,” bisikku. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi mencari mereka.”
Untuk kedua kalinya malam ini, aku mengakui niatku untuk membunuh. Paling tidak yang satu ini bisa dipertanggung jawabkan.
Dia masih saja diam saat aku berusaha mengendalikan diri. Aku mendengarkan detak jantungnya; iramanya sempat tidak teratur, tapi makin lama makin lambat sampai akhirnya tenang lagi. Napasnya juga tenang dan teratur.
Aku sendiri sudah hampir lepas kendali. Aku mesti cepat-cepat mengantarnya pulang sebelum…
Apakah setelah itu aku akan membunuh mereka? Apakah aku akan menjadi pembunuh lagi setelah kini dia mempercayaiku? Adakah cara untuk menghentikanku?
Dia janji akan memberitahu teorinya ketika kami sendirian. Maukah aku mendengarnya? Aku penasaran, tapi jangan-jangan konsekuensinya justru jadi lebih buruk ketimbang tidak tahu.
Dalam batas tertentu, dia sudah cukup banyak mendengar kebenaran yang sanggup dia terima dalam satu malam.
Aku menatapnya lagi, dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, tapi tenang.
“Kau sudah siap pulang?” tanyaku.
“Aku siap untuk pulang.” Sepertinya dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seakan jawaban sederhana ‘ya’ tidak sepenuhnya mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
Benar-benar membuat frustasi.
Pelayan itu kembali. Dia mendengar pernyataan Bella saat sedang lewat di bilik sebelah. Dia membayangkan apa lagi yang bisa ditawarkan padaku. Dan aku ingin mengusir sebagian tawaran itu yang terlanjur terdengar oleh pikiranku.
“Jadi bagaimana?” tanya pelayan itu padaku.
“Kami mau bayar, terima kasih,” jawabku sambil masih terus menatap Bella.
Napas pelayan itu memburu, dan sesaat dia—meminjam istilah Bella—terpesona oleh suaraku.
Seketika itu juga, saat mendengar bagaimana suaraku kedengarannya di kepala pelayan itu, aku jadi menyadari kenapa malam ini aku bisa menarik begitu banyak kekaguman—tidak diiringi oleh takut seperti biasanya.
Alasannya karena Bella. Berusaha mati-matian jadi aman buat dia, jadi lebih tidak menakutkan, jadi manusia, membuatku kehilangan tajiku. Kini manusia hanya melihat indahnya saja karena iner-hororku telah kutahan.
Aku mendongak, melihat ke si pelayan, menunggu dia menguasai diri. Sekarang jadi sedikit lucu, setelah mengerti alasannya.
“T-tentu,” ujarnya terbata-bata. “Ini dia.”
Dia menyerahkan folder berisi tagihan. Di benaknya dia memikirkan secarik kertas yang ia selipkan di bawah resi. Secarik kertas dengan nama dan nomer telepon dirinya.
Ya, ini cukup lucu.
Aku menyelipkan uangku tanpa membuka foldernya dan langsung kukembalikan. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot menunggu telepon yang tak akan pernah datang.
“Simpan saja kembaliannya.” Kuharap tipsnya yang besar bisa mengobati kekecewaan pelayan itu.
Aku berdiri, dan Bella cepat-cepat mengikuti. Aku ingin menawarkan tanganku, tapi kupikir itu akan memaksakan keberuntunganku sedikit terlalu jauh untuk satu malam. Aku mengucapkan terima kasih pada si pelayan tanpa mengalihkan pandangan dari Bella.
Kami berjalan menuju pintu keluar; aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani. Cukup dekat hingga kehangatan tubuhnya terasa seperti sentuhan langsung pada sisi kiri tubuhku. Saat dia melewatiku yang sedang menahan pintu restoran untuknya, dia menghela napas pelan. Itu membuatku bertanya-tanya, penyesalan apa yang membuatnya sedih. Aku menatap ke dalam matanya, sudah ingin bertanya, ketika tiba-tiba ia menunduk, kelihatan malu. Itu membuatku lebih penasaran lagi, tapi juga segan untuk bertanya. Keheningan diantara kami berlanjut sampai saat aku membukakan pintu mobil buat dia dan masuk.
Aku menyalakan pemanas—hawa hangat memenuhi kabin mobilku; mobil yang dingin pasti membuatnya tidak nyaman. Dia bersidekap di balik jaketku, secercah senyum pada bibirnya.
Aku menunggu, menunda pembicaraan sampai lampu-lampu di pinggir jalan memudar. Itu membuatku merasa semakin berdua saja dengannya.
Apa itu langkah yang tepat? Kini, saat hanya fokus padanya, mobilku terlihat sangat kecil. Aromanya bergelung-gelung didalam kabin bersama dengan hembusan dari pemanas, bergolak dan menguat. Aromanya tumbuh jadi kekuatan tersendiri yang lebih besar, seperti entitas lain di dalam mobil. Sebuah kehadiran yang membutuhkan pengakuan.
Pasti begitu; aku terbakar. Meski begitu rasa terbakar ini bisa kuterima. Sangat pantas untukku. Aku sudah diberikan sangat banyak malam ini—lebih dari yang kuharapkan. Dan, disinilah dia, masih ingin berada di sisiku. Aku berhutang sesuatu atas hal ini. Sebuah pengorbanan. Perasaan terbakar.
Ugh, seandainya saja aku bisa menahan hanya sebatas itu; cuma terbakar, tidak lebih. Tapi yang terjadi; liur telah membanjiri mulutku, dan otot-ototku menegang, seakan aku sedang berburu…
Aku harus menghindari pikiran seperti itu. Dan sepertinya aku tahu apa yang bisa mengalihkan perhatianku.
“Sekarang,” kataku ragu, takut rasa terbakar ini jadi lepas kendali. “Giliranmu.”
Midnight Sun halaman 8
Bab 8
Hantu
Aku tidak terlalu sering menemui tamu Jasper di dua hari kedatangannya ke Forks. Aku hanya pulang semata-mata agar Esme tidak khawatir.
Sudah begitu, keberadaanku sekarang lebih mirip seperti hantu daripada vampir. Aku menunggu, tersembunyi dibalik bayangan, dan membuntuti objek obsesiku. Aku mengawasi dan mendengarkan dia dari pikiran orang-orang yang begitu beruntung karena bisa berjalan bersamanya dibawah sinar matahari, yang sesekali secara tidak sengaja menyentuh tangannya saat berjalan. Dia tidak pernah bereaksi dengan sentuhan seperti itu; tangan mereka sama hangatnya dengan tangan dia.
Keterpaksaan membolos begini tidak pernah semenyiksa ini sebelumnya. Tapi matahari kelihatannya membuat dia bahagia, jadi aku tidak terlalu kesal. Apapun yang membuatnya senang aku ikut senang.
Senin pagi, aku menguping pembicaraan yang berpotensi merusak kepercayaan diriku dan membuat hariku jadi lebih parah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, berita baiklah yang kudapat.
Aku sedikit menaruh hormat pada Mike Newton; dia tidak menyerah begitu saja dan terpuruk. Dia jauh lebih berani dari yang kukira. Dia akan mencobanya lagi.
Bella tiba di sekolah lebih awal. Dia terlihat sangat menikmati pancaran matahari, duduk di salah satu kursi piknik yang jarang dipakai sembari menunggu bel pertama berbunyi. Sinar matahari membuat rambutnya kelihatan berbeda, memancarkan semburat merah yang tidak kulihat sebelumnya.
Mike menemukan dia disana, dan merasa senang pada keberuntungannya.
Rasanya menyakitkan hanya bisa menonton, tak berdaya, terpenjara dibalik bayang-bayang hutan.
Bella menyapanya dengan semangat yang cukup membuat Mike girang, dan yang sebaliknya terjadi padaku.
Betul kan, dia menyukaiku. Dia tidak akan tersenyum seperti itu jika dia tidak suka.
Berani taruhan, Sebetulnya dia ingin pergi ke pesta dansa bersamaku. Kira-kira apa yang begitu penting di Seattle…
Mike menyadari perubahan di rambut Bella. “Aku tidak pernah menyadari sebelumnya —rambutmu ada semburat merahnya.”
Aku secara tidak sengaja mencabut batang pohon palem muda disampingku saat melihat Mike meraih sejumput rambut Bella dengan tangannya.
“Hanya dibawah sinar matahari,” katanya.
Dengan puas aku melihat bagaimana Bella agak menarik diri menjauh ketika Mike mengembalikan rambutnya ke belakang telinga.
Butuh beberapa saat bagi Mike untuk mengembalikan keberaniannya lagi, menghabiskan beberapa saat dengan obrolan ringan.
Bella mengingatkan tentang esai yang mesti dikumpulkan pada hari Rabu. Dari ekspresi puas samar di wajahnya, sepertinya tugasnya sudah selesai. Sedang Mike sama sekali lupa.
Dasar esai sialan!
Akhirnya ia sampai ke pokok pembicaraan—gigiku terkatup sangat rapat hingga bisa mengikis batu granit. Tapi kemudian dia tidak sanggup menanyakannya begitu saja.
“Kurasa aku harus mengerjakan esaiku malam ini. Padahal aku ingin mengajakmu kencan.”
“Oh,” ujar Bella.
Sejenak hening.
Oh? Apa itu artinya? Apa dia akan berkata ya? Tunggu—sepertinya aku belum benar-benar bertanya.
Mike menelan ludah.
“Well, kita bisa pergi makan malam atau apa…dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti.”
Geblek—itu juga bukan pertanyaan.
“Mike…”
Pedih dan marah akibat cemburu, terasa berkali-kali lipat lebih besar dari minggu lalu. Aku mematahkan satu batang pohon lagi. Aku sangat ingin terbang kesana, secepat kilat hingga tak ada yang bisa melihat, dan merenggutnya—untuk menculik Bella dari bocah yang saat ini begitu kubenci hingga bisa saja aku membunuhnya detik ini juga dan menikmatinya.
Apa dia akan menjawab ya padanya?
“Aku pikir itu bukan ide yang bagus.”
Aku bernapas lagi. tubuhku bisa kembali rileks.
Sepertinya Seattle memang cuma alasan. Aku seharusnya tidak bertanya. Apa yang kupikirkan? Berani taruhan pasti gara-gara si aneh Cullen itu…
“Kenapa?” tanya Mike dengan marah terpendam.
“Kurasa…” Bella bimbang. “Kalau kau sampai cerita-cerita apa yang akan kuberitahu ini ke orang lain, dengan senang hati aku akan memukulimu sampai mati—”
Aku tergelak mendengar ancaman kematian keluar dari mulutnya. Seekor burung cericit terhenyak kaget dan langsung terbang kabur.
“Tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.”
“Jessica?” Apa? Tapi… Oh. Oke. Sepertinya… Jadi… Hmm.
Pikirannya kini saling tumpang tindih.
“Yang benar saja, Mike, kau ini buta ya?”
Tidak seharusnya Bella berharap orang lain sepeka dia. Tapi, memang, hal itu sebetulnya sangat kentara. Dengan segala kerepotan yang Mike persiapkan untuk mengajak Bella kencan, apa dia pernah membayangkan bahwa tidak akan sesulit itu jika menghadapi Jessica? Pasti karena egois, yang membuat dia buta dengan sekelilingnya. Sedang Bella begitu tidak egois, dia melihat segalanya.
Jessica. Hmm. Wow. Hmm. “Oh,” Dia tidak bisa berkata-kata.
Bella memanfaatkan kebingungan itu untuk menghindar.
“Waktunya masuk kelas, dan aku tidak boleh terlambat lagi.”
Sejak itu pikiran Mike sudah tidak bisa kuandalkan lagi. Saat berulang kali membayangkan Jessica di kepalanya, dia merasa lebih suka pada ide bahwa Jessica tertarik pada dirinya. Buatnya itu pilihan kedua, tidak sebaik jika itu adalah Bella.
Kurasa dia cukup manis. Badannya lumayan. Burung yang sudah di tangan…
Kemudian dia lenyap, sibuk dengan fantasinya, sevulgar fantasinya tentang Bella, tapi kini lebih membuatku jijik dari pada marah. Dia tidak layak mendapatkan gadis manapun; baginya mereka hampir bisa ditukar-tukar. Sebisa mungkin aku menjauhi pikirannya.
Ketika Bella sudah hilang dari pandangan, aku duduk bersandar pada batang pohon Madone besar, berloncatan dari pikiran ke pikiran, mengikuti Bella terus, dan senang jika ada Angela Weber di dekatnya. Kuharap ada satu cara untuk bisa berterima kasih pada gadis itu karena sudah menjadi teman yang baik buat Bella. Aku merasa lebih baik tahu Bella punya satu orang yang layak disebut teman.
Aku mengamati wajah Bella dari sisi manapun yang tersedia, dan dia terlihat sedih lagi. Ini mengejutkanku—kupikir cuaca cerah cukup membuatnya tersenyum. Pada saat jam makan siang, dia berkali-kali melirik ke meja keluargaku yang kosong. Dan itu membuatku berdebar-debar, memberiku harapan. Barangkali dia merindukanku juga.
Dia berencana untuk jalan-jalan bersama teman-teman perempuannya—otomatis aku juga merencanakan pengintaianku sendiri—tapi kemudian rencana mereka tertunda karena Mike mengajak Jessica kencan.
Jadi, aku langsung saja pergi ke rumah Bella, menyisiri hutan di sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya. Aku tahu Jasper sudah mewanti-wanti ‘saudaranya’ agar menghindari pemukiman, tapi aku tidak mau ambil resiko. Peter dan Charlotte memang tidak berniat cari gara-gara dengan keluarga kami, tapi niat selalu berubah-ubah tiap waktu…
Oke, aku memang berlebihan. Aku tahu itu.
Seakan dia tahu aku sedang mengawasi, seakan dia merasa kasihan dengan penderitaanku karena tidak bisa melihatnya, Bella keluar ke halaman setelah berjam-jam di dalam. Dia membawa sebuah buku tebal dan selimut.
Diam-diam aku memanjat ke dahan pohon paling tinggi agar lebih bisa leluasa melihatnya.
Dia menggelar selimutnya ke atas rerumputan yang lembab dan berbaring menelungkup. Kemudian ia mulai membalik-balik bukunya, yang kelihatannya sudah sering dibaca, seakan sedang mencari halaman terakhir yang dibaca. Aku membaca lewat pundaknya.
Ah—lagi-lagi klasik. Dia penggemar Austen.
Dia membaca dengan cepat sambil menyilangkan pergelangan kakinya di udara. Aku sedang mengawasi bagaimana sinar matahari dan tiupan angin memainkan rambutnya saat tiba-tiba badannya kaku, tangannya membeku di satu halaman. Yang bisa kulihat dia sudah sampai ke bab ketiga saat tiba-tiba jarinya mengambil setumpuk halaman berikutnya, dan membukanya dengan kasar.
Aku sempat melihat judul halamannya, Mansfield Park. Dia memulai cerita yang baru —bukunya kumpulan karya Jane Austen. Aku bertanya-tanya kenapa mendadak ceritanya diganti.
Tidak beberapa lama, dia menutup bukunya dengan kesal. Dengan wajah sengit ia singkirkan bukunya dan berguling menelentang. Dia menghela napas panjang, seakan sedang menenangkan diri, menarik lengan bajunya keatas, dan memejamkan mata. Aku mengingat-ingat novel itu, tapi tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat membuatnya kesal. Satu misteri lagi. Aku mendesah.
Dia berbaring diam, hanya sekali membuat gerakan saat menyingkap rambutnya, membuangnya keatas kepala—aliran sungai coklat kemerahan. Setelah itu dia tidak bergerak lagi.
Napasnya lambat. Aku coba mendengarkan suara-suara dari rumah terdekat sampai sejauh mungkin.
Dua sendok makan tepung…secangkir susu…
Ayolah! Pakai saja yang ada!
Yang merah, atau biru…atau mungkin aku sebaiknya memakai sesuatu yang lebih kasual…
Tidak ada siapa-siapa di dekat sini. Aku meloncat turun, mendarat tanpa suara pada ujung kakiku.
Ini sangat-sangat salah, sangat beresiko. Aku ingat bagaimana aku sering menghakimi tindakan-tindakan Emmet yang tanpa dipikir panjang dulu dan bagaimana Jasper yang kurang disiplin—dan sekarang secara sadar aku mengabaikan segala aturan itu sedemikian parahnya hingga membuat penyelewengan mereka jadi tidak ada artinya. Biasanya aku selalu jadi yang paling bertanggung jawab.
Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian menyelinap maju kebawah sinar matahari.
Aku berusaha tidak melihat tubuhku yang terpapar cahaya matahari. Sudah cukup buruk bagaimana kulitku seperti batu dan tidak wajar saat di balik keremangan; aku tidak mau melihatnya saat aku dan Bella bersebelahan dibawah sinar matahari. Jurang perbedaan diantara kami sudah cukup besar, sudah cukup menyakitkan tanpa harus ditambah gambaran ini di kepalaku.
Tapi aku tidak bisa mengabaikan kilauan pelangi yang memantul di kulitnya saat aku mendekat. Rahangku terkunci ketika melihat pemandangan itu. Bisakah aku lebih aneh lagi? Aku membayangkan betapa ngerinya dia seandainya tiba-tiba matanya terbuka…
Aku sudah mau mundur lagi, tapi kemudian ia menggumam, menahanku di tempat.
“Mmm… Mmm…”
Tidak terlalu ada artinya. Well, aku akan menunggu sebentar.
Dengan hati-hati aku mengambil bukunya, mengulurkan tangan sambil menahan napas saat mendekat, sekedar jaga-jaga. Aku bernapas lagi ketika sudah kembali menjauh beberapa meter. Bisa kurasakan bagaimana sinar matahari dan udara terbuka berpengaruh pada aromanya. Panas membuat aroma tubuhnya jadi lebih manis. Tenggorokanku pun terbakar oleh hasrat yang besar, apinya membara dahsyat karena aku sudah terlalu lama tidak bertemu dengannya.
Aku diam sebentar untuk menguasai diri, dan kemudian—memaksakan diri untuk bernapas lewat hidung—kubuka bukunya. Dia mulai dengan cerita pertama… Aku membalik-balik halamannya sampai ke judul bab tiga, Sense and Sensibility, mencari sesuatu yang berpotensi membuatnya marah dalam karya Jane Austen yang sopan ini.
Saat secara otomatis mataku tertuju pada namaku—pada halaman inilah untuk pertama kalinya tokoh Edward Ferrars diperkenalkan—Bella bicara lagi.
“Mmm. Edward,” desahnya.
Kali ini aku tidak khawatir dia terbangun. Suaranya hanya bisikan pelan yang muram, bukan teriak ketakutan sebagaimana mestinya jika dia memang melihatku.
Perasaan gembira bergumul dengan kebencian dalam diriku. Paling tidak dia masih memimpikan aku.
“Edmund. Ahh. Terlalu…dekat…”
Edmund?
Ha! Dia sama sekali tidak memimpikan aku, akhirnya aku sadar. Rasa benci pada diriku menguat. Dia memimpikan tokoh-tokoh fiksi. Sia-sia sudah kesombonganku.
Aku mengembalikan bukunya, dan kembali menyelinap kebalik bayangan hutan—ke tempatku semestinya.
Siang pun berlalu. Aku mengawasi dengan perasaan tak berdaya ketika matahari pelan-pelan terbenam di ufuk dan bayangan sore merayap menuju arahnya. Aku ingin menghalaunya, tapi kegelapan tidak mungkin dielakkan; bayang sore pun mengambilnya. Ketika cahaya menghilang, kulitnya terlihat terlalu pucat—seperti hantu. Rambutnya kembali gelap, hampir hitam dihadapan wajahnya.
Itu hal yang mengerikan untuk dilihat—seperti menyaksikan penglihatan Alice menjadi nyata. Suara detak jantung Bella adalah satu-satunya yang menentramkan, suara yang menjadikan momen ini tidak seperti mimpi buruk.
Aku lega ketika ayahnya pulang.
Bisa kudengar sedikit suara pikirannya saat dia melaju hampir sampai di rumah. Beberapa gerutuan samar…sesuatu tentang pekerjaannya tadi. Harapan bercampur dengan lapar—sepertinya dia tidak sabar untuk makan malam. Tapi pikirannya tidak terlalu banyak bicara, aku tidak terlalu yakin tebakanku betul; aku cuma menangkap intinya.
Kira-kira seperti apa pikiran ibunya—kombinasi genetik seperti apa yang membuat Bella sangat unik.
Dia terbangun, bangkit duduk saat mendengar mobil ayahnya menepi. Dia memandang ke sekeliling, terlihat bingung dengan kegelapan yang tidak disangkanya. Untuk sesaat, matanya melihat kearah kegelapan tempatku bersembunyi, tapi dia langsung mengerjap melihat kearah lain.
“Charlie?” tanyanya pelan, masih sambil mengamati pepohonan di sekeliling halamannya.
Pintu mobil ayahnya dibanting tertutup, dan ia melihat ke arah suaranya. Dia cepat-cepat berdiri dan membereskan barang-barangnya, menoleh sekali lagi ke arah kegelapan hutan.
Aku pindah ke pepohonan yang lebih dekat dengan jendela dapur untuk mendengarkan malam mereka. Ternyata menarik membandingkan perkataan Charlie dengan isi pikirannya. Kecintaan dan kepedulian dia pada putri satu-satunya sangat besar, namun ucapan-ucapannya selalu pendek dan santai. Lebih seringnya mereka cuma duduk diam dengan nyaman.
Kudengar ia mengungkapkan rencananya untuk pergi ke Port Angeles besok, dan aku merancang rencanaku sendiri saat mendengarkannya. Jasper tidak memperingatkan teman-temannya untuk menjauhi Port Angeles. Meski aku tahu mereka baru saja berburu belum lama ini dan tidak berniat untuk berburu disekitar rumah kami, aku akan tetap mengawasi Bella. Hanya untuk jaga-jaga. Lagipula, selalu ada makhluk seperti kami di luar sana. Dan, juga ada semua bahaya yang mungkin saja menimpa manusia, yang sebelumnya tidak pernah kupertimbangkan.
Kudengar ia cemas besok mesti meninggalkan ayahnya untuk menyiapkan makan malam sendiri. Aku tersenyum pada hal ini karena membuktikan teoriku—ya, dia seorang pengasuh.
Setelah itu aku pergi. Aku akan kembali lagi setelah dia tidur.
Aku tidak akan melanggar privasinya seperti seorang pengintip. Aku disini untuk melindunginya, bukan untuk mengambil kesempatan sebagaimana Mike mungkin akan melakukannya jika ia setangkas aku. Aku tidak akan memperlakukannya dengan tidak sopan.
Rumahku kosong saat aku kembali, yang mana baik-baik saja untukku. Aku tidak rindu dengan segala pikiran mereka yang mempertanyakan kewarasanku. Emmet meninggalkan catatan yang ditempel di tiang dekat tangga.
Pertandingan bola di lapangan Rainier—ayo ikut! Please?
Aku menemukan pena dan menuliskan kata “Sori” dibawah permohonannya. Biar bagaimanapun, timnya telah lengkap tanpa kehadiranku.
Aku pergi ke lahan berburu terdekat, menyantap makhluk kecil lemah yang baunya tidak sebaik manusia yang biasa memburunya, dan kemudian berganti baju sebelum lari kembali ke Forks.
Tidur Bella tidak nyenyak malam ini. Selimutnya berantakan. Wajahnya kadang gelisah, kadang sedih. Aku bertanya-tanya, mimpi buruk apa yang menghantuinya…tapi kemudian sadar, mungkin sebaiknya aku tidak usah tahu.
Ketika bicara, seringkali ia berkomat-kamit mengeluhkan tentang Forks dengan suara murung. Hanya sekali, ketika ia mendesahkan kata, “Kembali,” tangannya membalik terbuka —sebuah sikap memohon. Bisakah aku berharap bahwa mungkin saja ia sedang memimpikan aku.
Hari sekolah berikutnya, hari terakhir matahari memenjarakanku, kurang lebih sama dengan sebelumnya. Bahkan Bella kelihatan lebih murung dari kemarin. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia akan membatalkan janjinya—kelihatannya dia sedang tidak mood.
Tapi, sebagai Bella, pasti ia akan memilih kesenangan temannya diatas kepentingan sendiri.
Ia mengenakan blus biru tua hari ini. Warna itu sangat sempurna dengan kulitnya, membuatnya terlihat seperti krim susu segar.
Sekolah usai, dan Jessica setuju untuk menjemput yang lainnya—Angela juga ikut, membuatku bersyukur.
Maka aku pulang ke rumah untuk mengambil mobil. Peter dan Charlotte masih ada. Dan kuputuskan untuk memberi kesempatan bagi Bella dan teman-temannya untuk berangkat satu jam lebih dulu. Aku tidak akan tahan mengikuti di belakang mereka, menyetir di batas kecepatan normal—memikirkannya saja sudah ngeri.
Aku masuk lewat dapur, mengangguk samar pada sapaan Emmet dan Esme saat melewati semuanya di ruang tamu, dan langsung menuju ke piano.
Ugh, dia kembali. Tentu saja itu Rosalie.
Ah, Edward. Aku tidak suka melihatnya begitu menderita. Kegirangan Esme tergantikan oleh cemas. Dia sudah semestinya cemas. Kisah cinta yang ia idam-idamkan untukku semakin nyata akan berbalik jadi tragedi.
Selamat bersenang-senang di Port Angeles nanti malam, pikir Alice dengan riang. beritahu aku kalau sudah boleh bicara dengan Bella.
Kau benar-benar payah. Aku tidak percaya kau melewati pertandingan tadi malam hanya untuk mengawasi seseorang tidur, gerutu Emmet.
Jasper mengacuhkanku bahkan saat lagu yang kumainkan terdengar lebih ribut dari yang kumau. Itu lagu lama, dengan tema yang umum: ketidaksabaran. Jasper sedang berpamitan dengan teman-temannya, yang memandangiku dengan penasaran.
Makhluk yang aneh, pikir Charlotte, si gadis yang semungil Alice dengan rambut pirang keperakan. Padahal dia sangat normal dan sopan saat terakhir kali kami bertemu.
Pikiran Peter kurang lebih serupa dengannya, seperti biasanya.
Pasti gara-gara binatang-binatang itu. Tidak minum darah manusia akhirnya membuat mereka gila juga, begitu kesimpulan dia. Rambutnya sepirang Charlotte, dan hampir sama panjangnya. Mereka berdua sangat mirip—kecuali tingginya, karena dia hampir setinggi Jasper—pada penampilan dan pemikiran. Pasangan yang sangat cocok.
Setelah beberapa saat, semuanya—kecuali Esme—berhenti memikirkan aku. Dan aku mulai bermain dengan nada-nada lembut agar tidak menarik perhatian.
Aku tidak memperhatikan mereka lagi selama beberapa lama, membiarkan musiknya mengalihkanku dari kegelisahan. Rasanya sulit menghilangkan Bella dari pandangan dan pikiranku. Aku hanya kembali memperhatikan pembicaraan mereka ketika Peter dan Charlotte sudah hampir pergi.
“Kalau kau bertemu Maria lagi,” kata Jasper sedikit khawatir. “Katakan padanya aku harap dia baik-baik saja.”
Maria adalah vampir yang telah menciptakan Jasper dan Peter—Jasper diciptakan di pertengahan abad sembilan belas, sedang Peter baru belakangan, pada tahun 1940an. Maria pernah sekali mencari Jasper pada saat kami di Calgary. Itu adalah kunjungan yang luar biasa —kami harus cepat-cepat pindah. Jasper memintanya dengan sopan agar ia menjauhi dirinya.
“Kurasa itu tidak akan segera terjadi,” jawab Peter sambil tertawa—tidak disangkal lagi Maria berbahaya, dan tidak ada banyak cinta diantara dia dan Peter sebelumnya. Peter cuma dimanfaatkan sepeninggal Jasper. Jasper selalu menjadi favorit Maria; dia menganggapnya detil sepele saat pernah sekali berencana membunuh Jasper. “Tapi mungkin saja aku akan bertemu dengannya.”
Kemudian mereka bersalaman, siap-siap untuk pergi. Kuhentikan laguku di tengah-tengah, dan dengan tergesa-gesa berdiri.
“Charlotte, Peter,” salamku sambil mengangguk.
“Menyenangkan bertemu lagi denganmu, Edward,” ujar Charlotte basa-basi. Sementara Peter cuma menjawab dengan anggukan.
Dasar orang gila, umpat Emmet padaku.
Idiot, Rosalie memikirkan hal yang sama.
Kasihan, itu Esme.
Dan Alice, dengan suara mencibir, mereka akan langsung ke timur, menuju Seattle. Tidak mendekati Port Angeles. Dia memperlihatkan bukti penglihatannya.
Aku pura-pura tidak mendengar. Alasanku sudah cukup lemah.
Setelah di dalam mobil, aku merasa lebih tenang; dengung mantap suara mesin yang telah di tune-up oleh Rosalie—tahun lalu, saat moodnya lebih baik—terdengar menyenangkan. Rasanya lega bisa di jalankan lagi, mengetahui setiap mil yang kulewati membawaku semakin dekat dengan Bella.
Midnight Sun halaman 7
Bab 7
Melodi
Aku masih harus menunggu dulu setelah sampai di sekolah. Jam pelajaran terakhir belum selesai. Itu bagus, karena ada yang mesti kupikirkan, dan aku butuh waktu sendirian.
Aromanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku membiarkan jendelanya tetap tertutup, membiarkan aromanya menyerangku, berusaha membiasakan diri dengan kuatnya api yang membakar tenggorokanku.
Daya tarik.
Itu hal yang rumit untuk direnungkan. Ada begitu banyak sisi. Ada begitu banyak arti dan tingkatan. Tidak sama dengan cinta, tapi berhubungan erat dengan itu.
Aku sama sekali tidak tahu jika Bella tertarik padaku. (Mungkinkah kesunyian pikirannya akan terus membuatku makin frustasi sampai akhirnya membuatku gila? Atau, apa ada batasannya yang pada akhirnya akan kucapai?)
Aku coba membandingkan respon fisiknya Bella dengan respon fisiknya orang-orang lain, seperti Mrs. Cope dan Jessica Stanley. Tapi, perbandingannya tidak meyakinkan. Ciri-ciri yang sama—perubahan detak jantung dan irama napas—juga bisa merupakan ciri dari rasa takut, syok, atau cemas. Lagipula, juga tidak cocok jika Bella sampai membayangkan jenis-jenis imajinasi yang biasa dipikirkan Jessica. Bagaimanapun, Bella sangat tahu ada sesuatu yang salah dengan diriku, walau tidak tahu apa tepatnya. Dia pernah menyentuh kulitku yang dingin, kemudian menarik tangannya begitu merasakan dinginnya.
Tapi tetap saja…
Aku mengingat lagi segala fantasi yang biasanya menjengkelkanku, tapi kini menggantinya dengan membayangkan Bella di posisi Jessica…
Napasku makin memburu, api merayap membakar tenggorokanku.
Bagaimana jika Bellalah yang sedang membayangkan bagaimana tanganku memeluk tubuh rapuhnya? Merasakan dirinya ditarik lebih rapat ke pelukanku, dan kemudian bagaimana aku memegang dagunya dengan jari-jariku? Menyingkap rambut gelapnya yang menutupi wajah meronanya dengan tanganku, menyelipkannya ke balik telinga? Menelusuri bibirnya yang penuh dengan ujung jariku? Mendekatkan wajahku padanya, dimana aku bisa merasakan kehangatan napasnya di mulutku? Lebih dekat lagi…
Tapi kemudian aku menyentakkan diri dari bayangan itu, mengetahui, seperti yang kuketahui ketika Jessica membayangkan hal ini, apa yang akan terjadi jika aku sedekat itu dengannya.
Ketertarikan itu bagai buah simalakama, karena aku sudah terlanjur terlalu tertarik pada Bella dengan cara yang paling buruk.
Apa aku menginginkan Bella tertarik padaku, seperti seorang perempuan pada pria?
Itu pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: apa sebaiknya aku menginginkan Bella untuk tertarik padaku seperti itu? Dan jawabannya adalah tidak. Karena aku bukan pria-manusia, itu tidak adil buatnya.
Dengan segenap raga, aku mendambakan bisa menjadi manusia, supaya bisa merengkuhnya dalam pelukanku tanpa harus membahayakan nyawanya. Supaya aku bebas membayangkan apa saja dalam fantasiku. Fantasi yang tidak perlu berakhir dengan darahnya di tanganku, dan mataku yang menyala merah oleh darahnya.
Pengejaranku padanya tidak masuk akal. Hubungan seperti apa yang bisa kutawarkan ke dia jika aku tidak bisa menanggung resiko menyentuhnya?
Aku menunduk dan menutup mukaku dengan tangan.
Lebih membingungkan lagi karena aku belum pernah merasa semanusia ini seumur hidupku—bahkan tidak ketika masih manusia, selama yang bisa kuingat. Ketika itu, pikiranku dipenuhi dengan kebanggaan seorang prajurit. Perang besar menghiasai seluruh masa remajaku. Dan aku baru jalan sembilan bulan dari ulang tahunku yang ke-18 ketika wabah influensa merebak… Ingatan yang kumiliki selama menjadi manusia sangat kabur, ingatan suram yang makin kabur tiap dekadenya. Yang paling kuingat adalah ibuku, dan kurasakan kepedihan purba ketika mengingat wajahnya. Samar-samar aku ingat bagaimana dia sangat membenci keinginanku menjadi prajurit. Dia berdoa setiap malam agar ‘perang yang mengerikan’ itu cepat berakhir…
Selain hal itu, tidak ada lagi kenangan indah yang bisa kuingat. Selain cinta ibuku, tidak ada lagi cinta yang membuatku ingin tetap tinggal…
Ini sama sekali baru untukku. Aku tidak punya pengalaman yang bisa kubandingkan.
Cintaku pada Bella awalnya murni, tapi kini mulai keruh. Aku sangat ingin bisa menyentuhnya. Apa dia merasakan hal yang sama?
Itu tidak penting, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Aku memandangi tanganku yang putih, membenci kekerasannya, dinginnya, kekuatannya yang tidak normal…
Kemudian aku terloncat ketika tiba-tiba pintu belakang terbuka.
Wah, kau tidak sadar aku datang. Ini pertama kalinya, batin Emmet ketika ia menyelinap masuk ke mobil. “Berani taruhan Mrs. Goff pasti mengira kau pakai narkoba, kau kelihatan aneh belakangan ini. Darimana saja kau tadi?”
“Aku tadi…memberi pertolongan.”
Hah?
Aku terkekeh. “Menggotong orang sakit, pokoknya begitulah.”
Itu membuatnya makin bingung, tapi kemudian ia mengambil napas dan mendapati aromanya di mobil.
“Oh… gadis itu lagi?”
Aku menyeringai.
Perkembangannya makin aneh.
“Kau tahu sendiri…”
Dia menghirup lagi. “Hmmm, baunya memang lumayan, iya kan?”
Suara geraman langsung keluar dari mulutku sebelum kata-katanya berakhir. Respon spontan.
“Tenang, Edward, aku cuma komentar.”
Yang lain kemudian datang. Rosalie langsung menyadari aromanya dan memelototiku. Marahnya masih belum reda. Entah apa masalahnya, yang bisa kudengar cuma celaannya.
Aku juga tidak suka dengan reaksi Jasper. Seperti Emmet, dia menyadari aroma Bella cukup mengundang selera. Tapi efeknya bagi mereka tidak sampai sepersekian dari yang kurasakan. Tetap saja, aku kesal darahnya terasa manis untuk mereka. Jasper masih sulit mengendalikan diri…
Alice menyelinap ke sisiku dengan tangan terbuka meminta kunci truk Bella.
“Aku cuma melihat aku melakukannya,” katanya samar-samar seperti kebiasaannya. “Kau harus menerangkan alasannya.”
“Ini bukan berarti—”
“Aku tahu, aku tahu. Aku akan menunggu. Tidak akan lama lagi.”
Aku mendesah dan menyerahkan kuncinya.
Aku mengikuti dia ke rumah Bella. Hujan turun sangat deras, begitu lebat hingga mungkin Bella tidak akan mendengar raungan mesin truknya. Aku melihat ke jendelanya, tapi dia tidak melihat keluar. Mungkin dia tidak disitu. Tidak ada pikiran yang bisa didengar.
Membuatku murung tidak bisa mendengar apa-apa untuk mengecek keadaannya—untuk memastikan dia senang, atau paling tidak aman.
Alice masuk ke kursi belakang dan kami kembali ke rumah. Jalanan kosong, jadi cuma butuh beberapa menit. Kami sama-sama masuk ke rumah, lalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Emmet dan Jasper meneruskan permainan caturnya yang rumit, menggabungkan empat papan catur jadi satu—memanjang sepanjang tembok belakang—dengan aturan rumit yang mereka buat sendiri. Mereka tidak mengizinkan aku ikut main; cuma tinggal Alice yang mau bermain denganku.
Dia kini sibuk dengan komputernya, dekat Emmet dan Jasper. Aku bisa mendengar monitornya menyala. Alice sedang mengerjakan proyek fashionnya untuk pakaian Rosalie. Tapi Rosalie tidak menemaninya hari ini. Padahal biasanya dia berdiri di belakang Alice, memberi saran potongan dan warna sembari jari Alice menari di layar sentuhnya yang sangat sensitif (Carlisle dan aku mesti mengutak-atik sistemnya, agar layarnya bisa merespon temperatur dingin kami). Sebagai gantinya, Rosalie meringkuk dengan marah yang terpendam di sofa, mengganti-ganti channel TV layar datar di depannya dengan kecepatan dua puluh channel per detik tanpa henti. Bisa kudengar dia sedang berusaha memutuskan, apa sebaiknya ke garasi saja, untuk menyetel mesin BMWnya lagi.
Esme di lantai atas, sedang bersenandung di depan rencana bangunan yang baru ia rancang.
Alice menjulurkan kepalanya ke balik tembok sebentar untuk memberitahu Jasper langkah Emmet berikutnya—Emmet duduk di lantai memunggunginya. Sementara itu Jasper menjaga ekspresinya tetap datar saat ia memakan Ratu andalan Emmet.
Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hingga membuatku malu, duduk di depan grand piano indah yang ada di seberang pintu masuk.
Jari-jariku mengalir lembut mencoba nadanya. Setelannya masih sempurna.
Diatas, Esme menghentikan pekerjaannya, menelengkan kepalanya ke samping.
Aku mulai memainkan baris pertama dari alunan nada yang tadi mendatangiku sewaktu di mobil, merasa senang karena terdengar jauh lebih baik dari yang kubayangkan.
Edward bermain lagi, pikir Esme gembira. Senyum lebar muncul di wajahnya. Dia bangkit dari meja dan berjalan tanpa suara menuju tangga.
Aku menambahkan harmonisasi baru, membiarkan melodi utamanya mengalir.
Esme mendesah bahagia, duduk di anak tangga paling atas, dan menyandarkan kepalanya pada pegangan tangga. Lagu baru. Sudah lama sekali. Alunan yang indah.
Kubiarkan melodinya mengalir ke arah yang baru, mengikutinya dengan alunan bass.
Edward menciptakan lagu lagi? Batin Rosalie, dan dia menggertakkan giginya dengan sengit.
Tepat pada saat itu, dia kelepasan, dan aku bisa membaca alasan utama kemarahannya. Aku bisa melihat kenapa belakangan ini ia memusuhiku, kenapa membunuh Isabella Swan tidak mengganggunya sama sekali. Pada Rosalie, selalu tentang kesombongan.
Musikku terhenti, dan aku sudah tertawa sebelum bisa kutahan, gelak tawa yang sudah pecah sebelum tanganku sempat menutup mulut.
Rosalie memelototiku, matanya menyala karena marah besar.
Emmet dan Jasper ikut menoleh, dan bisa kudengar kebingungan Esme. Dia secepat kilat turun, menatap aku dan Rosalie bergantian.
“Jangan berhenti, Edward.” Esme menyemangati setelah suasana sempat tegang.
Aku mulai main lagi, kembali memunggungi Rosalie sembari berusaha keras menahan seringaiku. Rosalie sendiri sudah bangkit berdiri dan berjalan keluar, lebih pada marah daripada malu. Tapi, tentu saja cukup malu.
Kalau kau sampai buka mulut, aku akan memburumu seperti anjing.
Aku tertawa lagi.
“Ada apa, Rose?” Emmet memanggilnya. Rosalie tidak menengok. Dia terus saja berjalan kesal ke garasi, kemudian menggeliat masuk ke bawah mobilnya seakan mau mengubur diri dibawah situ.
“Tentang apa itu tadi?” Emmet bertanya padaku.
“Aku sama sekali tidak tahu.” Aku berbohong.
Emmet menggerutu frustasi.
“Teruskan lagunya,” Esme mendesak lagi. Tanganku baru saja terhenti.
Aku mengabulkan permintaannya. Esme pindah ke belakangku, meletakan tangannya keatas pundakku.
Lagunya mulai terbentuk, tapi belum lengkap. Aku mencoba-coba bridgenya, tapi entah kenapa tidak pas.
“Lagu yang cantik. Apa sudah ada judulnya?” tanya Esme.
“Belum.”
“Apa cerita dibaliknya?” tanyanya dengan senyum. Ini membuatnya sangat senang, dan aku jadi merasa bersalah telah menelantarkan musikku begitu lama. Itu sangat egois.
“Ini lagu…nina bobo, kukira.” Akhirnya aku bisa menemukan bridgenya. Dengan mudah lalu menghantar ke bait selanjutnya, hidup begitu saja.
“Lagu nina bobo,” Esme mengulangi pada dirinya sendiri.
Ada cerita dibalik melodi ini, dan saat melihatnya, alunan berikutnya muncul begitu saja. Ceritanya tentang seorang gadis yang terlelap di sebuah ranjang sempit; berambut gelap, tebal, dan acak-acakan bagai ganggang laut terhampar di atas bantal…
Alice beranjak duduk di sebelahku. Dengan suara ringan bagai tiupan genta, ia menyenandungkan alunan nada dua oktaf lebih tinggi dari melodiku.
“Aku suka,” bisiknya. “Tapi bagaimana jika begini.”
Aku menambahkan baitnya ke dalam harmoni—jari-jariku kini menari di sepanjang tutsnya untuk menyatukan potongan-potongan itu jadi satu—menggubahnya sedikit, membawanya ke melodi yang lain…
Dia menangkap suasananya, dan ikut bernyanyi.
“Ya, sempurna,” kataku mengomentari.
Esme meremas bahuku.
Tapi aku bisa melihat bagian akhirnya. Dengan suara Alice meliuk tinggi dan membawanya ke tempat lain, aku bisa melihat bagaimana seharusnya akhir lagu ini. Karena sang gadis-tidur telah sempurna sebagaimana adanya, perubahan apapun akan salah.
Alunan nadanya kemudian melayang menuju kenyataan itu, melambat dan semakin lambat. Suara Alice pun ikut turun, berubah khidmat, seperti alunan nada yang dikumandangkan di bawah gema lengkung katedral.
Kumainkan nada terakhir, dan kemudian aku menundukkan kepala ke atas tuts piano.
Esme mengelus rambutku. Semua akan baik-baik saja, Edward. Akan ada jalan keluar yang terbaik. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan, anakku. Takdir berhutang padamu.
“Terima kasih,” bisikku, berharap bisa mempercayainya.
Cinta tidak selalu datang dalam kemasan yang umum.
Aku tertawa ironis.
Kau, diantara siapapun di dunia ini, barangkali adalah yang paling siap menghadapi kesulitan ini. Kau adalah yang terbaik dan paling cemerlang diantara kami semuanya.
Aku mendesah. Setiap ibu punya pikiran yang sama tentang anak mereka.
Esme masih sangat gembira karena setelah sekian lama akhirnya ada yang bisa menyentuh hatiku, tak peduli betapa besar kemungkinannya akan berakhir tragis. Sebelum ini dia mengira aku akan selamanya sendirian…
Dia pasti mencintaimu, pikirnya tiba-tiba, mengejutkan aku dengan arah pikirannya. Jika dia gadis yang cemerlang. Dia tersenyum. Tapi tidak bisa kubayangkan ada orang yang begitu lambannya hingga tidak menyadari betapa menariknya dirimu.
“Hentikan, Mom, kau membuatku tersipu,” godaku dengan canda. Perkataannya, meski terdengar mustahil, ternyata menghiburku.
Alice tertawa dan memainkan sepenggal lagu “Heart and Soul.” aku tersenyum dan menyelesaikan melodinya yang sederhana bersamanya. Kemudian aku menyenangkan hatinya dengan memainkan “Chopsticks.”
Dia tertawa geli, kemudian menghela napas. “Kuharap kau mau memberitahu apa yang tadi kau tertawakan pada Rose,” ujarnya. “Tapi aku bisa melihat kau tidak bakalan cerita.”
“Tidak.”
Dia menggelitik telingaku dengan jarinya.
“Jaga sikapmu, Alice,” Esme mengingatkan. “Edward hanya bersikap sopan.”
“Tapi aku ingin tahu.”
Aku tertawa mendengar rengekannya. Kemudian aku berkata, “Ini, Esme,” dan mulai memainkan lagu kesukaannya, sebuah lagu yang kudedikasikan untuk rasa cinta yang kutangkap diantara Esme dan Carlisle selama ini.
“Terima kasih, sayang.” Dia meremas pundakku lagi.
Aku tidak perlu berkonsentrasi untuk memainkan lagu yang sudah sering kumainkan ini. Sebagai gantinya, aku memikirkan Rosalie, yang masih menderita memikirkan aibnya di garasi, dan aku menyeringai sendiri.
Karena aku baru saja bisa merasakan cemburu itu seperti apa, aku jadi sedikit merasa kasihan padanya. Rasanya sangat tidak mengenakkan. Tentu saja, kecemburuannya beribu-ribu kali lebih dangkal dibanding kecemburuanku. Kecemburuan dia lebih mirip dengan kisah serigala dan tiga babi.
Aku membayangkan, mungkinkah kehidupan dan kepribadian Rosalie akan berbeda seandainya dia tidak selalu menjadi yang paling cantik. Apa dia akan lebih bahagia jika kecantikan tidak selalu menjadi andalannya? Tidak terlalu egosentris? Lebih murah hati?
Well, sepertinya sia-sia. Yang terjadi, sudah terjadi, dan dia selalu menjadi yang paling cantik. Bahkan ketika masih manusia, dia selalu jadi pusat perhatian. Bukannya dia keberatan, sebaliknya, dia justru menyukai perhatian itu lebih dari segalanya. Dan itu tidak berubah seiring transformasinya jadi seperti sekarang.
Maka tidak terlalu mengejutkan—mengingat kebutuhannya itu bisa dianggap sebagai sifat bawaan—dia merasa tersinggung ketika aku, sejak pertama kali bertemu, tidak memuja kecantikannya seperti yang ia harap semua pria memujanya. Tapi itu bukan berarti dia mendambakan aku dalam konteks romansa—jauh dari itu. Walau bagaimanapun, baginya itu tetap menjengkelkan bahwa aku tidak menginginkan dirinya. Dia terbiasa diinginkan.
Kasusnya berbeda dengan Jasper dan Carlisle—mereka berdua sudah lebih dulu jatuh cinta. Sedang aku, tidak berhubungan dengan siapapun, dan tetap saja bergeming.
Kupikir kebencian lama itu telah terkubur, bahwa dia telah lama melewatinya.
Dan, dia memang sudah lupa…sampai hari ketika akhirnya aku menemukan seseorang yang kecantikannya menyentuhku dengan cara yang tidak ia dapatkan.
Rosalie beranggapan bahwa jika aku tidak menganggap kecantikannya pantas dipuja, maka jelas tidak ada kecantikan di bumi ini yang akan sanggup menjangkauku. Dia sudah mulai uring-uringan sejak saat aku menyelamatkan Bella. Dia sudah menebak, dengan ketajaman intuisi perempuannya, pada ketertarikanku yang tidak kusadari.
Rosalie sangat-sangat tersinggung bahwa aku bisa menemukan seorang manusia biasa yang kuanggap lebih menarik dibanding dirinya.
Aku menahan dorongan untuk tertawa lagi.
Meskipun sebetulnya sedikit mengesalkan juga, melihat bagaimana penilaiannya tentang Bella. Rosalie sungguh-sungguh berpikir gadis itu biasa-biasa saja. Bagaimana mungkin dia bisa mempercayai itu? Itu sangat tidak masuk akal buatku. Buah dari cemburu, pasti itu.
“Oh!” Alice tiba-tiba berkata. “Jasper, coba tebak?”
Aku melihat apa yang barusan ia lihat, dan tanganku langsung membeku di satu nada.
“Apa, Alice?” tanya Jasper.
“Minggu depan Peter dan Charlotte akan datang mengunjungi kita! Mereka akan lewat di sekitaran sini, bukankah itu menyenangkan?”
“Ada apa, Edward?” tanya Esme saat merasakan ketegangan di bahuku.
“Peter dan Charlotte akan datang ke Forks?” Aku mendesis pada Alice.
Dia memutar bola matanya ke aku. “Tenanglah, Edward. Ini bukan kunjungan pertamanya.”
Gigiku langsung menggertak. Ini kunjungan pertamanya sejak Bella datang, dan darahnya yang manis bukan cuma mengundang seleraku.
Alice mengerutkan dahi melihat ekspresiku. “Mereka tidak pernah berburu disini. Kau tahu itu.”
Tapi vampir yang bisa dibilang saudara Jasper dan vampir kecil pasangannya berbeda dengan kami; mereka berburu seperti vampir kebanyakan. Mereka tidak bisa dipercaya dengan adanya Bella.
“Kapan?” tanyaku.
Alice cemberut tidak suka, tapi memberitahu apa yang kubutuhkan. Senin pagi. Tidak akan ada yang akan menyakiti Bella.
“Itu betul,” aku sependapat, dan kemudian bangkit berdiri. “Kau siap, Emmet?”
“Kupikir kita akan pergi besok pagi?”
“Kita akan kembali minggu malam. Terserah padamu kapan perginya.”
“Oke. Aku pamit dulu dengan Rosalie.”
“Tentu.” Dengan suasana hati Rosalie sekarang, itu akan singkat.
Otakmu benar-benar terganggu, Edward, batinnya ketika berjalan menuju pintu belakang.
“Sepertinya aku memang begitu.”
“Mainkan lagu baru itu untukku, sekali lagi,” pinta Esme.
“Kalau kau memang suka,” aku setuju, meski sedikit bimbang mengikuti alunannya menuju akhir yang tak terelakkan—akhir yang membuatku sakit dengan cara yang tidak lazim. Aku merenung sejenak, kemudian mengeluarkan tutup botol dari kantongku dan meletakkannya diatas piano. Itu agak menolong—sedikit kenang-kenangan dari jawaban ‘ya’ darinya.
Aku mengangguk pada diriku dan memulai lagunya.
Esme dan Alice bertukar pandang, tapi tidak satupun bertanya.
“Bukankah pernah ada yang bilang, jangan bermain-main dengan makananmu?” Aku meneriaki Emmet.
“Oh, hei Edward!” Dia berteriak balik, menyeringai dan melambai. Beruang itu memanfaatkan kelengahannya dengan menyapukan cakar besarnya ke dada Emmet. Cakar tajamnya merobek baju Emmet, dan mendecit menggaruk kulit Emmet.
Beruang itu melenguh keras.
Oh sial, Rose yang memberikan baju ini!
Emmet mengaum balik pada beruang marah itu.
Aku menghela napas dan duduk dengan nyaman diatas sebuah batu besar. Ini tidak akan makan waktu lama.
Emmet sudah hampir selesai. Dia memberi kesempatan pada beruang itu untuk menyambar kepalanya dengan ayunan cakarnya lagi, tertawa saat sambaran itu terpental dan membuat beruang itu mundur kaget. Beruang itu meraung dan juga Emmet meraung dari balik tawanya. Kemudian ia melontarkan dirinya ke arah beruang itu, yang menjulang jauh lebih tinggi dari Emmet saat beruang itu berdiri, dan mereka berdua jatuh ke tanah saling bergumul, membuat pohon cemara besar tumbang bersama mereka. Geraman beruang itu terhenti seiring bunyi tegukan.
Beberapa menit kemudian, Emmet sudah berjalan ke arahku. Bajunya rusak, robek-robek dan belepotan darah, lengket oleh getah, dan tertutup bulu-bulu. Rambut ikal gelapnya tidak lebih baik. Ada seringai lebar di wajahnya.
“Yang satu ini lumayan kuat. Saat dia mencakar, aku hampir bisa merasakannya.”
“Kau seperti anak kecil, Emmet.”
Dia memperhatikan kemejaku yang rapi dan bersih. “Bukannya tadi kau sedang mengikuti seekor singa gunung?”
“Memang iya. Hanya saja aku tidak makan seperti orang barbar.”
Emmet tertawa dengan tawanya yang menggelegar. “Kuharap mereka lebih kuat. Akan lebih menyenangkan.”
“Tidak ada yang pernah bilang kau harus berkelahi dengan makananmu.”
“Ya, tapi dengan siapa lagi aku harus berkelahi? Kau dan Alice curang, Rose tidak akan pernah mau rambutnya berantakan, dan Esme selalu marah jika Jasper dan aku mulai serius.”
“Hidup itu memang sulit, iya kan?”
Emmet menyeringai padaku, agak mengubah tumpuan badannya hingga mendadak ia sudah dalam posisi siap menyerang.
“Ayolah Edward. Matikan itu sebentar dan bertarunglah secara adil.”
“Ini tidak bisa dimatikan,” aku mengingatkan dia.
“Kira-kira apa yang telah dilakukan gadis itu untuk menangkalmu?” renung Emmet. “Barangkali dia bisa memberiku sedikit petunjuk.”
Humorku langsung lenyap. “Jangan dekati dia.” Aku menggeram lewat sela gigiku.
“Huu…sensitif…”
Aku mendesah. Emmet datang duduk disampingku.
“Sori. Aku tahu kau sedang melalui masa sulit. Aku benar-benar berusaha untuk tidak terlalu kurang ajar, tapi itu pembawaan alamiku sama seperti bakatmu…”
Dia menunggu aku menertawakan leluconnya, dan kemudian mengerutkan muka.
Selalu saja serius. Apa yang mengganggumu sekarang?
“Memikirkan tentang dia. Well, mencemaskan lebih tepatnya.”
“Apa yang perlu dicemaskan? Kau ada disini.” Dia tertawa keras-keras.
Aku mengacuhkan leluconnya lagi, tapi menjawab pertanyaannya. “Apa kau pernah memikirkan bagaimana rapuhnya mereka itu? Betapa banyaknya hal buruk yang mungkin terjadi pada manusia?”
“Tidak terlalu. Tapi aku bisa menangkap maksudmu. Dulu aku sama sekali bukan tandingan beruang itu, ya kan?”
“Beruang,” aku memberengut, menambahkan lagi satu ketakutan di daftarku. “Benar-benar kebetulan, bukan, seandainya ada beruang kesasar ke kota. Dan tentu saja akan langsung menuju Bella.”
Emmet terkekeh. “Kau kedengaran seperti orang gila.”
“Coba bayangkan sebentar bahwa Rosalie adalah manusia, Emmet. Dan mungkin saja ia bertemu beruang…atau tersambar petir…atau jatuh dari tangga…atau jatuh sakit—kena wabah!” kata-kata itu berhamburan tidak karuan. Rasanya lega sudah mengeluarkannya—hal itu membusuk dalam diriku sepanjang akhir pekan ini. “Banjir, gempa, dan badai! Ugh! Kapan terakhir kau menonton berita? Apa kau pernah melihat hal-hal seperti itu menimpa mereka? Perampokan dan pembunuhan…” Gigi-gigiku langsung menggertak, mendadak sangat murka hingga tidak bisa bernapas, memikirkan bagaimana ada manusia lain yang akan melukainya.
“Woo…woo…! Tahan disitu, Nak. Dia hidup di Forks, ingat? Paling banter dia akan kehujanan.” Dia mengangkat bahu.
“Aku rasa dia punya masalah serius dengan kesialan, Emmet. Sungguh. Coba lihat bukti-buktinya. Dari segala tempat yang bisa ia datangi, dia berakhir di kota dimana populasi vampirnya cukup besar.”
“Ya, tapi kita vegetarian. Jadi bukannya itu beruntung?”
“Dengan aroma seperti dia? Jelas itu sial. Dan kemudian, lebih sial lagi, bagaimana baunya bagiku.” Aku mendelik pada tanganku, membencinya lagi.
“Kecuali bahwa kau memiliki kendali diri melebihi siapapun kecuali Carlisle. Lagi-lagi beruntung.”
“Mobil van waktu itu?”
“Itu tidak sengaja.”
“Kau harusnya melihat bagaimana van itu mengejarnya, Em, lagi dan lagi. Berani sumpah, seakan dia punya daya tarik seperti magnet.”
“Tapi kau ada disana. Itu beruntung.”
“Betul begitu? Bukankah itu hal paling sial yang mungkin manusia terima—mendapati seorang vampir jatuh cinta padanya?”
Emmet mempertimbangkan hal itu sejenak. Dia membayangkan gadis itu di kepalanya, dan menemukan sosoknya tidak menarik. Jujur saja, aku tidak mengerti bagaimana kau bisa tertarik padanya.
“Well, aku juga tidak bisa melihat ada yang menarik dari Rosalie,” kataku kasar. “Jujur saja, dia terlalu menganggap dirinya yang paling cantik dan tidak bisa melihat ada perempuan cantik lain.”
Emmet terkekeh. “Apa kau akan bilang bahwa dia itu…”
“Aku tidak tahu apa masalah dia, Emmet.” Aku berbohong dengan seringai lebar.
Kemudian aku melihat niatnya tepat pada waktunya untuk bereaksi. Dia coba menjatuhkan aku dari atas batu, dan terdengar suara pecahan keras saat batu besar itu retak.
“Curang.” Emmet menggerundel.
Aku menunggu dia mencoba lagi, tapi pikirannya beralih ke hal lain. Dia sedang membayangkan wajah Bella lagi, tapi kini wajahnya jauh lebih putih dan matanya merah terang…
“Tidak,” kataku dengan suara tercekik.
“Itu menyelesaikan segala kecemasanmu, kan? Kau juga tidak akan tergoda untuk membunuhnya lagi. Bukankah itu solusi yang paling baik?”
“Untukku? Atau untuknya?”
“Untukmu,” jawabnya mudah. Nada suaranya menambahkan tentu saja.
Aku tertawa datar. “Jawaban yang salah.”
“Aku sama sekali tidak keberatan.”
“Rosalie iya.”
Dia mendesah. Kami berdua tahu Rosalie akan melakukan apa saja, menyerahkan apa saja, jika itu bisa membuatnya menjadi manusia lagi. Bahkan menyerahkan Emmet.
“Ya, Rosalie pasti keberatan.”
“Aku tidak bisa… Aku tidak boleh… Aku tidak ingin menghancurkan hidup Bella. Bukankah kau juga akan merasa begitu, jika itu adalah Rosalie?”
Emmet merenungkan itu sebentar. Kau betul-betul…mencintai dia?
“Aku bahkan tidak bisa menggambarkannya, Emmet. Tiba-tiba saja, Gadis ini segala-galanya bagiku. Bagiku tidak ada artinya lagi seisi dunia ini jika tanpa dia.”
Tapi kau tidak mau mengubahnya? Dia tidak akan hidup selamanya, Edward.
“Aku tahu itu,” erangku.
Dan, seperti yang kau bilang, dia kedengarannya terlalu rapuh.
“Percayalah—itu juga aku tahu.”
Emmet bukan orang yang bijaksana, dan pembicaraan serius bukan keahliannya. Dia berjuang keras sekarang, sangat ingin untuk tidak kurang ajar.
Apa kau bahkan bisa menyentuhnya? Maksudku, jika kau mencintainya…bukankah kau ingin, well menyentuhnya…”
Emmet dan Rosalie mengungkapkan cinta mereka lewat kedekatan fisik yang intens. Dia tidak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa mencintai tanpa aspek itu.
Aku menghela napas. “Aku bahkan tidak berani memikirkan hal itu, Emmet.”
Wow, lantas apa pilihanmu, dong?
“Aku tidak tahu,” bisikku. “Aku sedang mencari cara untuk…untuk meninggalkan dia. Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk menjauh…”
Dengan kepuasan mendalam, mendadak aku sadar, keputusanku untuk tinggal adalah tepat—paling tidak untuk sekarang, dengan berkunjungnya Peter dan Charlotte. Bella lebih aman dengan adanya aku di dekat dia, dari pada jika aku pergi. Untuk sementara, aku bisa jadi pelindungnya, dengan tanda kutip.
Pikiran itu membuatku gelisah; aku tidak sabar ingin segera kembali agar bisa cepat-cepat memainkan peran itu selama mungkin.
Emmet menyadari perubahan ekspresiku. Kau sedang memikirkan apa?
“Sekarang ini,” aku mengakuinya agak malu-malu, “Aku ingin cepat-cepat kembali ke Forks dan melihat keadaannya. Aku tidak tahu apakah aku sanggup bertahan sampai minggu malam.”
“Waduh-waduh! Kau tidak boleh pulang lebih cepat. Biarkan Rosalie tenang dulu. Tolonglah! Demi aku.”
“Iya, akan kucoba,” kataku ragu.
Emmet menepuk ponsel di sakuku. “Alice akan menelepon jika ada tanda-tanda yang akan membuatmu kena serangan jantung. Dia sama tergila-gilanya pada gadis ini seperti kau.”
Aku meringis pada hal itu. “Baiklah. Tapi aku tidak akan tinggal sampai lewat hari Minggu.”
“Lagi pula, tidak ada gunanya cepat-cepat pulang—matahari akan cerah. Alice bilang kita akan libur sampai hari Rabu.”
Aku menggeleng tegas.
“Peter dan Charlotte bisa menjaga sikap mereka.”
“Aku tidak peduli, Emmet. Dengan keberuntungan seperti Bella, dia akan berkeliaran di hutan di waktu yang salah dan—” aku langsung membuang jauh-jauh pikiran itu. “Peter tidak terlalu baik dengan pengendalian dirinya. Aku akan pulang hari Minggu.”
Emmet mendesah. Betul-betul mirip orang gila.
Bella sedang tidur pulas saat aku memanjat jendela kamarnya pada Senin dini hari. Kali ini aku ingat untuk membawa pelumas, dan jendelanya bisa terbuka lancar tanpa suara.
Bisa kulihat dari rambutnya yang tergerai halus di atas bantalnya, tidurnya lebih tenang dari terakhir aku kesini. Tangannya terlipat disamping pipi seperti anak kecil, dan mulutnya sedikit terbuka. Aku bisa mendengar napasnya bergerak pelan keluar dan masuk diantara bibirnya.
Sungguh sangat lega bisa berada disini lagi, bisa melihatnya lagi. Aku sadar bahwa aku tidak akan benar-benar tenang kecuali kalau itu masalahnya. Tidak ada yang terasa betul saat jauh darinya. Meski begitu, juga bukan berarti segalanya benar saat aku bersamanya.
Aku menghela napas, membiarkan rasa haus membakar tenggorokanku. Aku sudah lama tidak merasakannya. Waktu yang terbuang tanpa merasakan itu, termasuk godaannya, membuat sensasinya jadi lebih kuat lagi sekarang. Sangat lebih buruk, sampai-sampai aku takut untuk jongkok di samping tempat tidurnya agar bisa membaca judul buku-bukunya. Aku ingin tahu cerita-cerita di kepalanya. Tapi aku lebih takut untuk melakukan itu ketimbang takut dengan hausku. Aku takut jika sedekat itu, aku akan tergoda untuk lebih mendekat lagi…
Bibirnya terlihat sangat lembut dan hangat. Aku bisa membayangkan menyentuhnya dengan ujung jariku. Menyentuhnya lembut…
Jelas itu kesalahan yang harus dihindari.
Mataku terus memandangi wajahnya, memperhatikan jika ada yang berubah. Manusia selalu berubah tiap waktu—aku sedih memikirkan telah melewatkan sesuatu…
Dia kelihatan…lelah. Seakan tidak cukup tidur selama akhir pekan ini. Apa tadi malam dia punya janji dengan seseorang?
Aku tersenyum kecut, merasakan bagaimana hal itu membuatku kesal. Memang kenapa kalau dia punya janji? Aku tidak memiliki dia. Dia bukan milikku.
Tidak, dia bukan milikku—dan aku murung lagi.
Salah satu tangannya bergerak, dan aku menyadari ada bekas lecet di telapak tangannya. Dia terluka? Walau sadar lukanya cuma lecet kecil, itu tetap menggangguku.
Kuperhatikan lokasinya, dia pasti jatuh. Itu alasan yang paling masuk akal.
Aku merasa jauh lebih tenang karena tidak mesti selamanya bertanya-tanya tentang misteri kecil ini. Kami teman sekarang—atau, paling tidak, berusaha menjadi teman. Aku bisa menanyakan akhir pekannya—tentang perjalanannya ke pantai, dan apapun yang ia kerjakan malamnya hingga membuatnya kelihatan letih. Aku bisa bertanya apa yang terjadi pada tangannya. Dan aku bisa sedikit tertawa saat tebakanku betul.
Aku tersenyum saat bertanya-tanya apakah kemarin ia terjatuh ke laut atau tidak. Kira-kira apa dia menikmati tamasyanya. Apakah dia sempat memikirkan aku. Apakah dia merindukan aku, bahkan jika itu cuma sepersekian persen dari kerinduanku padanya.
Aku berusaha membayangkan dia dibawah sinar matahari di pantai. Gambaran itu tidak lengkap karena aku sendiri belum pernah ke pantai La Push. Aku cuma tahu dari foto…
Aku merasa agak gelisah saat mengingat alasanku tidak pernah ke pantai indah itu, yang lokasinya cuma beberapa menit jika berlari dari rumahku. Bella menghabiskan waktu di La Push—tempat terlarang bagiku, sesuai dengan perjanjian. Sebuah tempat dimana beberapa tetua masih ingat dengan cerita tentang keluarga Cullen. Ingat dan mempercayainya. Sebuah tempat dimana rahasia kami diketahui…
Aku menggeleng. Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang itu. Suku Quileutes juga sama terikatnya dengan perjanjian itu. Bahkan jika Bella secara tidak sengaja berjumpa dengan para tetua itu, mereka tidak akan bilang apa-apa. Dan kenapa juga topik itu disinggung? Kenapa juga Bella mau mengutarakan rasa penasarannya disana? Tidak—suku Quileutes mungkin satu-satunya hal yang tidak perlu dikhawatirkan.
Aku marah pada matahari saat sudah mulai terbit. Itu mengingatkan bahwa aku tidak bisa memuaskan rasa penasaranku sampai beberapa hari kedepan. Kenapa matahari harus bersinar sekarang?
Dengan menghela napas aku keluar lewat jendela sebelum terlalu terang. Aku berniat untuk menunggu di kerimbunan hutan dekat rumahnya untuk melihatnya berangkat sekolah. Tapi, sesampainya di pepohonan, aku terkejut menemukan jejak aromanya di jalan setapak di dalam hutan.
Aku cepat-cepat mengikutinya, penasaran, dan berubah jadi cemas saat jejaknya masuk lebih dalam ke tengah hutan. Apa yang Bella lakukan diluar sini?
Jejaknya tiba-tiba berhenti begitu saja. Sepertinya dia berjalan keluar dari jalan setapak, menuju ke semak pakis-pakisan, dimana dia menyentuh sebatang pohon tumbang. Barangkali duduk disitu…
Aku duduk di tempat ia duduk, dan memandang ke sekeliling. Yang bisa ia lihat hanya rerimbunan pakis dan pohon-pohon besar. Saat itu mungkin hujan—aromanya agak tersapu, tidak terlalu menempel di pohon.
Kenapa Bella datang kesini dan duduk sendirian—dan dia sendirian, tidak salah lagi— di tengah-tengah hutan kelam yang basah?
Itu tidak masuk akal, dan, berbeda dengan penasaranku yang tadi, aku tidak mungkin menyinggungnya saat bertemu dengan dia.
Jadi, Bella, tadi aku mengikuti baumu kedalam hutan setelah sebelumnya keluar dari kamarmu dimana aku memperhatikanmu tidur… Ya, hal itu bisa memecahkan suasana.
Selamanya aku tidak akan pernah tahu apa yang dia pikir dan lakukan disini. Selamanya. Dan itu membuat gigiku gemertak frustasi. Lebih parahnya, ini jauh lebih mirip dengan skenario yang kubahas dengan Emmet—Bella berkeliaran sendirian di tengah hutan, dimana baunya akan mengundang siapapun yang punya kemampuan melacak seperti…
Aku mengerang. Bukan cuma nasibnya yang sial, dia juga mengundang kesialan menghampiri dirinya.
Well, untuk sementara waktu dia punya pelindung. Aku akan menjaganya, selama yang bisa dibenarkan.
Tiba-tiba aku berharap Peter dan Charlotte bisa tinggal lebih lama lagi.
Midnight Sun halaman 6
Bab 6
Golongan Darah
Aku mengikuti Bella seharian melalui pikiran orang-orang disekitarnya, aku hampir tidak sadar dengan sekelilingku sendiri.
Tapi aku menghindari Mike Newton, aku sudah tidak tahan lagi dengan khayalannya. Dan juga tidak lewat Jessica Stanley, kesinisannya pada Bella membuatku marah, dan itu berbahaya bagi gadis picik itu. Angela Weber pilihan yang bagus ketika matanya tersedia; dia bersahabat—kepalanya tempat yang nyaman. Tapi seringnya, para guru. Mereka menyediakan pandangan yang paling baik.
Aku terkejut, melihat betapa seringnya dia tersandung—tersandung pada rekahan di trotoar, batu, dan, paling sering, kakinya sendiri. Teman-temannya menilai Bella orang yang kikuk.
Aku mempertimbangkan hal itu. Memang benar, dia sering kesulitan berdiri dengan baik. Aku ingat ia tersandung meja pada hari pertama dulu, terpeleset-peleset diatas es, tersandung ujung pintu kemarin… aneh sekali, mereka betul. Dia orang yang kikuk.
Entah kenapa ini begitu lucu untukku, tapi aku tergelak selama perjalanan dari kelas sejarah ke kelas Inggris. Orang-orang melihatku khawatir. Bagaimana bisa aku tidak menyadari ini sebelumnya? Mungkin karena ada sesuatu yang anggun ketika ia sedang diam, caranya memegang kepala, bentuk lengkung lehernya…
Tapi, tidak ada yang anggun darinya sekarang. Mr. Varner melihat bagaimana ujung sepatunya tersandung karpet hingga dia jatuh ke kursinya.
Aku tergelak lagi.
Waktu berjalan lamban selama menunggu untuk bisa melihat dia langsung. Dan akhirnya, bel berbunyi. Aku cepat-cepat menuju kafetaria untuk menempati tempatku. Aku yang pertama kali sampai. Aku memilih meja yang biasanya kosong, dan akan tetap begitu dengan aku disini.
Saat keluargaku melihat aku duduk sendirian di tempat yang baru, mereka tidak kaget. Alice pasti telah memberitahu mereka.
Rosalie lewat tanpa menoleh.
Idiot.
Hubunganku dengan Rosalie tidak pernah baik—aku sudah membuatnya kesal dari pertama dulu dia mendengarku bicara, dan selanjutnya makin parah—tapi beberapa hari ini kelihatannya dia jadi jauh lebih sensitif. Aku menghela napas. Rosalie selalu menganggap segalanya tentang dia.
Jasper setengah senyum padaku saat lewat.
Semoga sukses, pikirnya setengah hati.
Emmet memutar bola matanya dan menggeleng-geleng.
Dia sudah gila, kasihan kau Nak.
Alice berseri-seri, giginya berkilauan terlalu terang.
Boleh aku bicara dengan Bella sekarang??
“Jangan ikut campur,” dengusku dari balik napas.
Wajahnya meredup, tapi kemudian berseri lagi.
Baik. Semaumu saja. Toh, saatnya akan tiba juga.
Aku menghela napas lagi.
Jangan lupa tentang percobaan biologi hari ini, dia mengingatkan.
Aku mengangguk. Tidak, aku tidak lupa itu.
Sambil menunggu Bella datang, aku mengikuti dia lewat mata seorang murid yang ada di belakang dia dan Jessica. Jessica sedang sibuk berceloteh tentang pesta dansa yang akan datang, tapi Bella sama sekali tidak menanggapi. Bukan berarti Jessica memberinya kesempatan.
Tepat saat Bella masuk, matanya langsung tertuju ke meja tempat keluargaku duduk. Dia memperhatikan sebentar, kemudian keningnya berkerut dan matanya jatuh memandang ke lantai. Dia tidak menyadari aku ada disini.
Dia terlihat sangat…sedih. Seketika muncul dorongan kuat untuk bangun dan pergi ke sisinya, untuk menenangkan dia. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang bisa membuatnya nyaman. Karena, aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya sedih begitu. Jessica terus mengoceh tentang pesta dansa. Apa dia sedih karena tidak bisa ikut? Kelihatannya bukan karena itu…
Tapi, itu bisa diatasi, jika memang itu maunya.
Dia membeli sebotol limun untuk makan siang, tidak lebih. Apa itu baik? Bukannya dia butuh lebih banyak nutrisi dari sekedar itu? Aku tidak terlalu paham pola diet manusia.
Manusia betul-betul sangat rapuh! Ada jutaan macam hal yang mesti dikhawatirkan…
“Edward Cullen sedang menatapmu lagi,” aku mendengar Jessica bicara. “Kira-kira kenapa dia duduk sendirian hari ini?”
Aku berterima kasih pada Jessica—meskipun dia jauh lebih sewot sekarang—karena Bella langsung mendongak dan padangannya mencari-cari hingga akhirnya bertemu denganku.
Sekarang tidak ada lagi jejak kesedihan di wajahnya. Aku membiarkan diriku berharap bahwa dia sedih karena dipikirnya aku sudah pulang, dan harapan itu membuatku tersenyum.
Aku memberi isyarat dengan jariku untuk mengajaknya bergabung denganku. Dia terlihat kaget sekali, dan itu membuatku tambah ingin menggodanya.
Jadi, aku mengedip. Dan dia melongo.
“Apa yang dia maksud kau?” tanya Jessica kasar.
“Mungkin dia butuh bantuan dengan PR biologinya,” jawabnya pelan dan ragu-ragu. “Mmm, aku sebaiknya kesana untuk mencari tahu apa maunya.”
Itu satu lagi jawaban ya.
Meski lantainya rata, dia tersandung dua kali sebelum sampai ke mejaku. Sungguh, bagaimana bisa aku melewati hal ini sebelumnya? Sepertinya aku terlalu memperhatikan pikirannya yang tak bersuara… Apa lagi yang kulewatkan?
Tetap jujur, tetap santai, aku mengulang-ulang dalam hati.
Dia berhenti di belakang kursi di seberangku, ragu-ragu. Aku mengambil napas dalam-dalam, kali ini melalui hidung, bukan lewat mulut.
Rasakan apinya, pikirku kering.
“Kenapa kau tidak duduk denganku hari ini?” pintaku padanya.
Dia menarik kursi dan duduk, menatapku beberapa saat. Dia terlihat gugup, tapi dari sikapnya, lagi-lagi itu jawaban ya.
Aku menunggu dia bicara.
Butuh beberapa saat, tapi akhirnya dia berkata, “Ini tidak seperti biasanya.”
“Well…” Aku bimbang. “Mengingat aku toh bakal ke neraka juga, jadi kenapa tidak sekalian saja.”
Ugh, kenapa aku mesti mengatakan itu? Tapi sudahlah, paling tidak aku jujur. Dan siapa tahu dia mendengar peringatan tersembunyiku. Mungkin ia akan sadar harus bangun dan pergi secepatnya…
Dia tidak berdiri. Dia menatapku, menunggu, seakan kalimatku belum selesai.
“Kau tahu, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,” ujarnya akhirnya..
Itu sangat melegakan. Aku tersenyum.
“Aku tahu.”
Sangat sulit mengabaikan pikiran-pikiran yang meneriakiku dari balik punggungnya— dan lagipula aku juga ingin mengganti topik.
“Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu.”
Nampaknya itu tidak membuatnya risau. “Mereka akan baik-baik saja.”
“Aku mungkin saja tidak akan mengembalikanmu.” Aku sama sekali tidak tahu apa sedang berusaha jujur, atau sedang menggodanya. Berada di dekatnya membuatku sulit menggunakan akal sehat.
Bella menelan ludah.
Aku tertawa melihat ekspresinya. “Kau tampak cemas.” harusnya ini tidak lucu… Harusnya dia khawatir.
“Tidak.” dia tidak pandai berbohong; sama sekali tidak menolong saat suaranya bergetar. “Terkejut, sebetulnya… apa yang menyebabkan ini semua?”
“Sudah kubilang,” aku mengingatkan dia. “Aku lelah berusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah.” aku menjaga senyumku dengan susah payah. Tidak mungkin bisa berjalan seperti ini—bersikap jujur sekaligus santai di waktu bersamaan.
“Menyerah?” dia mengulangi, heran.
“Iya—menyerah berusaha bersikap baik.” Dan, tampaknya, menyerah untuk bersikap santai. “Sekarang aku akan melakukan apa yang kumau, dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya.” Itu cukup jujur. Biarkan dia melihat keegoisanku. Biarkan itu memperingatkan dia juga.
“Lagi-lagi kau membuatku bingung.”
Aku cukup egois untuk merasa lega atas hal itu.
“Aku selalu berkata terlalu banyak kalau sedang bicara denganmu—itu salah satu masalahnya.” Masalah yang jauh lebih sederhana dibanding masalah lainnya.
“Jangan khawatir,” dia meyakinkan aku. “Aku tak mengerti satupun ucapanmu.”
Bagus. Maka dia akan tinggal. “Aku mengandalkan itu.”
“Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman?”
Aku mempertimbangkan itu sebentar. “Teman…” aku mengulangi. Aku tidak terlalu menyukai kedengarannya. Itu belum cukup.
“Atau tidak,” gumamnya malu.
Apa dia pikir aku tidak menyukai dia sebesar itu?
Aku tersenyum. “Well, kurasa kita bisa mencobanya. Tapi kuperingatkan kau, aku bukan teman yang baik untukmu.”
Aku menunggu responnya—berharap akhirnya dia mendengar peringatanku dan mengerti, tapi membayangkan kalau mungkin saja aku mati jika dia pergi. Betapa dramatisnya. Aku jadi berubah seperti kebanyakan manusia lainnya.
Jantungnya berdebar lebih cepat. “Kau sering bilang begitu.”
“Ya, karena kau tidak mendengarkan.” Aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. “Aku masih menunggu kau mempercayainya. Kalau pintar, kau akan menghindariku.”
Ah, tapi apa aku akan tetap tinggal diam, jika dia mencobanya?
Matanya menyipit. “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas.”
Aku kurang yakin apa maksudnya, tapi aku tersenyum minta maaf, menebak mungkin aku telah menyinggungnya secara tidak sengaja.
“Jadi,” katanya pelan. “Selama aku adalah…orang yang tidak pintar, kita akan berteman?”
“Kedengarannya masuk akal.”
Dia menunduk, menatap lekat-lekat botol limun di tangannya.
Rasa penasaran itu kembali menyiksaku.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Rasanya lega akhirnya bisa mengucapkan pertanyaan itu keras-keras.
Kami bertemu pandang, dan napasnya bertambah cepat sementara pipinya merona merah muda. Aku menarik napas, merasakannya di udara.
“Aku sedang mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini.”
Aku menahan senyum di wajahku, mengunci mimikku seperti itu, sementara panik merayapi tubuhku.
Tentu saja ia sedang memikirkan hal itu. Dia tidak bodoh. Tidak mungkin berharap dia tidak menyadari sesuatu yang ada di depan matanya.
“Sudah menemukan sesuatu?” Aku bertanya sesantai mungkin.
“Tidak terlalu.” akunya.
Aku terkekeh lega, “Apa teorimu?”
Tidak mungkin lebih buruk dari yang sebenarnya, tidak peduli apapun dugaannya.
Pipinya jadi merah terang, dan ia tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa merasakan kehangatan dari rona pipinya di udara.
Aku coba menggunakan nada membujuk. Itu selalu berhasil dengan manusia normal.
“Maukah kau memberitahuku?” Aku tersenyum menyemangati.
Dia menggeleng. “Terlalu memalukan.”
Ugh… Tidak tahu adalah yang paling buruk dari apapun. Kenapa tebakannya membuat dia malu? Aku tidak tahan tidak tahu begini.
“Itu sangat memusingkan, kau tahu.”
Keluhanku sepertinya berefek sesuatu padanya. Matanya berkilat dan kata-katanya mengalir lebih cepat dari biasanya.
“Tidak, aku tidak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan—hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan, meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya…nah, kenapa itu memusingkan?”
Aku mengerutkan dahi, kesal karena menyadari dia betul. Aku tidak adil.
Dia melanjutkan. “Terlebih lagi, katakan saja orang itu juga melakukan hal-hal aneh— mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari, sampai memperlakukanmu seperti orang asing keesokan harinya, dan dia tak pernah menjelaskan apa-apa, bahkan setelah berjanji akan melakukannya. Itu, juga, akan sangat tidak memusingkan.”
Itu ucapan dia yang paling panjang yang pernah kudengar. Dan itu menambah daftar kepribadiannya yang kubuat.
“Kau ini pemarah, ya?”
“Aku tidak suka standar ganda.”
Tentu saja ia punya cukup alasan untuk marah.
Aku menatap Bella, bertanya-tanya bagaimana mungkin aku bisa melakukan sesuatu yang benar buat dia, sampai kemudian teriakan pikiran Mike mengalihkan perhatianku.
Dia sangat marah hingga membuatku tertawa geli.
“Apa?” tanyanya.
“Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu—dia sedang mempertimbangkan untuk melerai pertengkaran kita atau tidak.” Aku sangat ingin melihatnya melakukan itu. Aku tertawa lagi.
“Aku tidak tahu siapa yang kau maksud,” tukasnya dengan suara dingin. “Lagi pula, aku yakin kau salah.”
Aku sangat menikmati mendengar dia menyangkal Mike.
“Tidak. Aku pernah bilang, kebanyakan orang mudah ditebak.”
“Kecuali aku, tentu saja.”
“Ya. Kecuali kau.” Apa dia harus menjadi pengecualian atas segalanya? Bukannya lebih adil—mengingat segala yang mesti kuhadapi saat ini—jika paling tidak aku bisa mendengar isi pikirannya? Apa permintaan itu terlalu banyak? “Aku bertanya-tanya, kenapa bisa begitu?”
Aku menatap kedalam matanya, mencoba lagi…
Dia membuang muka. Dia membuka botol limunnya dan meminumnya. Pandangannya ke meja.
“Apa kau tidak lapar?” tanyaku.
“Tidak.” Dia melihat ke meja kosong diantara kami. “Kau?”
“Tidak, aku tidak lapar,” aku jelas tidak lapar.
Dia menatap ke meja. Bibirnya merengut. Aku menunggu.
“Boleh minta tolong?” Matanya menatapku lagi.
Apa yang ia inginkan dariku? Apa ia akan menuntut kebenaran yang tidak bisa kuberikan—kebenaran yang kuharap tidak akan pernah dia ketahui?
“Tergantung apa yang kau inginkan?”
“Tidak susah kok,” Dia berjanji.
Aku menunggu, lagi-lagi penasaran.
“Kira-kira…” Dia menatap ke botol limun, mengitari mulut botolnya dengan jarinya, “Maukah kau memberitahuku dulu sebelum lain kali memutuskan untuk mengabaikan aku, demi kebaikanku sendiri? Jadi aku bisa siap-siap.”
Dia ingin diperingatkan dulu? Berarti, diabaikan olehku adalah sesuatu yang tidak menyenangkan… Aku tersenyum.
“Kedengarannya adil.”
“Terima kasih,” jawabnya sambil mendongak menatapku. Wajahnya begitu lega hingga aku ingin tertawa karena kelegaanku sendiri.
“Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” tanyaku penuh harap.
“Satu,” dia mengizinkan.
“Ceritakan padaku satu teori.”
Wajahnya merona lagi. “Jangan yang itu.”
“Kau tidak memberi syarat, kau sudah janji untuk menjawab satu.”
“Sedang kau sendiri melanggar janjimu.” Dia mendebat balik.
Dan itu tepat mengenaiku.
“Satu teori saja—aku tidak akan tertawa.”
“Pasti kau bakal tertawa.” Dia kelihatannya sangat yakin, meski aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang lucu tentang itu.
Sekali lagi aku mencoba membujuknya. Aku menatap lekat-lekat kedalam matanya— sesuatu yang mudah dilakukan, dengan matanya yang begitu dalam—dan berbisik, “Please?”
Dia mengedip, dan wajahnya berubah kosong.
Well, itu bukan reaksi yang kuharapkan.
“Mmm, apa?” tanyanya, terlihat pusing.
Ada apa dengan dia? Tapi aku tidak akan menyerah.
“Ceritakan satu teori, sedikit saja.” Aku memohon dengan suara halus, memperhatikan matanya dalam tatapanku.
Terkejut dan puas, ternyata berhasil…
“Ehh, well, digigit laba-laba yang mengandung radioaktif?”
Cerita komik? Pantas saja dia pikir aku bakal tertawa.
“Itu tidak terlalu kreatif.” Aku mencibirnya, berusaha menyembunyikan kelegaanku.
“Ya maaf, cuma itu yang kupunya.”
Dia agak tersinggung. Dan itu membuatku lebih senang. Aku bisa menggodanya lagi.
“Mendekati pun tidak.”
“Tidak ada laba-laba?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada radioaktif?”
“Tidak.”
“Sial,” keluhnya.
Aku cepat-cepat mengalihkan—sebelum dia bertanya tentang gigitan. “Kripton juga tidak melemahkanku.” Kemudian aku tertawa, karena dia pikir aku adalah superhero.
“Kau seharusnya tidak boleh tertawa, ingat?”
Aku tersenyum dan menutup mulut.
“Nanti juga aku tahu.”
Dan ketika dia tahu, ia akan lari.
“Kuharap kau tidak mencobanya.” nada menggodaku sepenuhnya lenyap.
“Karena…?”
Aku behutang kejujuran padanya. Tetap saja, aku berusaha tersenyum, agar tidak kedengaran mengancam. “Bagaimana kalau aku bukan seorang superhero? Bagaimana kalau aku orang jahatnya?”
Matanya melebar dan bibirnya sedikit membuka. “Oh,” ujarnya. Dan sedetik kemudian, “Aku mengerti.”
Dia akhirnya mendengar peringatanku.
“Benarkah?” tanyaku, menyembunyikan penderitaanku.
“Kau berbahaya?” Napasnya memburu, dan jantungnya berdetak kian cepat.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apa ini kesempatan terakhirku bersamanya? Apa dia akan segera lari? Masih sempatkah untuk mengatakan bahwa aku mencintai dia sebelum ia pergi? Atau itu akan lebih membuat dia takut?
“Tapi tidak jahat,” bisiknya sambil menggeleng. Tidak terpancar ketakutan dari matanya yang jernih. “Tidak, aku tidak percaya kau jahat.”
Aku menarik napas. “Kau salah.”
Tentu saja aku jahat. Bukannya sekarang aku sedang bersorak gembira, karena dia salah menilaiku? Jika aku orang baik, aku akan menjauh darinya.
Aku mengulurkan tangan ke meja, menjangkau tutup botol limunnya sebagai alasan. Dia tidak bereaksi dengan gerakan tiba-tiba ini. Dia benar-benar tidak takut padaku. Belum.
Aku memutar tutup botolnya seperti gasing, memperhatikan itu, bukannya dia. Pikiranku buntu.
Lari, Bella, lari. Aku tidak sanggup mengucapkannya keras-keras.
Namun tiba-tiba dia terloncat. “Kita bakal terlambat,” ujarnya saat aku mulai khawatir —entah bagaimana—ia bisa mendengar peringatan di kepalaku.
“Aku tidak ikut pelajaran hari ini.”
“Kenapa?”
Karena aku tidak mau membunuhmu. “Sekali-kali membolos itu menyehatkan.”
Lebih tepatnya, jauh lebih baik bagi manusia jika seorang vampir membolos di hari ketika darah manusia tumpah. Hari ini Mr. Banner akan menguji golongan darah. Tadi pagi Alice sudah membolos duluan.
“Well, aku akan masuk,”
Itu tidak mengejutkan. Dia orang yang bertanggung jawab—selalu melakukan sesuatu yang benar.
Aku, kebalikannya.
“Kalau begitu sampai ketemu lagi.” jawabku sesantai mungkin sambil melihat ke bawah, ke tutup botol yang kuputar. Dan, ngomong-ngomong, aku memujamu…dalam cara yang menakutkan dan membahayakan.
Dia ragu-ragu, dan aku sempat berharap ia akan memilih untuk tetap tinggal bersamaku. Tapi bel berbunyi dan ia cepat-cepat pergi.
Kutunggu dia sampai keluar, kemudian kusimpan tutup botol tadi ke saku—sebuah kenang-kenangan dari pembicaraan yang sangat menyenangkan ini—dan berjalan menembus hujan ke mobil.
Aku menyalakan CD musik kesukaanku, Debussy—CD yang sama dengan yang kudengarkan di hari pertama itu. Tapi aku tidak mendengarkannya terlalu lama. Alunan nada yang lain mengalir di kepalaku, penggalan lagu yang menyenangkan dan menggugahku. Jadi, kumatikan CDnya dan ganti mendengarkan musik di kepalaku, memainkan penggalannya sampai berhasil mengembangkannya jadi satu harmonisasi lengkap. Secara naluri, jari-jariku menari di udara memainkan tuts-tuts piano kasat mata.
Komposisi lagunya hampir lengkap ketika aku menangkap gelombang kerisauan-batin yang mendalam.
Aku mencari sumber suaranya.
Apa dia akan pingsan? Apa yang mesti kulakukan? Mike membatin panik.
Beberapa ratus meter dari tempatku, Mike Newton meletakkan tubuh lunglai Bella ke trotoar. Dia merosot tak berdaya ke semen dingin. Matanya tertutup, kulitnya sepucat mayat.
Aku hampir menendang pintu mobilku.
“Bella?!” teriakku.
Tidak ada perubahan di wajah pucatnya saat aku meneriakkan namanya.
Sekujur tubuhku mendingin melebihi es.
Dengan marah aku menyelidiki pikiran Mike, yang terkejut sekaligus jengkel melihatku. Dan dia hanya memikirkan kemarahannya hingga aku tidak tahu apa yang terjadi pada Bella. Jika dia sampai menyakiti Bella, aku akan membinasakannya.
“Apa yang terjadi—apa dia sakit?” Aku menuntut jawaban sambil berusaha fokus pada pikiran si bocah. Rasanya menjengkelkan harus berjalan dengan langkah manusia. Harusnya tadi aku datang diam-diam.
Kemudian, aku mendengar detak jantung dan napasnya yang datar. Saat aku mendekat, dia memejamkan matanya lebih rapat. Itu meringankan kepanikanku.
Aku melihat sekelebatan ingatan di pikiran Mike, sekelumit gambaran dari kelas Biologi. Kepala Bella terkulai di meja kami berdua, kulit gadingnya berubah hijau. Setetes cairan kental merah di kertas putih…
Tes golongan darah.
Aku langsung berhenti di tempat, menahan napasku. Aromanya aku sudah biasa, tapi darah segar adalah sama sekali lain.
“Kurasa dia pingsan,” ujar Mike dengan cemas sekaligus marah. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya.”
Kelegaan langsung melandaku, aku bernapas lagi, merasakan udara disekelilingku. Ah, aku bisa mencium setitik darah dari bekas tusukan Mike Newton. Di waktu lalu, mungkin itu akan mengundang seleraku.
Aku berlutut disamping Bella sementara Mike menunggu di dekatku, marah karena campur tanganku.
“Bella. Kau bisa mendengarku?”
“Tidak,” erangnya. “Pergi sana.”
Kelegaan itu begitu luar biasa hingga aku tertawa. Dia baik-baik saja.
“Aku mau membawanya ke UKS,” sergah Mike. “Tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi.”
“Aku yang akan mengantarnya. Kau bisa kembali ke kelas,” kataku mengusirnya.
Mike menggertakan gigi. “Tidak. Aku yang seharusnya melakukannya.”
Aku malas berdebat dengan bocah satu ini.
Berdebar-debar dan takut, setengah bersyukur dan cemas, mengingat bahayanya jika menyentuh dia, dengan lembut aku mengangkat Bella dan membopongnya di lenganku. Aku menyentuh hanya bajunya, menjaga jarak tubuhnya sejauh mungkin. Aku melangkah cepat-cepat untuk menyelamatkan dia—menjauh dariku, dengan kata lain.
Matanya terbuka, bingung.
“Turunkan aku,” tuntutnya dengan suara lemah—malu, ditebak dari ekspresinya. Dia tidak suka menunjukan kelemahannya.
Aku hampir tidak mendengar protes Mike di belakangku.
“Kau tampak kacau,” kataku sambil menyeringai karena tidak ada yang salah padanya selain kepala pusing dan perut yang lemah.
“Turunkan aku,” ujarnya. Bibirnya putih.
“Jadi kau pingsan karena melihat darah?” Bisakah lebih ironis lagi?
Dia menutup mata dan mengatupkan bibirnya.
“Dan bahkan bukan darahmu sendiri,” aku menambahkan. Seringaiku makin lebar.
Kami sampai di depan TU. Pintunya sedikit terbuka. Aku membukanya dengan kaki agar bisa lewat.
Mrs. Cope terloncat kaget. “Oh, ya ampun,” dia terengah saat memeriksa gadis kelabu di tanganku ini.
“Dia pingsan di kelas biologi,” aku menerangkan, sebelum imajinasinya terlalu jauh.
Mrs. Cope buru-buru membuka pintu ke ruang UKS. Mata Bella terbuka lagi, mengawasinya. Aku mendengar pikiran takjub Mrs. Hammond, juru rawat keibuan yang ada di UKS, saat aku masuk dan membaringkan Bella ke sebuah tempat tidur yang sudah lusuh. Begitu Bella tidak lagi di tanganku, aku langsung menjauh ke tembok. Tubuhku terlalu bersemangat, terlalu berhasrat. Otot-ototku tegang. Dan liurku mengalir deras. Dia sangat hangat dan harum.
“Dia hanya sedikit lemah,” aku meyakinkan Mrs. Hammond. “Mereka sedang mengetes golongan darah di kelas Biologi.”
Dia mengangguk mengerti sekarang. “Selalu saja ada yang pingsan.”
Aku menahan tawa. Pastilah Bella yang satu itu.
“Berbaringlah sebentar, sayang.” Mrs. Hammond berkata menenangkan. “Nanti juga sembuh.”
“Aku tahu,” jawab Bella.
“Apa ini sering terjadi?” sang perawat bertanya.
“Kadang-kadang,” Bella mengakui.
Aku berusaha menyamarkan tawaku dengan batuk.
Itu mengalihkan perhatian Mrs. Hammond padaku. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang.”
Aku menatap langsung ke matanya dan berbohong dengan keyakinan sempurna. “Aku disuruh menemaninya.”
Hmmm… Apa iya… Ah sudahlah. Mrs. Hammond mengangguk.
Itu berhasil dengan baik padanya. Kenapa kalau dengan Bella jadi sulit?
“Aku akan mengambilkan kompres untukmu, sayang.” Mrs. Hammond merasa tidak nyaman setelah menatap mataku—sebagaimana manusia seharusnya—dan pergi keluar ruangan.
“Kau betul.” Bella mengerang, menutup matanya.
Yang dia maksud apa? Dan pikiranku langsung mengarah ke kesimpulan yang terburuk: dia menerima peringatanku.
“Biasanya begitu.” Aku berusaha kedengaran bangga; sepertinya tidak terlalu meyakinkan. “Tapi kali ini tentang apa?”
“Membolos itu sehat,” desahnya.
Ah, lega lagi.
Kemudian dia terdiam, hanya bernapas pelan-pelan. Bibirnya mulai berubah merah muda. Komposisi bibirnya terlihat tidak imbang, bibir bawahnya sedikit lebih penuh dibanding bibir atasnya. Dan memandangi bibirnya membuatku merasa aneh. Membuatku ingin mendekat, yang mana bukan ide yang bagus.
“Tadi kau sempat membuatku takut.” Aku coba memulai pembicaraan agar bisa mendengar suaranya lagi. “Kukira Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan.”
“Ha ha,” ucapnya tidak terhibur.
“Jujur saja—aku pernah melihat mayat dengan kondisi lebih baik.” Itu betul. “Hampir saja aku membalas pembunuhmu.” Dan aku memang hampir begitu.
“Kasihan Mike,” desahnya. “Berani taruhan dia pasti marah.”
Aku langsung berang mendengarnya, namun cepat-cepat kutahan. Kepeduliannya pasti lebih karena kasihan. Dia baik hati. Cuma itu.
“Dia sangat membenciku.” Aku senang jika Mike memang begitu.
“Kau tidak mungkin tahu pasti.”
“Aku lihat wajahnya, makanya aku tahu.” Itu mungkin ada benarnya, dengan membaca wajahnya cukup untuk menarik kesimpulan seperti itu. Segala latihan selama ini dengan Bella menajamkan kemampuanku membaca ekspresi manusia.
“Bagaimana kau bisa menemukanku? Kukira kau membolos.” Wajahnya terlihat lebih baik—warna kehijauan telah lenyap dari balik kulitnya yang bening.
“Aku sedang di dalam mobil, mendengarkan CD.”
Ekspresinya sedikit berubah, seakan entah bagaimana jawaban biasaku membuatnya terkejut.
Dia menutup matanya lagi ketika Mrs. Hammond kembali dengan membawa kompresan es.
“Pakai ini, sayang,” perawat itu menaruh kompresnya di kening Bella. “Kau kelihatan jauh lebih baik.”
“Kurasa aku baik-baik saja,” jawab Bella. Ia bangkit duduk sembari menyingkirkan kompresannya. Bukan kejutan. Dia tidak suka dapat perhatian.
Tangan keriput Mrs. Hammond menahan Bella agar kembali berbaring, tapi kemudian Mrs. Cope membuka pintu dan masuk. Bersama kedatangannya tercium juga bau darah segar, cuma bau ringan.
Di belakang Mrs. Cope, Mike Newton masih marah sekali, berharap bocah yang baru saja ia tuntun adalah gadis yang ada disini bersamaku.
“Kita kedatangan satu lagi,” ujar Mrs. Cope.
Bella buru-buru melompat turun dari tempat tidur, ingin cepat-cepat menyingkir.
“Ini,” katanya cepat, mengembalikan kompresnya ke Mrs. Hammond. “Aku tidak memerlukannya.”
Mike menggerutu saat dia setengah menyeret Lee Stevens melewati pintu. Darah masih menetes dari tangan Lee yang sedang memegangi wajahnya, menetes turun ke lengannya.
“Oh, tidak.” Ini tandaku untuk pergi—dan kelihatannya buat Bella juga. “Ayo keluar dari sini, Bella.”
Dia menatapku dengan pandangan bingung.
“Percayalah—ayo.”
Dia memutar dan menangkap pintunya sebelum tertutup, buru-buru keluar dari UKS. Aku mengikuti tepat di belakangnya. Kibasan rambutnya sempat membelai tanganku…
Dia menoleh melihatku, masih dengan mata lebarnya.
“Kau benar-benar menuruti perkataanku.” Ini yang pertama.
Hidung mungilnya mengerut. “Aku mencium bau darah.”
Aku menatapnya heran. “Manusia tidak bisa mencium darah.”
“Well, aku bisa—itulah yang membuatku mual. Baunya seperti karat…dan garam.”
Wajahku membeku, melongo.
Apa dia betul-betul manusia? Dia terlihat seperti manusia. Dia terasa lembut bagi manusia. Baunya seperti manusia—well, jauh lebih baik sebetulnya. Tingkahnya seperti manusia…kira-kira begitu. Tapi dia tidak berpikir layaknya manusia, atau bereaksi seperti itu.
Memang, apa lagi pilihannya selain manusia?
“Kenapa?” tanyanya penasaran.
“Bukan apa-apa.”
Kemudian Mike Newton datang menyela, masuk dengan pikiran marah besar.
“Kau kelihatan lebih baik,” ujarnya kasar pada Bella.
Tanganku mengejang, ingin memberinya pelajaran. Aku harus hati-hati, atau aku akan betul-betul membunuh bocah menjengkelkan ini.
“Jauhkan tanganmu,” katanya. Sesaat kupikir dia sedang bicara padaku.
“Sudah tidak berdarah lagi,” jawab Mike sambil menahan marah. “Apa kau akan kembali ke kelas?”
“Apa kau bercanda? Aku hanya akan kembali kesini lagi.”
Itu bagus sekali. Kupikir aku akan kehilangan satu jam penuh bersamanya, tapi justru dapat tambahan waktu. Aku jadi merasa tamak, orang kikir yang mendambakan setiap tambahan waktu.
“Kurasa betul…” gumam mike. “Jadi kau akan pergi pekan ini? Ke pantai?”
Ah, mereka punya rencana. Aku membeku ditempat karena marah. Tenang, itu cuma tamasya bersama. Aku sudah melihat rencana ini di pikiran murid-murid lainnya. Bukan cuma mereka berdua. Tapi aku masih juga geram. Aku menyandar ke komputer, tidak bergerak, berusaha mengendalikan diriku.
“Tentu saja, aku kan sudah bilang akan ikut,” jawabnya pada Mike.
Jadi dia berkata ya padanya juga.
Cemburu langsung membakarku, lebih menyakitkan daripada haus.
Bukan, itu cuma tamasya bersama, aku berusaha meyakinkan diriku. Dia hanya menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tidak lebih.
“Kita akan kumpul di toko ayahku jam sepuluh.” Dan si Cullen TIDAK diundang.
“Aku akan datang.”
“Kalau begitu sampai ketemu lagi di gimnasium.”
“Sampai nanti,” balasnya.
Mike berjalan ogah-ogahan kembali ke kelas. Pikirannya penuh kemarahan. Apa yang Bella lihat dari orang aneh itu? Tentu saja dia memang kaya. Menurut perempuan-perempuan dia itu keren, tapi menurutku tidak. Terlalu…terlalu sempurna. Berani taruhan ayahnya pasti melakukan eksperimen operasi plastik pada mereka semua. Itulah kenapa semuanya putih sekali dan cantik. Itu tidak wajar. Dan tatapannya agak…menakutkan. Kadang, saat dia menatapku, berani sumpah ia seperti ingin membunuhku… dasar orang aneh…
Mike tidak sepenuhnya keliru.
“Gimnasium,” Bella mengulang pelan. Mengerang.
Aku menatapnya, dan ia terlihat sedih akan sesuatu lagi. Aku tidak yakin apa penyebabnya, tapi jelas dia tidak ingin pergi ke kelas berikutnya bersama Mike. Dan aku sangat setuju pada hal itu.
Aku mendekat ke sisinya, lalu menunduk ke wajahnya, merasakan hangat kulitnya menjalar ke bibirku. Aku tidak berani untuk bernapas.
“Aku bisa mengaturnya,” bisikku pada dia. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu.”
Dia melakukan apa yang kuminta, duduk di salah satu kursi lipat dan menyandarkan badannya ke tembok, sementara, di belakangku, Mrs. Cope keluar dari dalam UKS menuju mejanya. Dengan mata yang tertutup, Bella kelihatan seperti pingsan lagi. Rona wajahnya belum kembali seperti semula.
Aku menoleh ke Mrs. Cope. Semoga Bella memperhatikan, pikirku sinis. Seperti inilah manusia semestinya bereaksi.
“Mrs. Cope?” kataku dengan menggunakan suara membujuk lagi.
Bulu matanya mengedip-ngedip tak sadar, dan jantungnya berdetak cepat. Terlalu muda, kendalikan dirimu! “Ya?”
Ini menarik. Ketika detak jantung Shelly Cope bertambah cepat, itu karena dia mendapati diriku menarik secara fisik, bukan karena takut. Aku sudah terbiasa menghadapi reaksi seperti itu dari para manusia-perempuan…tapi aku tidak pernah mempertimbangkan penjelasan itu ketika detak jantung Bella memburu.
Aku cukup suka itu. Terlalu suka, sebetulnya. Aku tersenyum, dan napas Mrs. Cope makin memburu.
“Setelah ini Bella ada pelajaran olahraga, dan sepertinya kondisinya belum pulih benar. Sebetulnya saya berpikir untuk mengantarnya pulang sekarang. Apa saya bisa minta tolong dimintakan izin buatnya?” Aku menatap kedalam matanya yang dangkal, menikmati bagaimana hal ini mengalutkan pikirannya. Jangan-jangan, mungkinkah Bella…?
Mrs. Cope harus menelan ludah dulu sebelum menjawab. “Apa kau butuh izin juga, Edward?”
“Tidak, Mrs. Goff tidak akan keberatan.”
Aku tidak terlalu memperhatikannya sekarang. Aku sedang mempertimbangkan kemungkinan terbaru ini.
Hmmm…Aku ingin percaya bahwa Bella mendapatiku menarik seperti menurut manusia lainnya, tapi kapan Bella pernah berpikiran sama seperti manusia lainnya? Aku tidak boleh terlalu berharap.
“Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Bella?”
Bella mengangguk lemah—sedikit dilebih-lebihkan.
“Apa kau bisa berjalan, atau perlu kugendong lagi?” tanyaku geli melihat aktingnya. Dia pasti lebih memilih jalan—dia tidak mau terlihat lemah.
“Aku jalan saja,” jawabnya.
Betul lagi. Aku mulai lebih baik dalam hal ini.
Dia bangkit berdiri, ragu-ragu sebentar seperti sedang mengecek keseimbangannya. Aku menahan pintu untuknya, dan kami berjalan menembus hujan.
Aku memperhatikan bagaimana dia menengadahkan wajahnya menghadap rintik-rintik hujan dengan mata tertutup, sebaris senyum di bibirnya. Apa yang sedang ia pikirkan? Tindakannya terlihat ganjil, dan aku langsung menyadari penyebabnya. Perempuan normal tidak akan menentang hujan seperti itu; mereka biasanya memakai make up, bahkan disini di kota hujan seperti Forks.
Bella tidak pernah memakai make up, dan memang sebaiknya tidak. Industri kosmetik memperoleh jutaan dolar tiap tahunnya dari para wanita yang berusaha mendapatkan kulit seperti dia.
“Terima kasih.” Dia tersenyum padaku. “Lumayan juga bisa bolos kelas olahraga.”
Aku memandang ke seberang kampus, bertanya-tanya bagaimana caranya memperpanjang waktu bersamanya. “Dengan senang hati,” jawabku.
“Jadi apa kau ikut? Maksudku, Sabtu ini?” Dia terdengar berharap.
Ah, harapannya menyenangkan. Dia ingin aku yang bersamanya, bukan Mike Newton. Dan aku ingin berkata ya. Tapi ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Salah satunya, matahari akan bersinar cerah sabtu ini…
“Sebenarnya kalian akan pergi kemana?” Aku berusaha terdengar acuh, seakan tidak terlalu berarti. Mike sempat menyebut pantai. Tidak mungkin menghindari sinar matahari disana.
“La Push, ke First Beach.”
Sial. Well, kalau begitu mustahil.
Bagaimanapun, Emmet bakal marah jika aku membatalkan rencana kami.
Aku meliriknya, tersenyum kecut. “Aku rasa aku tidak diundang.”
Dia mendesah, lebih dulu menyerah. “Aku baru saja mengundangmu.”
“Sudahlah, sebaiknya kita jangan terlalu mendesak Mike lagi minggu ini. Kita tidak ingin membuat dia marah, kan?” Aku sebetulnya memikirkan diriku sendiri yang lepas kendali pada Mike yang malang, dan sangat menikmati bayangannya.
“Mike-schmike,” katanya lagi-lagi dengan nada penolakan. Aku tersenyum lebar.
Kemudian dia berjalan menjauh.
Tanpa memikirkan tindakanku, aku menangkap belakang mantelnya. Dia tersentak berhenti.
“Memangnya kau mau pergi kemana?” Aku hampir marah karena dia meninggalkanku. Aku masih belum puas bersama dengannya. Dia tidak bisa pergi, jangan dulu.
“Pulang,” jawabnya bingung, tidak mengerti kenapa itu membuatku kesal.
“Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dengan kondisi seperti ini?” Aku tahu dia tidak akan suka itu—pandanganku yang menilai dia lemah. Tapi aku juga butuh latihan untuk perjalanan ke Seattle. Untuk melihat, apa aku sanggup menahan diri saat berdua saja dengannya di ruang tertutup. Perjalanan yang ini cukup singkat untuk latihan.
“Kondisi seperti apa?” protesnya. “Lalu trukku bagaimana?”
“Akan kuminta Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti.” Dengan hati-hati aku menariknya mundur ke mobilku. Aku mesti hati-hati karena berjalan maju saja sudah cukup sulit buatnya.
“Lepaskan!” Protesnya sambil memutar badan dan hampir tersandung. Aku mengulurkan satu tangan, tapi dia sudah berhasil menyeimbangkan diri sebelum pertolonganku dibutuhkan. Tidak seharusnya aku mencari-cari alasan untuk menyentuhnya.
Itu membuatku teringat pada reaksi Mrs. Cope, tapi aku menundanya untuk kupikirkan nanti. Ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan menyangkut soal itu.
Kulepaskan dia sesampainya di samping mobil, dan ia tersandung pintunya. Aku harusnya lebih hati-hati lagi melihat keseimbangannya yang seperti itu…
“Kau kasar sekali!”
“Pintunya tidak dikunci.”
Aku masuk ke sisi pengemudi dan menyalakan mesinnya. Dia tetap ngotot berdiri diluar meski hujan mulai deras dan aku tahu dia tidak suka dingin dan basah. Rambut tebalnya mulai basah kuyup, lebih gelap hingga nyaris hitam.
“Aku sangat mampu menyetir sendiri ke rumah!”
Tentu saja dia bisa—hanya saja aku yang tidak sanggup membiarkannya pergi.
Aku menurunkan jendela dan mencondongkan badan kearahnya. “Masuklah, Bella.”
Matanya menyipit, dan tebakanku dia sedang menimbang-nimbang apa akan lari saja atau tidak.
“Aku tinggal menyeretmu lagi,” kataku sungguh-sungguh, menikmati ekspresi tersiksa di wajahnya saat ia menyadari aku serius.
Sesaat dia berdiri kaku, tapi kemudian membuka pintu dan masuk. Air menetes-netes dari rambutnya, sepatu bootsnya mendecit basah.
“Ini benar-benar tidak perlu,” ucapnya dingin. Sepertinya ada nada malu dibalik kejengkelannya.
Aku menyalakan penghangat agar dia merasa lebih nyaman, dan menyetel musik dengan suara pelan sebagai latarnya. Aku mengemudikan mobilku keluar parkiran, sambil memperhatikan dia dari ujung mataku. Bibir bawahnya sedikit maju dengan ekspresi keras kepala. Aku memperhatikannya baik-baik, mempelajari bagaimana dampaknya pada perasaanku… mengingat kembali reaksi Mrs. Cope…
Tahu-tahu dia melihat ke arah tapeku dan tersenyum, matanya melebar. “Clair de Lune?” tanyanya.
Pecinta musik klasik? “Kau tahu Debussy?”
“Tidak terlalu,” jawabnya. “Ibuku sering menyetel musik klasik—aku cuma tahu yang kusuka.”
“Ini juga salah satu kesukaanku.” Aku memperhatikan hujan di luar, mempertimbangkan hal itu. Ternyata aku punya kesamaan dengan gadis ini. Sebelumnya aku berpikir bahwa kami berdua bertolak belakang dalam segala hal.
Dia terlihat lebih santai, memperhatikan hujan diluar sepertiku. Aku menggunakan kesempatan ini untuk bereksperimen dengan bernapas.
Aku menarik napas hati-hati lewat hidung.
Pekat.
Kucengkram roda kemudi lebih kencang. Hujan membuat aromanya lebih harum. Aku tidak pernah berpikir bisa seperti itu. Sial, tiba-tiba jadi membayangkan bagaimana rasanya.
Aku berusaha menelan rasa terbakar di tenggorokanku, memikirkan hal lain.
“Ibumu seperti apa?” Aku bertanya untuk mengalihkan perhatian.
Bella tersenyum. “Dia sangat mirip denganku, tapi lebih cantik.”
Aku ragu itu.
“Terlalu banyak Charlie dalam diriku,” dia melanjutkan. “Ibuku punya sifat lebih terbuka, dan lebih berani.”
Aku juga ragu itu.
“Dia tidak terlalu bertanggung jawab dan agak eksentrik, dan dia juru masak yang sangat payah. Dia teman baikku.” Suaranya berubah sayu; keningnya mengerut.
Lagi, dia terdengar lebih seperti orangtua ketimbang anak.
Aku berhenti di depan rumahnya, terlambat untuk khawatir darimana aku bisa tahu rumahnya. Tidak, ini tidak akan terlalu mencurigakan di kota kecil seperti ini, apalagi dengan ayahnya yang kepala polisi…
“Berapa umurmu, Bella?” Dia pasti lebih tua dari penampilannya. Mungkin dia terlambat masuk sekolah, atau pernah tinggal kelas…kalau itu sepertinya tidak.
“Tujuh belas.”
“Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.”
Dia tertawa.
“Kenapa?”
“Ibuku selalu bilang aku terlahir dengan umur 35 tahun dan makin mendekati paruh baya tiap tahunnya.” Dia tertawa lagi, dan mendesah. “Well, harus ada yang menjadi orang dewasanya.”
Itu menjelaskan beberapa hal. Aku bisa melihatnya sekarang…bagaimana seorang ibu yang tidak terlalu bertanggung jawab menjelaskan kedewasaannya Bella. Dia harus dewasa lebih cepat, untuk menjadi pengawas. Itulah kenapa dia tidak suka diurus—dia merasa itu tugasnya.
“Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA,” katanya, membuyarkan lamunanku.
Aku menyeringai. Dari segala yang kutangkap tentang dia, dia menangkap lebih banyak tentang diriku. Aku buru-buru mengganti topik.
“Jadi kenapa ibumu menikah dengan Phil?”
Dia ragu sejenak sebelum menjawab. “Ibuku…dia sangat muda untuk umurnya. Kurasa Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. Dalam beberapa hal, ibuku tergila-gila padanya.” Dia menggeleng dengan tatapan senyum.
“Apa kau setuju?”
“Apa itu penting? Aku ingin dia bahagia…dan Phil lah yang ia mau.”
Ketidakegoisan tanggapannya mungkin akan mengejutkan aku, kecuali bahwa hal itu sangat cocok dengan kepribadiannya yang telah kupelajari.
“Kau baik sekali…aku jadi berpikir…”
“Apa?”
“Apa dia juga akan bersikap sama denganmu? Tidak peduli siapapun pilihanmu?”
Itu pertanyaan konyol, dan aku tidak bisa membuat suaraku tetap santai saat menanyakannya. Sungguh bodoh mempertimbangkan ada orang tua yang akan merestui anaknya denganku. Lebih bodoh lagi berpikir bahwa Bella mau memilihku.
“Aku…aku rasa begitu,” jawabnya terbata-bata, mungkin karena tatapanku. Takut… Atau tertarik?
“Tapi dialah yang jadi orang tua. Jadi agak beda,” lanjutnya.
Aku tersenyum kecut. “Berarti dilarang jika orangnya terlalu menyeramkan.”
Dia menyeringai padaku. “Apa maksudmu menyeramkan? Banyak tindikan di wajah dan tato di sekujur badan?”
“Kurasa itu salah satu definisinya.” Definisi yang jauh dari mengerikan kalau buatku.
“Lantas apa definisimu?”
Dia selalu menanyakan pertanyaan yang keliru. Atau lebih bisa dibilang pertanyaan yang tepat. Sesuatu yang tidak ingin kujawab, dalam kondisi apapun.
“Menurutmu apa aku bisa menyeramkan?” tanyaku padanya sambil berusaha tersenyum.
Dia mempertimbangkan dulu sebelum menjawabnya dengan nada serius. “Hmmm…kupikir kau bisa, kalau mau.”
Aku juga serius. “Apa sekarang kau takut padaku?”
Dia langsung menjawab, kali ini tanpa dipikir. “Tidak.”
Aku jadi lebih mudah tersenyum. Aku tidak berpikir dia sepenuhnya jujur, tapi dia juga tidak sepenuhnya bohong. Paling tidak dia tidak terlalu takut hingga ingin pergi. Aku bertanya-tanya bagaimana perasaannya jika kuberitahu bahwa dia sedang bicara dengan seorang vampir. Aku buru-buru membuang bayangan itu.
“Jadi, apakah sekarang kau mau cerita tentang keluargamu? Pasti jauh lebih menarik daripada ceritaku.”
Lebih menakutkan, paling tidak.
“Apa yang ingin kau ketahui?” Aku bertanya waspada.
“Keluarga Cullen mengadopsimu?”
“Ya.”
Dia bimbang sebentar, kemudian bicara dengan suara pelan. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?”
Ini tidak terlalu sulit; bahkan aku tidak perlu berbohong. “Mereka sudah lama meninggal.”
“Oh, maaf,” gumamnya, jelas khawatir telah melukaiku.
Dia mengkhawatirkan aku.
“Aku tidak terlalu ingat mereka,” aku meyakinkannya. “Sejak lama Carlisle dan Esme sudah jadi orangtuaku.”
“Dan kau menyayangi mereka?”
Aku tersenyum. “Ya. Aku tidak bisa membayangkan dua orang yang lebih baik.”
“Kau sangat beruntung.”
“Aku tahu.” Dalam kondisi itu, soal orangtuaku, keberuntunganku tidak bisa diingkari.
“Dan saudara-saudaramu?”
Jika aku membiarkannya bertanya lebih jauh, aku terpaksa berbohong. Aku melirik ke jam, kecewa karena waktuku dengan dia hampir habis.
“Saudara-saudaraku, Jasper dan Rosalie, akan kesal jika harus berdiri di tengah hujan menungguku.”
“Oh, iya, sori, sepertinya kau harus pergi.”
Dia tidak bergerak. Dia tidak ingin cepat-cepat berakhir juga. Aku sangat, sangat suka itu.
“Dan kau mungkin juga ingin trukmu kembali sebelum ayahmu pulang, jadi kau tidak perlu cerita tentang insiden di kelas biologi tadi.” Aku menyeringai teringat bagaimana dia merasa malu tadi dalam gendonganku.
“Aku yakin dia sudah dengar. Tidak ada rahasia di Forks.” Dia menyebut nama kota Forks dengan nada sebal yang kentara.
Aku tertawa mendengar ungkapannya. Tidak ada rahasia, tentu saja. “Selamat bersenang-senang di pantai.” Aku melihat ke hujan yang turun deras, tahu cuaca seperti ini tidak akan berlangsung lama, dan beraharap—lebih dari biasanya—bahwa cuaca akan seperti ini terus. “Cuacanya bagus untuk berjemur.” Paling tidak akan begitu pada hari Sabtu. Dia akan menikmati itu.
“Apa aku akan bertemu denganmu besok?”
Perasaan khawatir di nadanya membuatku senang.
“Tidak. Emmet dan aku memulai akhir pekan lebih awal.” Sekarang aku marah pada diriku sendiri karena telah membuat rencana itu. Aku bisa membatalkannya…tapi dengan kondisi seperti ini, tidak ada lagi istilah terlalu banyak berburu. Dan keluargaku sudah cukup khawatir dengan tingkahku tanpa perlu kutunjukan betapa terobsesinya aku sekarang.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya, kedengarannya tidak terlalu senang dengan rencanaku.
Itu juga bagus.
“Kami mau hiking ke Goat Rocks Wilderness, sebelah selatan Rainier.” Emmet sangat bernafsu dengan musim beruang.
“Oh. Kalau begitu selamat besenang-senang.” Dia mengatakannya setengah hati. Ketidak semangatannya lagi-lagi membuatku senang.
Saat memandangnya, aku merasa menderita pada pikiran akan berpisah dengannya walau hanya untuk sebentar. Dia terlalu lembut dan rapuh. Rasanya terlalu ceroboh untuk melepasnya dari pengawasanku. Apapun bisa terjadi padanya. Dan tetap saja, hal yang paling buruk yang mungkin terjadi, adalah hal yang diakibatkan jika bersama denganku.
“Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” tanyaku serius.
Dia mengangguk, matanya melebar dan bertanya-tanya pada kesungguhanku.
Buat tetap santai.
“Jangan tersinggung, tapi kau sepertinya tipe orang yang menarik bahaya seperti magnet. Jadi…cobalah untuk tidak jatuh ke laut atau terlindas apapun, oke?”
Aku tersenyum sebentar, berharap dia tidak melihat kesedihan di mataku. Kuharap keadaan dia jauh lebih baik saat jauh dariku, tidak peduli apa yang akan terjadi padanya disana.
Lari, Bella, lari. Aku terlalu mencintaimu, demi kebaikanmu dan aku.
Dia tersinggung dengan ucapanku. “Akan kuusahakan,” ucapnya ketus sambil mendelik marah kemudian meloncat keluar kebawah guyuran hujan dan membanting pintunya keras-keras.
Mirip kucing marah yang berpikir dirinya adalah seekor macan.
Aku membuka telapak tanganku, melirik kunci yang ada di genggamanku, yang baru saja kuambil dari kantong jaketnya, kemudian sambil tersenyum melihat dia berjalan menjauh.
